Home Gaya Hidup 2 Pekan Listrik Padam, Jurnalis Aceh Terus Berjuang

2 Pekan Listrik Padam, Jurnalis Aceh Terus Berjuang

listrik padam jurnalis aceh
Ketua AJI Banda Aceh Reza Munawir (kiri) dan Suryadi/Dedek Ktb),sedang berdiskusi mencari titik persoalan genset yang rusak pada Kamis, 11 Desember 2025. Foto: Muhajir Juli/Komparatif.ID.

Di tengah keterbatasan karena listrik padam dan rintangan lainnya, para jurnalis Aceh menolak kalah. Mereka terus menyajikan informasi. Ada yang harus mengayuh sepeda di medan liputan.

Sudah dua minggu listrik padam di Aceh. Bencana banjir Aceh-Sumatra yang memuncak pada Rabu, 26 November 2025, meluluhlantantakkan 18 kabupaten/kota.

Di tengah kehancuran, para jurnalis bekerja mengumpulkan informasi, memverifikasi, dan menayangkan di media masing-masing. Semua menjadi tidak mudah, tapi para jurnalis tidak menyerah.

Kantor Redaksi Komparatif.ID di pinggiran Banda Aceh, tidak lagi benar-benar berfungsi sebagai kantor media. Di Banda Aceh, awak redaksi berpencar mencari sumber energi listrik dan jaringan internet.Di lapangan, para jurnalis dan kontributor, ada yang harus mengayuh sepeda, karena BBM langka.

Baca: Tolong Selamatkan Rakyat Aceh

Pum! Kabar tak baik masuk ke ponsel Pemred Komparatif.ID, Muhajir Juli. Redaktur yang menjadi andalan utama, Fuad Saputra, alumnus Universitas Negeri Malang, tumbang. Tubuhnya diserang demam.

Sejak 26 November 2025, Fuad bergerilya dari satu warung kopi ke warung kopi lainnya. Dalam sehari, dia bisa berpindah hingga lima warkop di Banda Aceh. Jarak satu warkop dengan warkop tidaklah dekat.

Pada Minggu, 7 Desember 2025, dia tumbang. Sekitar pukul 17.00 WIB dia pulang ke Kantor Redaksi Komparatif.ID dengan wajah memerah. Lenguh nafasnya terdengar berat. Listrik masih padam. Dia merebahkan diri di sofa.

“Aku demam,tak sanggup lagi,” gumamnya lirih.

Suasana di redaksi hening. Wartawan liputan kota, Rizki Aulia Ramadhan,diam. Dia juga merasakan kelelahan yang sama. Setiap hari hingga larut malam, mereka bersama, meliput, mengedit, dan menyajikan berita untuk pembaca.

Di Aceh Utara, Muzakkir, wartawan spesial olahraga pelajar, sesekali mengirim laporan. Dia untuk sementara waktu masuk ke Pante Bidari, pedalaman Aceh Timur, mengantarkan bantuan logistik pangan untuk korban banjir dan tanah longsor. Dia sendiri ikut menjadi korban, tapi rasa kemanusiaannya memanggil dia untuk bertindak lebih. Sesekali dia mengirim laporan lapangan.

Di Pidie, Harmadi yang rumahnya ikut disambangi banjir yang melintas, tetap meliput. Dia rutin mengirim laporan.

Di Bireuen, Afrizal (Rijal Bank Pineung) yang menjadi kontributor andalan, memilih mengayuh sepeda demi mencari bahan liputan. Dengan mengandalkan sepeda, dia menuju kawasan banjir, titik pengungsian, fasilitas publik, demi mendapatkan informasi tentang kondisi layanan publik, kondisi korban, dan lain-lain pascabencana banjir.

“Saya memilih mengayuh sepeda setiap hari, karena BBM mahal,” katanya sepekan lalu.

Listrik Padam, Genset Aji Jadi Andalan Jurnalis Aceh

Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh, di Jalan Angsa, Gampong Batoh, Kecamatan Luengbata, Banda Aceh, sejak bencana banjir, menjadi andalan para jurnalis.

Warkop Sirnagalih di depan Sekretariat AJI, menjadi tempat nongkrong favorit para jurnalis dan gadis-gadis muda—umumnya mahasiswa—karena listrik padam di rumah dan indekost mereka. Semua membawa colokan listrik masing-masing. Di warkop, colokan siapapun, akan menjadi Salome-satu lobang rame-rame.

Alfath, stringer media luar negeri, yang juga anggota AJI Banda Aceh, sudah sejak 26 November mangkal tetap di Sirnagalih. Dia bolak-balik ke Sirnagalih.

“Di sini genset menyala terus, dimatikan sesekali untuk mendinginkan mesin. Jaringan internet demikian juga. Tersedia hingga pukul 00.00 WIB,” kata Alfath.

Ketua AJI Banda Aceh Reza Munawir bertambah sibuk sejak Sekretariat AJI dan Sirnagalih menjadi tumpuan jurnalis Aceh di Banda Aceh. Kantornya dibuka dari pagi hingga dinihari. Ada yang numpang salat, buang hajat, dan beristirahat.

Reza yang gemar mengenakan kaos hitam, dengan rambut panjang yang disanggul, sudah seperti juragan kost yang sedang promosi hunian baru. Menyapa para jurnalis, bercanda dengan pelanggan warkop, dan sesekali terlihat serius bila sudah di depan laptop.

Listrik Padam, Berita Tetap Harus Tayang

Pemimpin Redaksi Pintoe.Co, Yuswardi A Suud, sejak 26 November rajin berkeliling. Kemudian dia mendapatkan tempat nongkrong di Plaza Telkom di Jalan Daud Beureueh, Banda Aceh.Di sana dia berada hingga jelang pagi.

Dua hari lalu, operasional Plaza Telkom dikurangi hingga dinihari. Yuswardi harus mencari tempat lain. Dia pun menemukan Sirnagalih. Jurnalis Aceh yang sudah makan banyak asam garam liputan—konflik, tsunami, dll—tetap memancarkan semangat di wajahnya. meski semua tahu dia juga lelah.

“Di Kantor Pintoe, sudah empat hari listrik tidak menyala,” kata Yuswardi A Suud, Kamis (11/12/2025) malam.

Tidak mudah mengoperasionalkan media di tengah kondisi listrik padam dan tak tentu kapan menyala, diiringi hilangnya jaringan internet. Di tengah kondisi tak menentu tersebut, Yuswardi tetap memegang teguh etos jurnalisme; pantang menyerah.

“Listrik boleh padam, berita tetap harus tayang,” katanya.

Genset Rusak, Cepat Perbaiki!

Kamis (11/12/2025) siang, genset Mitsubishi di Sekteriat AJI Banda Aceh, rusak. Setelah diengkol-engkol kembali, tali engkolnya putus. Para jurnalis tertawa, sebuah ekspresi yang setiap orang memaknai berbeda.

Suryadi alias Dedek KTB, terlihat sangat serius mencoba menghidupkan kembali genset yang mati. Keringat mengucur di kepalanya. Wartawan senior Adi Warsidi jongkok di sampingnya. Dia memperhatikan apa yang menyebabkan genset tersebut rusak.

listrik padam genset jurnalis aceh
Adi Warsidi (kiri) wartawan senior, dan Suryadi/Dedek Ktb, mencermati genset yang padam tiba-tiba, Kamis (11/12/2025) siang. Foto: Muhajir Juli/Komparatif.id.

Dengan pengetahuan terbatas, beberapa wartawan mencoba mencari titik persoalan. Genset tersebut memang telah ringkih. Pertama kali didatangkan ke AJI pada tahun 2005, melayani kegiatan Media Center yang sangat padat.

“Genset ini didatangkan pada masa bencana gempabumi dan tsunami 2004. Sekarang rusak setelah bencana banjir Aceh dan Sumatra 2025,” kata Reza Munawir sembari tersenyum pahit.

Para wartawan menarik nafas. Genset tersebut menjadi energi utama, supaya laporan jurnalistik tetap bisa ditayangkan.

Berbagai upaya dilakukan. Berkali-kali diengkol, akhirnya tali tuas engkol putus, saat engkol genset ditarik oleh Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh, Alfian S.E.

Setelah berdialog sejenak, diambil kesimpulan, engkolnya harus beli baru. Setelah tali engkol diganti dan genset menyala, wajah para jurnalis kembali cerah. Mereka kembali bekerja, mewartakan kondisi Aceh yang porak-poranda kepada siapa saja di berbagai belahan dunia.

Pun demikian tetap saja ada rasa was-was. Genset ringkih itu tetap saja rusak lagi, kapan saja.

Previous articleSoal Status Bencana Nasional, Yang Paling Panik Bukan Rakyat
Next articleCinta untuk Tanoh Gayo di Tepian Krueng Teupin Mane

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here