Tionghoa Bireuen, Bukan Cina di Morowali

Mustafa A. Geulanggang menulis secara apik tentang Tionghoa di Bireuen untuk rubrik Khazanah. Foto: HO for Komparatif.id.
Mustafa A. Geulanggang menulis secara apik tentang Tionghoa di Bireuen untuk rubrik Khazanah. Foto: HO for Komparatif.id.

Sekitar tahun 70-an saya ada kawan SMP Bireuen Cheng Yu namanya. Ayahnya jual kopi  di jalan  Andalas. Nama warung kopinya “AMIN”. Tahun 2006 saya kembali bertemu Cheng Yu. Tapi ia telah berubah total. Rambutnya acak-acakan, penampilannya tidak menarik pandangan. Sepertinya ia tidak terurus.

Saya penasaran dan mencari tahu mengapa Cheng Cheng Yu berubah drastis. Mesti ada hal yang menyebabkan dia seperti itu. Dalam tempo tidak lama saya mendapatkan kabar bila ia stres. Cheng tidak mengenali saya lagi. Perputaran waktu dan dinamika hidup membuat ia tak lagi mengingat saya, meski dulunya di SMP 1 Bireuen, Cheng teman satu kelas. 

Selain Cheng Yu, ada putri Tionghoa  bernama Risnawati. Ia anak pemilik studio foto Mawar di jalan Andalas. Meski tidak terlalu dekat dengan Risnawati–nama Tionghoa-nya saya tidak tahu– Toko Photo Mawar merupakan langganan saya. Selain untuk keperluan membuat pass photo, juga mengabadikan momen bersama teman-teman. 

Baca juga: Tionghoa Aceh Adalah Orang Aceh

Karena seringkali ke Mawar, saya menjadi dikenali oleh pemilik studio foto tersebut. Apalagi teman saya yang bernama Mukhlis bekerja di sana. Kami karib sejak bersekolah di SD Nomor 9 hingga SMP di Bireuen. Meski saya masih remaja tanggung, pemilik usaha foto tersebut sering menyapa.

Ketika saya kembali ke Bireuen pada tahun 2003, Mukhlis membawa Apon–pemilik studio foto Mawar– bertemu dengan saya. Dari cerita nostalgia, Apon adalah orang yang sering memotret saya kala menjadi langganan di sana. 

Ketika saya SMP, bioskop-bioskop di Bireuen tumbuh subur. Salah satunya Dewi Theatre. Meskipun gedungnya merupakan aset Aceh Utara, tapi dikelola oleh Om Basih, seorang Tionghoa yang punya semangat bisnis dan manajemen yang baik. Selain itu ada juga Gajah Theatre miliknya WNI keturunan Tionghoa. Dua bioskop tersebut merupakan yang paling terkenal di Bireuen. Ke sanalah pelajar SMA dan siswa SMP sering menonton sinema. 

Untuk rakyat kecil dengan uang pas-pasan, juga dibuka bioskop di dekat pasar pagi. Namanya Panggung Hiburan Rakyat (PHR) Taman Ria, miliknya pengusaha Tionghoa. 

Meski merupakan bagian dari Aceh Utara dan jauh dari ibukota Lhokseumawe, Bireuen yang memiliki kantor perwakilan bupati, merupakan kota ekonomi yang penting. Menjadi “ibu kota” bagi kota-kota kecil lainnya di bekas wilayah Ampon Chiek Peusangan dan Ampon Chiek Samalanga. 

Di Matangglumpangdua, Peusangan, juga ada bioskop. Demikian juga di Kutablang dan Peudada. Semuanya berkonsep PHR.

Hiburan bioskop  PHR  ini muncul dadakan  pertengahan 1970-an sampai berakhir 1980-an. Film yg menjadi favorit adalah sinema India, kalau Indonesia film Oma Irama yang kemudian dikenal dengan Rhoma Irama. Film favorit lainnya berjudul Anak Tiri yang dibintangi Rano Karno kecil. Sinema lainnya yang digemari yaitu film Mandarin yang kami sebut film Hongkong, dan film action lainnya. 

Kisah Lain Tionghoa di Bireuen

Pada tahun 1981 Prof. Dr. Ibrahim Hasan mantan Gubernur Aceh dan H. Bustanil Arifin yang kala itu Kabulog & Menteri Koperasi datang ke Bireuen dalam rangka reuni dengan tokoh-tokoh  perjuangan kemerdekaan RI 1945, sekaligus menobatkan Bireuen sebagai Kota Juang tahun 1981. Mereka berkumpul di rumah panggung Pendopo Bupati Bireuen  sekarang. 

Di Sela pertemuan itu, baik Ibrahim Hasan dan Bustanil Arifin, sempat berbisik kepada ajudannya meminta mencari mi tiaw  yang dijual di Warung Riang (saat itu peraciknya Lempak WNI Turunan Cina). Sekarang warungnya  di depan Kedai Riang dan kupi saring racikan  si Supek–warkop Tanjung dengan roti selainya  yang legendaris.

Etnis Tionghoa di kota Bireuen sangat tertib dan tidak menjadi parasit bagi penduduk pribumi. Dalam mengelola bisnisnya bidang jasa transportasi yang dikendalikan oleh tiga perusahaan. Untuk jurusan Bireuen – Takengon dipercayakan kepada Toke A Min  dengan  bendera truk dan  bus  Fajar Harapan Maju (FAHAM). Untuk jurusan  Bireuen – Banda Aceh diserahkan kepada toke Cina  Abuwa dengan perusahaan BUANA.  Sementara Bireuen-Kota Medan Sumatera adalah pengangkutan truk Eka Jaya tokenya juga WNI Cina.

Tionghoa di Kota Bireuen sudah berada sejak Indonesia sebelum merdeka. Bahkan  hampir semua Tionghoa menguasai bahasa Aceh. Bila bulan Ramadan tiba, mereka juga membantu kaum muslimin untuk bahan buka puasa dan lebaran. Misalnya  membantu beras, gula pasir, tepung terigu termasuk membeli lembu untuk dipotong hari meugang yang dagingnya dibagi-bagi warga sekitar kota Bireuen.

Sebelum konflik berkepanjangan di Aceh antara GAM dg RI di Jakarta, hampir semua ruas jalan toko-toko dan gudang  dalam kota Bireuen di kuasai oleh WNI keturunan Cina. 

Tapi akibat pemberontakan GAM mengakibatkan ekonomi Aceh seret; menurun tajam. Banyak toke-toke Cina di Kota Bireuen dan Aceh pada umumnya pindah usaha keluar Serambi Mekkah, terutama  ke Medan dan beberapa kota lain di Indonesia termasuk Jakarta. 

Setelah GAM berdamai dengan RI pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia, ekonomi Aceh semakin membaik. Toke-toke Tionghoa kembali pulang ke Aceh. Tapi suasana telah berubah. Gurita bisnis yang dulunya dikuasai, kini telah berada di bawah kendali mantan-mantan karyawan mereka. Pengusaha-pengusaha “baru” telah memiliki kemajuan melebihi toke tempat mereka bekerja di masa lampau.

Pun demikian, sektor tambak udang, transportasi, perkebunan dan perdagangan masih tetap dapat mereka kuasai. 

Bukan Cina di Morowali

Bila dikaitkan peristiwa Konflik tenaga kerja Cina di Morowali, di Aceh pun WNI Cina pernah merasakan masa gelap. Sebagaimana sejarah pernah mencatat sekitar tahun 1965 bertepatan peristiwa G30S/PKI. Hampir semua tempat usaha Tionghoa di Bireuen dan Aceh pada umumnya dilakukan pengecatan rumah dan toko oleh anak muda yang menamakan dirinya KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Islam) dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia).

Begitu juga aksi ganyang Cina di Aceh pada tahun 1981 yang dipicu salah pengertian antara masyarakat biasa dengan salah satu toko di Banda Aceh. Mengakibatkan terjadi demonstrasi besar-besaran ganyang Cina di Banda Aceh, yang meluas beberapa kota di Aceh.

Bireuen yang sejak lama dikenal sebagai kawasan kosmopolit, awalnya tidak terpengaruh dengan ganyang-ganyangan itu. Tapi akhirnya harus ikut arus karena kaum muda di Bireuen yang ada dalam berbagai organ pelajar,  OKP dan ormas, mendapatkan kiriman kutang (BH) dan celana dalam perempuan. Pengirim secara tersirat menyampaikan pesan bahwa pemuda Bireuen tidak jantan. 

Kiriman berupa “hinaan” tersebut membuat kaum muda tergerak. Mereka tak mau disebut tidak jantan. Maka terjadilah tindakan obrak-abrik beberapa toko Cina di Kota Juang. Mereka mendemo etnis Tionghoa karena termakan hasutan. 

Etnis Tionghoa di Aceh umumnya saat ini merupakan generasi ke sekian setelah indatu mereka berlabuh di berbagai pantai Aceh di masa sangat lampau.

Bahkan banyak di antara mereka yang tidak tahu lagi di mana kakek dan nenek mereka lahir. Bagi etnis Tionghoa di Aceh saat ini telah menjadi Aceh dalam konteks tertentu. Bahkan ada juga yang telah memeluk Islam dan menikah dengan orang Aceh dan etnis lainnya. 

Etnis Tionghoa di Aceh menyebut Aceh sebagai kampung halaman. Alasan cukup kuat. Mereka yang saat ini hidup di sini, lahir dan besar di Aceh. Bersekolah dan berusaha di Serambi Mekkah. 

Kamoe Aceh sit. Lahé di sinoe, dan kubu nek chiek kamoe juga di sinoe.” Demikian kata beberapa kenalan dari etnis Tionghoa. 

Artinya, mereka ingin menyampaikan bahwa Tionghoa di Aceh yang selama ini hidup berdampingan dengan kita bukan pendatang. Mereka lahir dan tumbuh di sini. Bukan TKA seperti di Morowali. 

Artikel SebelumnyaIndia Blokir Film Dokumenter BBC Tentang Kerusuhan Gujarat 2002
Artikel SelanjutnyaTibrani Pimpin Asrama FOBA Periode 2023-2024
Mustafa A. Geulanggang
Bupati Bireuen periode 2002-2007. Esais yang pernah menjadi wartawan.

2 COMMENTS

  1. Tulisan Pak Mustafa enak dibaca dan perlu meminjam motto majalah Tempo.Kami menunggu tulisan Pak Mustafa berikutnya.

    • Aceh dulu dan sekarang. Tionghoa adalah rakyat Aceh juga. Saling melindungi dan saling membutuhkan. Perbedaannya hanya pada warna kulit dan bentuk mata. Semua itu tidak menghalangi Tionghoa Aceh dan Pribumi Aceh adalah Bersaudara. Dan ini juga berlaku untuk semua suku di Indonesia yg berdomisili di Aceh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here