Home Politik Edi Saputra Dipilih Sebagai Ketua DPC PPP Bireuen

Edi Saputra Dipilih Sebagai Ketua DPC PPP Bireuen

edi saputra
Edi Saputra alias Edi Obama (ketiga dari kiri) sedang dipakaikan jas partai oleh Ketua DPW PPP Aceh Dr. Amiruddin Idris. Edi dipilih sebagai Ketua DPC PPP Bireuen melalui Muscab VI PPP Bireuen di Wisma Bireuen Jaya, Selasa, 28 April 2026. Foto: disitat dari linimasa Rizanur.

Komparatif.ID,Bireuen—Edi Saputra alias Edi Obama, Selasa malam, 28 April 2026, dipilih sebagai Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Bireuen. Edi dipilih dalam musyawarah cabang VI yang diselenggarakan di aula Wisma Bireuen Jaya, Kota Bireuen.

Dipilihnya Edi Saputra oleh peserta Muscab VI DPC PPP Bireuen, tidak begitu mengejutkan. Karena jauh-jauh hari nama Edi Obama telah diperbincangkan sebagai kandidat terkuat yang akan diberikan kepercayaan menakhodai PPP Bireuen.

Oleh karena itu, Muscab VI yang digelar di Wisma Bireuen Jaya, dianggap oleh sejumlah kader sebagai wahana meresmikan Edi Saputra sebagai “lokomotif baru” menggantikan Athaillah M.Saleh.

Para kader berharap kehadiran Edi Obama sebagai pemimpin baru di tingkat DPC, mampu mendongkrak popularitas partai dan dapat meningkatkan jumlah kursi di DPRK, mengingat partai tersebut merupakan salah satu parpol yang sempat romantis dengan rakyat Bireuen dan Aceh.

Usai dipilih, Ketua DPW PPP Aceh Dr. Amiruddin Idris yang merupakan salah seorang perintis lahirnya Universitas Almuslim dan pendiri Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (UNIKI), segera memakaikan jas kebesaran partai kepada Edi.

Baca: Amiruddin Idris Kembali Pimpin PPP Aceh

Sekretaris DPW PPP Aceh Ilmiza Sa’aduddin Djamal, Bendahara PPP Aceh Zubir, ikut menyaksikan prosesi pemakaian jas partai tersebut. Mereka dengan senyum bangga menyambut terpilihnya mantan Ketua DPC Partai Demokrat Bireuen tersebut sebagai lokomotif sekaligus nakhoda yang baru untuk PPP Bireuen.

Edi Saputra Dinilai Mampu

Dr. Amiruddin Idris dalam keterangannya percaya Edi Saputra akan mampu menjadi pemimpin yang baik di tingkat partai, serta akan mampu menjalankan tugasnya sebagai duta utama partai dalam menjangkau masyarakat.

Sebagai seorang filantropis, Edi yang dikenal blak-blakan, merupakan salah satu sosok yang dikenal dermawan di Bireuen. Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Bireuen tersebut dikenal cekatan dalam aksi-aksi sosial dan kemanusiaan.

Dalam pidato pertamanya, Edi Obama mengucapkan terima kasih atas dukungan terhadap dirinya. Dia berkomitmen akan mengibarkan bendera partai tersebut ke seluruh pelosok desa di Bireuen.

Dia akan segera menyusun rencana, demi mencapai target partai pada pemilu mendatang yaitu satu kursi untuk setiap dapil tingkat DPRK, satu kursi DPRA, dan satu kursi DPR RI.

Muscab VI Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Bireuen, dihadiri oleh Bupati Bireuen H. Mukhlis, Ketua DPRK Bireuen Juniadi, Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Bireuen Saiful Hadi, Kaban Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Bireuen Dr. Mukhtaruddin alias Mandes Daka, dan sejumlah undangan lainnya.

Sekilas tentang PPP

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan salah satu partai politik yang lahir dari penyederhanaan sistem kepartaian di awal lahirnya Orde Baru. Dibentuk pada 5 Januari 1973, PPP lahir dari fusi (penggabungan) empat partai politik berhaluan Islam yang masih tersisa kala itu.

PPP dibentuk oleh penggabungan Partai Nahdlatul Ulama (PNU), Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiah (Perti), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).

Keempat partai berhaluan Islam tersebut merupakan sisa kekuatan Islam pada Pemilu Legislatif 1971. Pada pileg 1971, Partai Nadlatul Ulama meraih 58 kursi, Parmusi 24 kursi, PSII 10 kursi, dan Perti 2 kursi.

Dalam peta politik Indonesia yang dimulai pada Pemilu 1955, yang dikenal sebagai pemilu paling demokratis, meskipun tidak berhasil menjadi pemenang pemilu, partai politik berhaluan Islam ikut memegang kendali.

Pada pemilu 1955, Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) meraih 57 kursi DPR, PNU 45 kursi, PSII 8, Perti 4, Partai Persatuan Tharikah Islam 1 kursi, dan Angkatan Kemenangan Umat Islam 1 kursi.

Eksistensi partai politik berideologi Islam secara perlahan dikurangi dalam peta politik Indonesia. Pada 1960 Presiden Sukarno membubarkan Masyumi karena sejumlah tokoh partai tersebut terlibat dalam aksi koreksi Pemerintah Pusat bernama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).

Setelah berbagai turbulensi politik, yang melahirkan kekalahan partai politik Islam, pada Pemilu 1977, Partai Persatuan Pembangunan yang menjadi rumah baru politik Islam di Indonesia, berhasil meraih 99 kursi DPR, kalah jauh dari Golkar—saat itu belum menjadi partai politik—yang meraih 232 kursi DPR, serta PDI meraih 29 kursi.

Bertindak sebagai oposisi pemerintah Orde Baru, kekuatan PPP pincang setelah Abdurahman Wahid alias Gusdur, membawa keluar NU dari PPP. Pada tahun 1984. Keluarga NU dari PPP membuat sebagian kekuatan partai tersebut hilang. Maka pada Pemilu 1987, kekuatan PPP di legislatif tersisa 16 persen, dari Raihan 28 persen pada pemilu sebelumnya.

Setelah lahirnya reformasi 1998, PPP tetap eksis sebagai partai politik, meski di dalam tubuhnya terjadi turbulensi sangat serius. Sebagai bentuk fragmentasi di tubuh PPP, untuk pertama kalinya lahirlah Partai Persatuan yang dipimpin Djaelani Naro, petinggi PPP dari unsur Parmusi. Setelah itu lahirlah banyak partai beridelogi Islam, memanfaatkan ruang reformasi.

Previous articlePemerintah Aceh Perpanjang Transisi Darurat Hingga 28 Juli 2026
Next articlePartai Politik Islam Setelah Reformasi 1998

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here