BREAKING
Teknologi

Kalium Sitrat Tepung Singkong Bukan Pemadam Api Gambut!

tepung singkong cegah karhutla
Tepung singkong tidak bisa memadamkan api kebakaran skala luas, apalagi di lahan gambut.

Komparatif.ID–Presiden Prabowo mendorong tepung singkong sebagai terobosan terbaru dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Hal itu dimuat dalam laman tribratanews.polri.go.id, yang tayang pada Selasa, 25 Agustus 2026,

Judul berita yang tayang di laman tersebut berjudul: Bukan Water Bombing, Prabowo Dorong Tepung Singkong untuk Jinakkan Karhutla.

Dalam rapat tersebut Presiden Prabowo bertanya adakah zat kimia yang lebih efektif untuk menutup api daripada air? Menjawab pertanyaan itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat itu menyampaikan adanya bahan berbasis tepung yang telah ditemukan dan disebut dapat membantu mencegah sekaligus memadamkan api, terutama pada tahap awal kebakaran.

Bahan tersebut menggunakan tepung berbahan dasar ubi atau singkong.

Mendengar penjelasan itu, Prabowo langsung tertarik dan meminta agar inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap uji coba, tetapi segera diteliti dan dikembangkan untuk penggunaan yang lebih luas.

“Intinya dia bisa meredam. Menarik sekali itu. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar,” ujar Prabowo.

Prabowo bahkan melontarkan istilah unik, yakni “ubi bombing”, sebagai alternatif dari metode water bombing yang selama ini digunakan untuk menjangkau titik-titik kebakaran dari udara.

Presiden meminta efektivitas bahan tersebut segera diuji, termasuk kemungkinan penggunaannya dalam skala besar melalui helikopter maupun pesawat. Jika terbukti efektif, inovasi berbahan baku lokal itu diharapkan dapat memperkuat strategi pemerintah menghadapi karhutla.

Prabowo juga meminta dukungan anggaran untuk riset dan pengembangan bahan pemadam tersebut. Menurutnya, berbagai inovasi dan teknologi harus terus dicari untuk menghadapi karhutla yang berdampak langsung terhadap masyarakat dan lingkungan.

Tepung Singkong Bukan Pemadam Api Gambut

Untuk memberikan edukasi kepada publik, geomt_inc, memberikan keterangan yang teguh dan terang-benderang bahwa tepung singkong (tepung kulit singkong/ubi) bukan pemadam api gambut.

Dari berbagai referensi ilmiah yang diakses oleh geomt_inc, dalam rangka edukasi sains kebencanaan, api membutuhkan tiga hal sekaligus. Menghilangkan satu saja, maka api akan padam. Tiga hal tersebut yaitu panas (sumber api), bahan bakar, dan oksigen.

Ketiga unsur tersebut harus ada bersamaan agar api menyala dan bertahan. Prinsip ini disebut segitiga api, dasar dari semua ilmu pemadam kebakaran di dunia. Segitiga api tersebut merupakan hasil kajian ilmiah  Zhang & Xie, dalam jurnal berjudul : Revealing Impact Characteristics of the Cassava Dust Exploisn Processes.

Gambut merupakan bahan bakar raksasa di bawah tanah. Supaya gambut tidak terbakar, lahan gambut harus memiliki elevasi air di bawah permukaan tanah 40 cm. dengan ketinggian air tanah yang demikian, gambut masih aman karena masih basah.

Berdasarkan regulasi pemerintah Indonesia (PP No. 57 Tahun 2016), batas aman elevasi air tanah gambut adalah maksimal 40 sentimeter di bawah permukaan tanah.

Gambut berada dalam kondisi rawan bilamana ketinggian air bawah tanah berada lebih dalam dari -49 cm.

Dan bila lebih dalam dari -60 cm, maka status lahan gambut kritis. Semua kabakaran tercatat terjadi di titik tersebut.

Gambut merupakan tumpukan sisa tumbuhan yang belum terurai sempurna. Selama muka air tanah masih tinggi (lahan gambut tergenang), maka kondisinya aman. Bilamana muka airnya turun, maka gambut berubah menjadi bahan bakar kering siap membara.

Lalu, dapatkan tepung singkong memadamkan api gambut? Jawaban pastinya: TIDAk! Lalu mengapa ada asumsi demikian? Karena adanya riset tentang kalium sitrat yang merupakan turunan asam sitrat, sebagai penghambat api pada kayu. asam sitrat bisa dibuat dari fermentasi limbah kulit singkong.

Meskipun fermentasi kulit singkong bisa menghasilkan kalium sitrat, bukan berarti tepung singkong mampu memadamkan api, apalagi memadamkan api di lahan gambut terbuka.

Hal yang harus dipahami adalah, api biasa dan api gambut merupakan dua dunia yang berbeda. Api biasa (api permukaan) terlihat jelas, menjalar di permukaan, padam saat bahan bakar habis. Api permukaan disebut flaming combustion.

Sedangkan aii gambut yang berada di bawah tanah, disebut deep seated smouldering fire, tersembunyi di bawah tanah. Membara di bawah tanah. Menjalar hingga kedalaman beberapa meter, dan bisa tetap membara berminggu-minggu.

Zat kimia yang berasal dari tepung singkong tidak bisa memadamkannya. Mengapa? Sifat kalium sitrat cepat larut bila terkena air. Bila pemadaman dilakukan dengan kombinasi menggunakan air, maka metode ini akan gagal total. Tanpa oven kuring (pembakaran), ini tentu sia-sia.

Tepung singkong tidak akan menjangkau bara gambut di kedalaman meter. Larutan kalium sitrat dari kulit singkong hanya sampai permukaan.

Skala kebakaran gambut dan produksi kalium sitrat tidak sebanding. Ini juga hal yang harus menjadi perhatian dan pengetahuan para pemimpin. Memperoduksi kalium sitrat membutuhkan waktu berhari-hari, sedangkan kebakaran gambut kering menyebar dalam hitungan jam.

Bila ide tepung singkong sebagai ubi bombing dilanjutkan, akan melahirkan rasa aman palsu. Penanganan efektif seperti pembasahan lahan gambut menggunakan air tidak dapat dilaksanakan. Kalium sitrat tidak dapat dikombinasikan dengan air.

Penyebaran kalim sitrat untuk upaya pemadaman skala besar akan menyebabkan pencemaran ekosistem. Nutrisi kalium sitrat  tambahan merusak ekosistem air hitam gambut yang alami.

Kemudian, langkah tersebut akan mempercepat degradasi ekosistem. Mikroba pengurai makin aktif, menyebabkan gambut makin kering di musim berikutnya.

Hal lain yaitu pemborosan sumber daya. Banyak dana dan waktu akan tersedot untuk hal yang kurang efektif, atau bahkan tidak efektif sama sekali. Penanganan dengan air merupakan solusi utama dalam penanggulangan karhutla.

Genangi Kembali Gambut, Bukan Taburi Tepung Singkong

Cara paling efektif untuk penanggulangan karhutla secara alami di lahan gambut yaitu jaga ambang batas air bawah permukaan dengan titik aman 40 cm. selama ini telah terjadi penurunan titik api hingga 22 persen di area yang telah direstorasi.

Buatkan sekatan kanal. Jangan biarkan air yang sudah ada mengalir keluar. Jaga ketinggian air secara konsisten hingga musim kemarau.

Bangun sumur bor dalam supaya dapat memompa air secara langsung ke gambut kering. Ini merupakan cara darurat.

Cara paling aman dan jauh lebih murah, jaga gambut tetap basah. Inilah cara satu-satunya untuk mencegah kebakaran. Bukan dengan menggunakan bahan kimia.

Gambut basah tidak pernah terbakar. Jaga airnya, bukan mencari bahan kimia pemadam api, konon lagi tepung singkong penghasil kalium sitrat.

Catatan redaksi: Artikel ini merupakan bentuk edukasi yang dikutip oleh geomt_inc dari berbagai hasil penelitian terverifikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *