Ada kopi ada cerita, lain kopi lain cerita, tak ada kopi tak usah banyak cerita, ayo ngopi kita bercerita, banyak ngopi banyak kali cerita kau
Syair itu menyenangkan. Seluruh pengunjung bersama-sama menyanyikannya pada Puitika Kopi di Kedai Kopi Cut Ayah, Pango, Banda Aceh, pada Jumat malam, 10 Juli 2026. “Itu lagu kebangsaan Rangkaian Bunga Kopi karya Yoppi Smong, aku tambahkan satu kalimat,” kata seniman Fikar W Eda Fikar yang memandu acara itu pada Sabtu (11/7/2026).
Lagu itulah yang menjadi simpul Puitika Kopi mengalir tanpa basa-basi. Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M Nasir Syamaun yang memenuhi undangan ikut larut dalam suasana khitmat pembacaan puisi. Ia menolak memberi sambutan. “Tak ada yang mau dengar seremonial, nanti pembacaan puisi malah jadi acara basi,” katanya.
Itulah sebabnya, panitia mendapuk Nasir ke panggung baca puisi. Jangan mengira ini panggung berdekorasi khusus. Hanya beberapa meja saja digeser untuk memberi ruang. Sedangkan tumpukan kayu bakar di depan dapur kopi di sebelah kiri panggung, aslinya memang begitu.
Di antara tumpukan kayu bakar di bawah atap rumbia dan pengunjung berlalu lalang memesan kopi itulah Sekda Nasir berdiri memegang mikrofon. Ia bilang, puisi yang akan dibacanya itu buatan mesin AI. “Saya minta pada IA agar dibuatkan puisi tentang pejuang. Maka dibuatkannya,” kata Nasir.
Sebetulnya, cerita Nasir di panggung itu lebih menarik perhatian pengunjung daripada puisi buatan AI itu sendiri. “Saya takut baca puisi. Terakhir saya baca puisi tahun 1995 di Balai Gading, Yogyakarta,” katanya. Nasir menyelesaikan S1 di Universitas Widya Mataram dan S2 di Universitas Gajah Mada di Yogyakarta.
Nasir melanjutkan ceritanya. “Saya bersedia membaca puisi waktu itu, karena tertarik pada seorang gadis. Saya membeli buku puisi dan bunga. Namun, gadis itu menolak saya. Maka saya gagal membaca puisi,” katanya.
Meledaklah tawa pengunjung, apalagi di antara pengunjung itu ada Malahayati yang tak lain adalah istri Nasir. “Ini cerita lama ya Ma (panggilan sayang Nasir pada istrinya),” kata Nasir sambil melirik istrinya. “Oh ya, saya gagal di Yogya, dan mendapatkan Bu Mala (Malahayati),” kata Nasir yang kembali disambut gelak tawa.
Baca juga: Bangladesh Ingin Impor Kopi, Rempah & Migas Aceh
Gaya santai Nasir inilah yang menghidupkan suasana pembacaan puisi. Setelah Nasir membacakan puisinya, tampillah seniman-seniman ternama Aceh membaca puisinya. Bahkan Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal pun datang ke acara sebagai pembaca puisi.
Seperti syair lagu tadi di atas, bahwa banyak ngopi semakin banyak cerita. Maka pada malam itu, beragam cerita mengalir dari aneka karya puisi dari bergelas-gelas kopi para seniman Aceh. Puisi-puisi itu melukiskan kegelisahan dan kenangan masa lalu para seniman, tentu ada juga yang jenaka dan satir.
Kegelisahan itu berawal dari puisi puisi yang dibacakan Herman RN. Akademisi bergelar doktor ini membaca puisinya yang meriwayatkan cinta rakyat Gayo kepada negara Indonesia yang berbalas kekecewaan.
Pembaca puisi termuda pada malam itu, Fathya Ruziqna, juga menyuarakan kerisauannya. Puisi mahasiswi Universitas Syiah Kuala ini bercerita tentang alam yang dirusak hingga datanglah bencana banjir menggulung pemukiman, sawah, dan ladang. Dari segelas kopi, datang bergelas-gelas air mata.
Kegelisahan Fathya bersambut dalam puisi Jamal Syarif. Seniman ini juga melukiskan perambahan hutan yang mendatangkan bencana. “Manusia menjadi korban yang diciptakan sendiri. Kopi belum sempat diminum habis, kedainya sudah digulung bencana.”
Segelas kopi belum habis, ketika puisi mengalir sampai ke segelas kopi untuk proyek yang dibacakan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthala Muddin. Puisi Murthala seolah bersambut dengan lagu karya Nazar Apache dan Mai Munzir yang berjudul “Poh Bandet” yang malam itu dinyanyikan Mai Munzir.
“Bandet kota ubee raya mbong (bandit kota sangat sombong), bandet gampong peudeuh gaya (bandit kampung banyak gaya), bandet pasai reman meuhamboo (bandit pasar laksana preman), bandet kanto yang cok laba (bandit kantoran yang ambil untung)”.
Lalu ada pengusaha Alwin Abdullah dengan puisinya yang berjudul “Benarkah”. Dibacakan Apa Kaoy, puisi Alwin menggugat kebenaran manusia yang saling membenci dan saling bertikai. “Benarkah itu manusia, sebab manusia dilahirkan bukan untuk saling membenci.”
Segelas kopi tak hanya melahirkan syair kegelisahan. Ia juga melukiskan kenangan cinta seorang anak kepada ibunya melalui kenangan segelas sanger dan sedotan plastik biru dari Devi Matahari. Nah, ada Wina SW1, puisinya menggugat segelas yang menjadi simbol macho. “Kopi bukan milik lelaki, juga bukan milik Perempuan.”
Lalu ada Fauzan Santa. Monolog Kopi yang dibawakannya dengan indah dan jenaka menceritakan tentang Teuku Umar yang berdialog dengan Cut Nyak Dhien untuk secangkir kopi. Kisah perjuangan Pahlawan Aceh Teuku Umar ini memang lekat dengan cerita secangkir kopi terakhirnya.
Tak terasa, malam semakin larut ketika segelas kopi mengalir sampai ke konsep-konsep pengembangan sumber daya manusia sebagaimana tergambar dalam puisi Kepala BPSDM, Dr. Marthunis. “Seperti meracik kopi berkualitas tinggi.”
Bergelas-gelas kopi itu tak hanya menghasilkan kegelisahan dan cinta maupun rindu, namun juga melahirkan puisi yang menghitung segelas kopi dalam rupiah. Itulah puisi Sembilan Kata karya Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga, T. Banta Nuzullah. “Dari secangkir kopi itu, ada Rp15,6 miliar setiap hari, Rp468 miliar per bulan, dan Rp5,6 triliun dalam setahun.”
Segelas kopi telah habis, maka cerita dalam tulisan ini juga selesai. Beberapa seniman menyatakan terimakasihnya kepada Nasir yang hadir sebagai diri sendiri dan bebas dari segala protokoler. Sebelum meninggalkan tempat, Sekda Nasir mengatakan terkesan dengan acara Puitika Kopi.
“Menurut saya, kita perlu sering bergaul dengan seniman dan mendengarkan puisi agar kita dapat membuka ruang hati. Saya senang bisa bersama seniman,” katanya.
Penulis: Dr. Nurlis Effendi, Juru Bicara Pemerintah Aceh.













