Komparatif.ID, Banda Aceh– Di tengah Gampong Pande, Kota Banda Aceh, terdapat sebuah kompleks pemakaman tua yang selama puluhan tahun dikenal warga sebagai Makam Putroe Ijo. Kompleks makam ini kini ditetapkan sebagai cagar budaya dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan Banda Aceh.
Kompleks makam ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Wali Kota Banda Aceh melalui Surat Keputusan Nomor 643 Tahun 2019. Di dalamnya terdapat banyak nisan tua yang diperkirakan berasal dari abad ke-16, sebagian sudah tidak utuh.
Batu nisan yang rusak parah akibat gempa dan tsunami 2004 telah direposisi pada 2013. Di bagian luar pekarangan, sebuah monumen dan papan tulisan menandai kawasan ini sebagai Kompleks Makam Putroe Ijo atau Putri Hijau, yang diperkirakan merupakan tempat peristirahatan terakhir seorang putri Sultan Kesultanan Aceh Darussalam.
Dalam Hikayat Pocut Muhammad, Putroe Ijo digambarkan sebagai keturunan Raja Peulanggahan yang juga bagian dari keturunan Sultan Aceh. Ia dikisahkan sebagai gadis jelita yang taat beribadah, rajin mengikuti pengajian di istana, serta menguasai ilmu peperangan di laut maupun darat yang diajarkan petinggi militer kerajaan.
Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), Mizuar Mahdi, menyebut kisah Putri Hijau belum memiliki dokumen autentik dan hanya hidup dalam hikayat atau legenda.
Menurut hasil bacaannya, tidak ada nisan di kompleks tersebut yang menyebut nama Putroe Ijo. Makamnya sudah ada sejak abad ke-16, sementara penamaan Putroe Ijo baru muncul sekitar 1970 hingga 1980.
Ia juga merujuk pada peta buatan Belanda akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang menyebut kawasan itu sebagai kompleks kandang raja, bukan Putroe Ijo.
Pandangan berbeda datang dari sejarawan Universitas Syiah Kuala, Husaini Ibrahim. Ia meyakini sosok Putri Hijau adalah fakta sejarah, meski bukti ilmiahnya belum lengkap.
Baca juga: Masjid Teungku di Anjong, Saksi Perjalanan Islam di Aceh yang Bertahan dari Tsunami
Berdasarkan silsilah dalam buku Tarikh Aceh dan Nusantara halaman 576, Putri Hijau adalah anak Raja Putri yang menikah dengan Sultan Mansyur Syah bin S. Ahmad Perak, dari garis keturunan Sultan Alauddin Riayat Syah atau Saidil Mukammil.
Putri Hijau kemudian menikah dengan Raja Umar Abdul Jalil dari Johor dan melahirkan keturunan bernama Radja Hasjim. Silsilah itu, kata Husaini, juga bertaut dengan Sultan Iskandar Muda. Raja Putri dan Puteri Diraja Indra Ratna Wangsa adalah kakak beradik, sehingga Putri Hijau dan Sultan Iskandar Muda merupakan sepupu.
Husaini mengakui cerita Putri Hijau memiliki banyak versi, hal yang menurutnya lazim dalam sejarah. Ia mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam memilah fakta dan mitos, namun menilai legenda juga ikut membesarkan sebuah sejarah.
Kisah Putri Hijau memang lebih populer di Sumatera Utara dan Tanah Karo. Di sana, ia dikaitkan dengan Meriam Puntung di kompleks Istana Maimun, Medan, yang dipercaya sebagai penjelmaan adiknya dari Kerajaan Haru.
Dalam salah satu versi, Putri Hijau diselamatkan sang kakak yang berubah menjadi ular besar dan menghilang ke laut di sekitar Pulau Berhala. Versi lain menceritakan ia sempat ditawan dalam peti kaca untuk dibawa ke Aceh, sebelum angin kencang dan gelombang tinggi menyelamatkannya di perairan Ujung Jambo Aye, Aceh Utara.
Terlepas dari perbedaan versi, kehadiran kompleks ini memberi nilai tambah bagi wisata sejarah Banda Aceh. Pengunjung dapat melihat langsung nisan-nisan abad ke-16, memahami bagaimana kawasan Gampong Pande menyimpan jejak masa kesultanan, sekaligus mengenal cara sejarawan menimbang antara hikayat dan bukti tertulis.
Kawasan ini juga dapat menjadi pelengkap bagi wisatawan yang lebih dulu mengunjungi situs-situs sejarah lain di Banda Aceh.




