
Komparatif.ID, Banda Aceh— Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menjalin kerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Aceh untuk memperkuat upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba di lingkungan kampus.
Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) oleh Dekan FISIP UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Muji Mulia M.Ag, bersama Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani S.I.K M.Si, di ruang kerja rektor, Selasa (28/4/2026).
Penandatanganan ini turut disaksikan Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Mujiburrahman, jajaran pimpinan fakultas, serta perwakilan BNN Aceh.
Dekan FISIP UIN Ar-Raniry, Muji Mulia, mengatakan kolaborasi dengan BNN merupakan langkah strategis untuk memastikan kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat akademik, tetapi juga menjadi ruang yang aman dari ancaman narkoba. Ia menekankan bahwa perguruan tinggi tidak dapat berjalan sendiri dalam menghadapi persoalan tersebut.
Menurutnya, penyalahgunaan narkotika di Aceh semakin kompleks dan telah menyasar berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Karena itu, kampus dinilai perlu mengambil peran aktif melalui edukasi, deteksi dini, serta penguatan kurikulum yang memuat kesadaran akan bahaya narkoba.
“Perguruan tinggi tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan lembaga seperti BNN penting agar upaya pencegahan narkoba berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Kerja sama ini mencakup sinergi dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam menghadapi ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika.
Baca juga: BNNP Aceh Kembangkan Pencegahan Narkoba Berbasis Kearifan Lokal
Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Mujiburrahman, mengatakan kerja sama tersebut sejalan dengan arah pengembangan kampus. Ia menyebut kolaborasi lintas lembaga menjadi penting untuk memastikan mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan moral, termasuk menjauhi narkoba.
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan moral, termasuk menjauhi narkoba,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BNNP Aceh, Brigjen Dr. Dedy Tabrani, menyambut baik kerja sama tersebut. Ia menilai kampus memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap bahaya narkoba, sehingga keterlibatan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
Ia juga menyebut bahwa persoalan narkotika di Aceh sudah sangat kompleks, sehingga diperlukan keterlibatan semua pihak untuk mengatasinya.
Melalui kerja sama ini, diharapkan pendekatan berbasis edukasi dan riset dapat diperkuat, sekaligus mendukung upaya deteksi dini di kalangan mahasiswa.
“Masalah narkotika di Aceh sudah sangat kompleks. Karena itu, perlu keterlibatan semua pihak, termasuk perguruan tinggi, untuk melakukan pencegahan,” ujarnya.
Dalam implementasinya, kedua pihak sepakat menjalankan sejumlah program, mulai dari sosialisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga riset bersama terkait narkotika.
Selain itu, materi pencegahan narkoba juga berpeluang diintegrasikan ke dalam perkuliahan serta dikembangkan melalui seminar dan pelatihan yang melibatkan mahasiswa dan dosen.
Kerja sama ini juga membuka peluang pelaksanaan tes narkoba bagi mahasiswa baru sebagai langkah preventif, meski mekanismenya masih akan dibahas lebih lanjut.












