
Komparatif.ID, Banda Aceh— Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama PT Pema Global Energi (PGE) terus memacu percepatan penyelesaian proyek optimalisasi Lapangan Arun melalui Aceh Production Operation–Optimization & Revamping Project (APO ORP).
Optimalisasi dilakukan sebagai bagian dari upaya peremajaan fasilitas produksi yang telah beroperasi melampaui usia desainnya. Sejumlah unit pengolahan lama digantikan dengan fasilitas baru yang dinilai lebih andal, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan operasi saat ini.
Kepala BPMA, Nasri, menyampaikan perkembangan proyek ini akan memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan lifting migas di Aceh. Selain itu, proyek ini juga dinilai berperan dalam memperkuat ketahanan energi, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Menurut Nasri, proyek optimalisasi Lapangan Arun menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan operasi hulu migas di Wilayah Kerja B.
Ia juga menyebut bahwa penguatan infrastruktur produksi melalui proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak berkelanjutan terhadap peningkatan penerimaan negara dari sektor migas.
“Perkembangan proyek ini akan memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan lifting migas di Aceh, sekaligus memperkuat ketahanan energi daerah dan nasional. Proyek ini menjadi tonggak penting dalam menjaga keberlanjutan operasi, mengoptimalkan produksi, serta memperkuat ketahanan infrastruktur hulu migas di Wilayah Kerja B,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Pembaruan difokuskan pada beberapa fasilitas utama, antara lain Gas Compressor, Gas Processing Facility (GPF), dan pembangkit listrik atau Power Plant.
Baca juga: Kepala BPMA Sebut Blok Andaman I Dilirik Perusahaan Migas Jepang
Kepala Divisi Perawatan Fasilitas dan Pengendalian Proyek BPMA, Helmi, menyampaikan progres pembangunan GPF dengan kapasitas 60 MMSCFD hingga saat ini telah mencapai sekitar 70 persen.
Ia menjelaskan target operasi (on-stream) fasilitas tersebut direncanakan pada Agustus 2026. Aktivitas konstruksi masih berlangsung, dengan sebagian besar peralatan utama telah selesai difabrikasi dan dipasang di lokasi proyek.
Sementara itu, fasilitas Gas Compressor masih berada pada tahap fabrikasi dan dijadwalkan akan dikirim ke lokasi pada Mei 2026.
Setelah mulai beroperasi, GPF diharapkan menjadi penopang utama produksi migas di Wilayah Kerja B. Fasilitas ini dirancang untuk meningkatkan keandalan operasional sekaligus mendorong efisiensi produksi.
Keberadaan fasilitas baru tersebut diproyeksi akan meningkatkan penjualan gas sebesar 12 MMSCFD dari kondisi eksisting. Selain itu, produksi kondensat juga diperkirakan meningkat sekitar 300 barel per hari, dari sebelumnya 1.000 BPD menjadi 1.300 BPD.












