
Komparatif.ID, Tokyo–Fenomena butsukari otoko menyingkap tabir lain, di balik cerita orang Jepang yang dikenal sopan. Stress akibat tekanan pekerjaan, menjadi penyebab munculnya kebiasaan menabrakkan bahu ke orang yang lebih lemah.
Baru-baru ini seorang Youtuber asal Korea Selatan, berhasil menggertak seorang warga Jepang pelaku butsukari otoko terhadap orang lain di sebuah stasiun di Osaka, Jepang.
Pria Jepang bertubuh kecil tersebut sembari berjalan, selalu menabrakkan bahunya kepada pengguna jalan lain. Target umumnya perempuan, karena dianggap pasti tidak akan melawan.
Melihat kejahilan tersebut, sang Youtuber langsung mengejar dan menghentikannya.
“Kenapa kamu sengaja menabrak orang?” sang Yotuber bertanya.
Pria Jepang tersebut hanya menjawab, “sorry” sambil terus melangkah cepat.
Ruang publik dan stasiun kereta api di kota-kota besar Jepang kini tengah menghadapi gelombang keresahan sosial akibat maraknya fenomena butsukari otoko atau “pria penabrak”.
Istilah ini merujuk pada tindakan individu yang secara sengaja menabrakkan tubuh atau bahu mereka ke pejalan kaki lain di area yang padat. Meski sekilas terlihat seperti insiden salah senggol yang tidak disengaja di tengah keramaian, aksi ini merupakan tindakan agresi terselubung yang kian meresahkan masyarakat lokal maupun wisatawan asing.
Berdasarkan laporan investigasi dari The Japan Times, insiden ini paling sering terjadi pada jam sibuk di stasiun kereta utama Tokyo seperti Shinjuku dan Shibuya. Pelaku umumnya berjalan lurus dengan kecepatan konstan tanpa niat mengalah, mengeraskan bahu mereka, lalu menghantam korban yang melintas di depannya.
Setelah menabrak, pelaku langsung melenggang pergi memanfaatkan kerumunan massa untuk menghilangkan jejak.
Data dari survei berskala nasional yang dirilis oleh lembaga konsultan IT MediaSeek menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar isu minor. Dari total 21.758 pengguna aplikasi seluler yang disurvei, sebanyak 14 persen responden mengaku pernah menjadi korban langsung dari aksi butsukari otoko.
Sementara itu, sekitar 6 persen lainnya menyatakan pernah menyaksikan langsung insiden penabrakan tersebut di ruang publik.
Faktor Pemicu Butsukari Otoko
Mengapa tren berbahaya ini terus berulang? Para sosiolog dan pakar perilaku di Jepang menunjuk kombinasi beberapa faktor psikologis dan struktural yang akut. Laporan mendalam dari The Guardian menyoroti bahwa faktor utama di balik aksi ini adalah tingkat stres yang tinggi akibat tekanan hidup modern serta dinamika gender yang timpang.
Banyak pelaku merupakan pria paruh baya yang melampiaskan rasa frustrasi, kekecewaan hidup, atau tumpukan stres kerja mereka kepada orang asing. Ruang publik yang padat memberikan anonimitas yang aman bagi pelaku untuk melepaskan kemarahan terpendam mereka tanpa takut langsung diadili.
Selain masalah tekanan mental, elemen intimidasi gender sangat kental dalam fenomena ini. Mayoritas pelaku secara spesifik mengincar target yang dianggap lebih lemah dan kecil kemungkinan untuk melawan balik.
Korban utama dari butsukari otoko adalah perempuan bertubuh kecil, ibu yang membawa kereta bayi, lansia, hingga turis asing yang tampak kebingungan di jalan. Pelaku sering kali merasa “memiliki hak jalan” yang lebih tinggi dan menggunakan kekuatan fisik untuk menegaskan dominasi mereka.
Pergeseran Tren dan Pengawasan Ketat
Meskipun dinamakan butsukari otoko (pria penabrak), sebuah laporan dari Japan Today mencatat adanya pergeseran dalam beberapa insiden terakhir. Sebuah video viral memperlihatkan seorang wanita bermasker dengan sengaja mendorong anak perempuan turis hingga terjatuh di penyeberangan Shibuya.
Insiden tersebut melahirkan istilah baru di jagat maya, yaitu butsukari obasan atau “wanita paruh baya penabrak,” yang membuktikan bahwa motif pemuasan kontrol dan pelepasan stres ini dapat melintasi batas gender pelaku.
Baca: Mulai 24 April, Jepang Larang Power Bank di Pesawat Terbang
Menanggapi situasi yang kian tidak kondusif, otoritas transportasi Jepang seperti East Japan Railway Company (JR East) mulai memperketat pengawasan di titik-titik rawan. JR East mengategorikan tindakan ini sebagai perilaku gangguan publik yang serius. Mereka telah menambah personel keamanan, mengoptimalkan kamera CCTV di area tangga dan peron stasiun, serta memasang pembatas jalan khusus untuk mengurai kepadatan komuter.
Pihak kepolisian juga menegaskan bahwa pelaku yang terbukti sengaja menabrak pejalan kaki dapat dijerat pasal penyerangan (assault) atau kekerasan fisik dengan ancaman pidana langsung. Publik dan pelancong diimbau untuk selalu waspada, menegakkan pandangan, serta tidak terpaku pada layar ponsel saat berjalan di area sibuk demi menghindari target operandi para penabrak misterius ini.












