
Komparatif.ID, Banda Aceh— Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mempercepat rehabilitasi lahan tambak seluas 30.417,17 hektare serta 1.953 unit keramba yang rusak akibat bencana hidrometeorologi di Aceh.
Ketua Satgas PRR, Tito Karnavian, menjelaskan revitalisasi tambak menjadi bagian dari agenda prioritas dalam pemulihan nasional pascabencana. Pemerintah, menurutnya, memberikan perhatian khusus pada komoditas unggulan yang selama ini menjadi sumber utama penghidupan masyarakat pesisir.
Ia menyebutkan komoditas seperti udang dan bandeng termasuk yang terdampak signifikan, khususnya di wilayah pesisir Aceh. Saat ini, proses pendataan masih berlangsung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Pemerintah juga merencanakan peninjauan langsung ke lokasi terdampak setelah Lebaran guna mempercepat langkah penanganan di lapangan.
Baca juga: Bencana Hidrometeorologi Rusak 4 Ribu Hektare Tambak di Bireuen
“Tambak ada yang terdampak, seperti udang dan bandeng, terutama di wilayah pesisir Aceh. Saat ini sedang didata oleh Menteri KKP dan setelah Lebaran akan ditinjau langsung untuk percepatan penanganannya,” ujar Tito Karnavian dalam keterangan resminya dikutip, Kamis (2/4/2026).
Tito menambahkan pemulihan tidak hanya difokuskan pada perbaikan fisik lahan tambak yang rusak. Pemerintah juga berkomitmen untuk memastikan seluruh rantai produksi dan distribusi ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan secara normal.
Hal ini dinilai penting agar aktivitas ekonomi warga, khususnya para petambak, dapat segera pulih.
Tito menilai sektor perikanan budidaya memiliki peran strategis sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir. Karena itu, percepatan rehabilitasi menjadi langkah krusial dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat terdampak.












