Komparatif.ID, Yogyakarta—Siapa tidak kenal Masjid Jogokariyan Yogyakarta. Hampir seluruh umat Islam di Indonesia tahu tentang masjid unik yang selalu menolkan saldonya setiap hari. Dari hasil pemberdayaan jamaahnya, setiap tahun pengurus Masjid Jogokariyan mendapatkan infak Rp12 miliar dari jamaahnya.
Masjid Jogokariyan didirikan tahun 1966, sebagai upaya meminimalisir pengaruh komunis yang kala itu menjadikan Jogokariyan sebagai salah satu pusat pergerakan di Yogjakarta. Islam di tempat tersebut juga tidak begitu kuat. Penduduknya yang merupakan keluarga bekas abdi dalem Keraton Yogyakarta, mempraktekkan Islam Kejawen dan tentu saja hidup miskin.
Para pengusaha batik yang umumnya merupakan pendukung Partai Masyumi dan pendukung dakwah Islam ala Muhammadiyah bersepakat membangun sebuah masjid di atas lahan seluas 600 meter persegi. Seiring waktu terus bertumbuh, menyesuaikan diri dengan perkembangan jamaah dan kebutuhan zaman.
Baca: Masjid Istiqlal Dibangun, Rakyat Aceh Sumbang 1,5 Kg Emas
Penamaan masjid tidak sedikitpun bernuansa Arab. Dipilihanya nama Jogokariyan, tentu sesuai dengan sunnah Baginda Nabi Muhammad, yang memberikan nama masjid sesuai dengan nama kampung tempat masjid itu didirikan. Masjid Kuba yang didirikan oleh Rasulullah, dibangun di Kampung Kuba.
Pilihan nama Jogokariyan juga untuk menyatukan masyarakat yang waktu itu terbelah dalam berbagai faksi politik akibat praktek demokrasi liberal yang keblablasan. Jogokariyan menjadi pemersatu, supaya semua warga merasa memilikinya.
Seiring waktu, berkat pengelolaan yang bersungguh-sungguh dari manajemennya, Masjid Jogokariyan terus bertumbuh menjadi sebuah ruang ibadah, pendidikan, ekonomi, sosial. Masjid Jogokariyan benar-benar tumbuh sebagai sebuah masjid, bukan candi Islam.
Kesungguhan Masjid Jogokariyan Membangun Umat
Lalu, apa saja yang ada di dalam lingkungan masjid tersebut? Menurut catatan Dwi Ayu Sulistyaningrum, dkk, dalam tulisan mereka berjudul Social-Enterpreneurship Masjid Jogokariyan dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat: Persatuan Erat, Ekonomi Kuat, manajemen masjid menyelenggarakan sejumlah kegiatan yang membuat jamaahnya terikat dengan rumah ibadah.
Dengan infak dan sedekah yang dikelola oleh manajemen, warga sekitar diberikan pendidikan keterampilan. Pelatihan keterampilan diutamakan kepada keluarga kurang mampu.
Masjid juga memberikan modal usaha kepada masyarakat sekitar yang ingin memulai usaha.Bentuk bantuannya berupa pinjaman modal usaha tanpa bunga.
Pengelola masjid [melalui unit khusus yang dibentuk] menghubungkan para pelaku usaha yang dibina dengan cara membangun jaringan bisnis lebih luas. Menghubungkan masyarakat tempatan yang berusaha, dengan pengusaha lainnya, sehingga mampu menjalin kerja sama.
Sebagai langkah promosi, pengelola masjid juga secara teratur menggelar bazar sebagai ikhtiar membangun social entrepreneurship. Bazar tersebut memamerkan dan menjual berbagai produk UMKM lokal; tentunya yang halal dan baik.
Seiring maraknya penggunaan internet, pengelolaan bisnis masyarakat dampingan, juga ditarik ke dunia maya.
Menurut hasil penelitian La Abdul Zayl dalam tesis berjudul Peran Masjid Jogokariyan Dalam Mengentaskan Kemiskinan Melalui Program ZIS, menyebutkan keberhasilan manajemen membangun Jogokariyan Mosque sebagai rumah ibadah yang menggerakan pemberdayaan perekonomian, berkat dari kesungguhan dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS).
Dalam melakukan pemberdayaan, masyarakat sekitar bukan semata didampingi dan dibantu supaya mampu mencukupi kebutuhan. Tetapi juga dibimbing supaya mampu meningkatkan kemampuan ekonomi yang berkelanjutan.
Pendidikan yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari kejahilan juga menjadi perhatian sangat penting. Warga Kampung Jogokariyan yang miskin, yatim, dan memiliki potensi, diberikan pendampingan dan bantuan.
Hasilnya, jamaah masjid semakin meningkat, masyarakat yang terbebaskan dari kemiskinan juga semakin banyak. Masjid menjadi pusat pendidikan agama, ritual ibadah, dan lembaga ekonomi.
Dalam sebuah ceramahnya yang disitat Komparatif.ID, pada Sabtu (22/11/2025) Kyai Jazir ASP, yang merupakan Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan, menyampaikan pada tahun 2003, muzakki masjid tersebut hanya 19 orang. Jumlah zakat yang berhasil dikumpulkan selama setahun hanya Rp5 juta.
Melihat situasi yang tidak memberikan harapan kemajuan, pihaknya membangun sistem masjid. Setelah konsepnya selesai, manajemen masjid memberikan modal untuk jamaah. Kemudian membantu bea pendidikan.
Berkat usaha yang sistematis dan sungguh-sungguh, dua tahun lalu, jumlah muzakki telah mencapai 669 orang. Dari jumlah muzakki tersebut, 80 persen dulunya merupakan mustahik.
Tahun 2003, jumlah infak yang masuk hanya 43.200.000 rupiah. kini naik berlipat ganda menjadi 12 miliar rupiah per tahun.
Kyai Jazir mengatakan jangan pernah takut mendirikan salat dan menunaikan zakat. Karena keduanya perintah Ilahi yang memiliki banyak sekali faedahnya.
Jangan takut. Kalau sudah menjadi jamaah masjid, jangan khawatir. Kalau tak punya beras, masjid memberikan beras. Kalau anaknya belum bayar SPP, masjid yang bayarkan. Kalau tak mampu membayar biaya kuliah dan terancam DO, masjid yang membayarkan.
“Kalau sudah menjadi jamaah masjid tidak [perlu] khawatir. Tidak [perlu] khawatir DO, tidak khawatir gak bisa makan. Karena apa? mesjidlah yang menjadi pengayom besar dalam kehidupan masyarakat,” kata sang Kyai.
Masjid yang dikelola dengan baik, yang memiliki program memberdayakan umat, pasti akan makmur.
Dia juga secara halus mengkritik pengelola masjid yang menjadikan rumah ibadah sebagai tempat mengumpulkan uang, kemudian mendiamkannya dalam rekening.
“Sekarang ini uang masjid habis untuk bangunan. Dihabiskan untuk renovasi, memberi lampu hias yang bagus-bagus. Ada mahasiswa yang putus kuliah karena tak mampu membayar SPP, [panitia masjid] tidak membantunya. Kalau demikian bukan masjid namanya, tapi candi Islam,” sebutnya.













