Home Khazanah Burung Gagak, Guru Pertama Manusia untuk Penguburan Jenazah

Burung Gagak, Guru Pertama Manusia untuk Penguburan Jenazah

Burung Gagak, Guru Pertama Manusia untuk Penguburan Jenazah
Ilustrasi. Foto: HO for Komparatif.ID.

Burung gagak yang sering diasosiasikan dengan sesuatu yang berbau mistis dan sial, ternyata merupakan guru pertama manusia untuk menguburkan jenazah. Kok bisa?

Masih ingatkah Komparian (pembaca Komparatif.id) tentang peristiwa perseteruan Habil dan Qabil –putra Nabi Adam– yang berujung pada kematian Habil?

Kisah tersebut terpatri di dalam Alquran surah Al Maidah.

Qabil merupakan anak tertua dari pasangan Nabi Adam dan Hawa. Ia lahir kembar dengan Iklima, yang kelak menjelma menjadi wanita rupawan. Sedangkan Habil lahir sesudahnya, dan ia memiliki saudara kembar bernama Labuda.

Mereka tumbuh bersama hingga dewasa. Karena Adam dan Hawa merupakan manusia permulaan di dunia, atas perintah Allah, anak-anak mereka harus dinikahkan secara silang. Qabil dengan Labuda, dan Habil dengan Iklima.

Di masa itu, sebuah hadis yang diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib menyebutkan bahwa perkawinan silang dilakukan dengan menikahkan anak laki-laki dari kehamilan yang lebih awal dengan anak perempuan pada kehamilan berikutnya.

Kondisi ini juga berlaku sebaliknya.Anak kembar pertama dinikahkan dengan anak kembar kedua. Berikutnya, anak kembar ketiga dikawinkan dengan anak kembar keempat.

Ketetapan ini berlaku seterusnya untuk anak kembar berikutnya. Demikianlah syariat di masa itu.

Qabil protes. Dia tidak terima karena Labuda tidak terlalu menarik. Iklima yang menjadi kembaran Qabil merupakan perempuan yang sangat cantik.

Qabil pun protes keras. Ia tetap menolak hingga akhirnya Allah memberi petunjuk kepada Nabi Adam.

Qabil dan Habil diperintahkan berkurban kepada Allah. Tujuannya memohon keputusan Allah. Siapapun kurbannya yang diterima, dialah yang boleh menikahi Iklima.

Setelah keputusan berkurban dibuat, Nabi adam menunaikan Haji. Qabil dan Habil menjaga adik-adiknya serta menyiapkan kurban di atas puncak gunung.

Baca juga: Tragedi di NTT Cermin Kegagalan Kolektif

Qabil yang acuh tak acuh, menaruh seikat gandum yang tidak begitu bagus. Sedangkan Habil mempersembahkan seekor kambing yang sehat dan gemuk.

Keputusan pun dibuat. Allah menerima kurban Habil. Sekelebat petir menjemput kambing. Sedangkan gandum tetap utuh di tempatnya.

Peristiwa itu menambah kemarahan Qabil. Ia pun bersumpah akan menghabisi adiknya. Sedangkan Habil berkomitmen, dalam kondisi apa pun, ia tidak akan menghabisi kakaknya.

Dan……! Peristiwa itupun terjadi. Qabil menghabisi Habil. Dan setelah nyawa

Habil melayang, ia kebingungan harus berbuat apa.

Karena kematian itu merupakan yang pertama kali terjadi di dunia, Qabil kebingungan. Berhari-hari ia menggotong jenazah adiknya, tanpa tahu harus berbuat apa.

Hingga kemudian muncullah dua ekor gagak. Burung itu berkelahi di dekat Qabil. Ketika satu ekor burung gagak kalah dan mati, burung gagak yang hidup menggali tanah menggunakan paruhnya. Bangkai seterunya diseret ke dalam galian dan kemudian ditimbun.

Qabil terinspirasi, dan kemudian melakukan hal yang sama. Ia menggali tanah dan mengubur jenazah Habil.

Komparian, mengapa Allah memilih burung gagak? Harusnya kan yang dikirim malaikat.

Secara ilmiah, burung gagak merupakan burung pemakan bangkai (scavenger). Burung itu seharusnya memakan daging seterunya yang telah mati. Tapi mengapa justru dikubur?

Para ahli menyebutkan bahwa burung gagak merupakan feathered apes alias primata bersayap. Sebutan tersebut dilekatkan karena kecerdasan gagak setara simpanse.

Gagak mampu menggunakan alat bantu, mampu mengingat wajah manusia–makanya ia bisa balas dendam– dan mampu memecahkan masalah logika alias menyusun puzzle.

Setiap ada gagak yang mati, teman-teman gagak akan berkumpul mengelilinginya sembari mengeluarkan suara berisik –semacam pernyataan duka. Melindungi bangkai dari gangguan binatang lain. Kemudian membuat kamuflase supaya bangkai sohibnya aman.

Bagi manusia, burung gagak merupakan guru pertama dalam prosesi Penguburan. Boleh dikatakan, gagak adalah dosen terbang. Di balik sayap hitamnya, di balik suaranya yang serak, gagak telah memberikan pelajaran teramat penting bagi Qabil, pembunuh pertama di muka bumi dari golongan manusia.

Previous article2 Bulan Pascabanjir, Puluhan Siswa SD Negeri 2 Lokop Masih Belajar di Tenda Darurat
Next articleAceh Ajukan Rp153 Triliun Untuk Pemulihan Pascabencana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here