Komparatif.ID, Banda Aceh– Atap bertingkat tiga, dinding putih, serta pintu dan jendela berwarna hijau menjadi ciri khas Masjid Teungku di Anjong di Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh.
Bangunan tanpa kubah ini menyimpan jejak panjang perkembangan Islam di Aceh, sejak menjadi pusat pendidikan agama pada abad ke-18 hingga bertahan setelah diterjang tsunami pada 26 Desember 2004.
Masjid ini berkaitan erat dengan perjalanan Habib Abubakar bin Husen Bilfaqih, ulama asal Hadramaut, Yaman, yang dikenal masyarakat Aceh dengan sebutan Teungku di Anjong.
Selain menjadi tempat ibadah, kompleks masjid tersebut pernah berfungsi sebagai dayah atau pesantren, tempat pelaksanaan manasik haji bagi calon jemaah dari berbagai wilayah, serta basis pertahanan rakyat Aceh ketika menghadapi Belanda.
Kini, masjid yang telah dibangun kembali setelah tsunami itu tetap digunakan untuk beribadah dan menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan. Sejumlah tradisi yang berkaitan dengan penghormatan terhadap Teungku di Anjong masih dijalankan oleh masyarakat setempat.
Dari Hadramaut ke Peulanggahan
Perjalanan Masjid Teungku di Anjong bermula dari kedatangan Habib Abubakar ke Aceh. Ia disebut tiba di wilayah ini pada 1642 Masehi untuk menyebarkan agama Islam ke Asia Tenggara. Namun, ia baru menetap di Aceh pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Mahmud Syah, yang dalam catatan sejarah setempat dikaitkan dengan periode 1760–1781.
Menurut Fahmi, salah seorang penjaga makam Teungku di Anjong, kedatangan Habib Abubakar ke Aceh berkaitan dengan isyarah atau mimpi yang diyakini sebagai perintah Rasulullah untuk menyebarkan Islam.
“Kedatangan beliau ini ke Aceh merupakan perintah langsung dari Rasulullah yang disampaikan lewat isyarah,” kata Fahmi.
Fahmi menuturkan, Habib Abubakar datang bersama dua sahabatnya, yakni Habib Abdul Rahman bin Mustafa Alaydrus dan Habib Syekh Al-Jufri. Mereka disebut sama-sama memperoleh isyarah untuk berdakwah ke berbagai wilayah. Namun, Habib Abubakar memilih menetap di Aceh, sedangkan kedua sahabatnya melanjutkan perjalanan dakwah ke wilayah lain.

Di Aceh, Habib Abubakar dikenal dengan gelar Teungku di Anjong. Menurut Fahmi, gelar itu diberikan karena ia memiliki akhlak mulia dan dihormati masyarakat. Dalam bahasa Aceh, Dianjong dimaknai sebagai seseorang yang sangat dimuliakan dan disanjung. Versi lain menyebutkan istilah tersebut berarti anjungan rumah.
Setelah menetap di Peulanggahan, Habib Abubakar membangun rumah yang kemudian dijadikan dayah atau pesantren. Pada masa itu, kawasan Peulanggahan merupakan tempat persinggahan para pedagang yang melintasi Selat Malaka.
Dayah tersebut berkembang dan menarik murid dari berbagai wilayah Nusantara hingga Semenanjung Malaya. Aktivitas pendidikan agama yang berlangsung di sana menjadikan tempat itu salah satu pusat pembelajaran Islam di Aceh. Seiring waktu, dayah tersebut berkembang menjadi masjid yang terus digunakan hingga sekarang.
Baca juga: Masjid Haji Keuchik Leumiek, Destinasi Religi Baru Banda Aceh
Pusat Pendidikan dan Manasik Haji
Peran Masjid Teungku di Anjong pada masa lalu tidak terbatas pada pendidikan agama. Tempat ini juga dikenal sebagai lokasi pelaksanaan manasik haji bagi calon jemaah yang singgah di Aceh sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tanah Suci.
Kapal-kapal pengangkut jemaah haji yang melintasi Selat Malaka disebut kerap transit di Aceh. Selama persinggahan, para jemaah mengikuti pembelajaran tata cara ibadah haji di dayah yang dipimpin langsung oleh Teungku di Anjong.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu kisah yang dikaitkan dengan julukan Aceh sebagai Serambi Makkah. Pada masa itu, Aceh memiliki peran sebagai tempat persinggahan sekaligus pusat pembelajaran agama bagi masyarakat yang hendak menunaikan ibadah haji.
Teungku di Anjong wafat pada 14 Ramadhan 1100 Hijriah atau sekitar 1782 Masehi. Ia dimakamkan di kompleks masjid, berdampingan dengan makam istrinya, Syarifah Fatimah binti Sayid Abdurrahman Al-Aidid, yang juga berasal dari Hadramaut.
Makam tersebut masih berada di dalam kompleks masjid dan menjadi bagian penting dari sejarah tempat ini. Keberadaannya mengingatkan masyarakat pada sosok ulama yang berperan dalam perkembangan pendidikan Islam di Aceh.
Menjadi Basis Pertahanan saat Perang Melawan Belanda
Setelah Teungku di Anjong wafat, kawasan dayah yang didirikannya tetap memiliki peran dalam kehidupan masyarakat Aceh. Pada 1873, ketika Belanda berusaha merebut kekuasaan Kesultanan Aceh, tempat tersebut disebut pernah digunakan sebagai basis pertahanan dan lokasi pengaturan strategi perlawanan.
Dayah yang sebelumnya menjadi pusat pendidikan agama kemudian turut berkaitan dengan perjuangan rakyat Aceh menghadapi kolonialisme. Namun, tentara Belanda membakar dayah tersebut sehingga sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan dan harus diperbaiki.
Meski telah mengalami perubahan, upaya mempertahankan bentuk asli bangunan tetap dilakukan. Perjalanan masjid ini kemudian kembali menghadapi ujian besar lebih dari satu abad setelah masa perang tersebut.
Dihantam Tsunami, Masjid Dibangun Kembali
Pada 26 Desember 2004, tsunami menerjang Aceh dan menyebabkan kerusakan parah pada Masjid Teungku di Anjong. Bangunan yang semula menggunakan konstruksi kayu itu hancur diterjang gelombang laut.
Bukan hanya bangunan masjid yang rusak. Sejumlah benda peninggalan bersejarah, seperti kitab-kitab, keramik, dan guci, juga hilang terbawa arus. Di tengah kehancuran tersebut, makam Teungku di Anjong tetap bertahan.
“Saat tsunami melanda Aceh, masjidnya hancur, yang tinggal cuma makam, makam tetap utuh masih dilengkapi kelambu,” kata Fahmi.
Empat tahun setelah bencana, masjid tersebut dibangun kembali dengan bantuan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Struktur kayu digantikan dengan beton agar bangunan lebih kokoh, sedangkan bentuk arsitektur tradisionalnya tetap dipertahankan.
Masjid ini memiliki atap berbentuk persegi yang tersusun dalam tiga tingkat dan semakin mengecil ke bagian atas. Bangunannya tidak menggunakan kubah, berbeda dari banyak masjid yang dibangun dengan gaya modern. Arsitekturnya disebut memadukan unsur tradisional Melayu dan China.
Dinding berwarna putih dipadukan dengan warna hijau pada atap, pintu, dan jendela. Enam tiang menyangga teras depan, membentuk tampilan khas yang masih dapat dilihat hingga kini.
Atap bertingkat tiga tersebut juga diyakini memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan tahapan spiritual dalam Islam, yakni hakikat, tarikat, dan makrifat.
Setelah dibangun kembali, Masjid Teungku di Anjong tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Salah satu kegiatan utamanya adalah peringatan haul untuk mengenang wafatnya Teungku di Anjong.
Menurut Fahmi, haul dilaksanakan dua kali dalam setahun, yakni pada 14 Ramadhan dan bulan Zulqaedah. Peringatan pada bulan Zulqaedah biasanya berlangsung lebih besar karena waktu pelaksanaannya lebih leluasa dibandingkan dengan bulan Ramadhan.
“Haul ini kami adakan dua kali, di 14 Ramadhan dan sekali lagi di bulan Zulqaedah. Peringatan di bulan Zulqaedah lebih besar karena kalau di bulan Ramadhan waktunya lebih sempit,” ujarnya.
Dalam kegiatan haul, pengelola biasanya mengundang ulama dari Timur Tengah untuk mengikuti hadrah, seni musik Islami yang memadukan zikir, kasidah, serta irama rebana atau rapai.
Selain haul, terdapat Hadrah Bausadan berupa pembacaan doa tolak bala yang rutin dilaksanakan setiap Selasa. Pembacaan Dhiyaul Lami, yakni syair-syair pujian kepada Rasulullah, berlangsung pada malam Jumat, sedangkan qiyamul lail dilaksanakan setiap malam Minggu.
Berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan Masjid Teungku di Anjong tidak hanya dipertahankan melalui bangunannya, tetapi juga melalui tradisi keagamaan yang terus dijalankan masyarakat.




