Home News Daerah Menembus Bener Meriah dan Aceh Tengah Bersama 2 Eks Kombatan GAM

Menembus Bener Meriah dan Aceh Tengah Bersama 2 Eks Kombatan GAM

Menembus Bener Meriah dan Aceh Tengah Bersama 2 Eks Kombatan GAM
Kendaraan melintas perlahan di jalan darurat Bireuen–Takengon usai jembatan utama putus akibat longsor dan banjir bandang. Foto: Komparatif.ID/Muhajir Juli.

Komparatif.ID, Bireuen— Pada hari ke-33 pascabencana banjir dan tanah longsor, 2 eks kombatan itu kembali menembus Tanoh Gayo (Bener Meriah dan Aceh Tengah). Mereka mengantar peralatan kerja untuk kegiatan gotong royong.

Muslim dan Umar Hadi alias Tango, menyeruput kopi di Katoomba,sebuah warkop arabica di kilometer 6, Kecamatan Juli, lintas Bireuen-Takengon, Senin (29/12/2025).

Siang, setengah jam setelah kumandang azan Zuhur, mereka angkat pantat dari sana, bergegas masuk ke dalam kendaraan roda empat double cabin yang sudah ringkih. Saat mereka menutup pintu, suara benturannya terdengar kasar.

Mobil asal Jepang tersebut melaju di atas badan jalan aspal. Lajunya tidak kencang, tidak juga lamban. Cukup nyaman untuk sebuah perjalanan melintasi medan berat dan tidak pasti.

Muslim menatap lurus ke depan. Tango duduk di baris kedua, juga pandangannya lurus ke depan. keduanya merupakan mantan kombatan GAM. Keduanya juga pria santai yang ramah.

Mereka berdua sudah hampir satu bulan bergelut di Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Keduanya dipercaya oleh H. Subarni A. Gani, menyalurkan bantuan kepada korban bencana di Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Muslim sudah membantu H. Subarni sejak awal-awal bencana. Dia terlibat dalam manajemen dan komunikasi, serta distribusi logistik pangan, baik di Bireuen, maupun di luar Bireuen.

Dalam bahasa Aceh, kerja seperti Muslim disebut sebagai awak mat buku. Untuk Bener Tanoh Gayo, Subarni telah mengirimkan 80 ton beras. Dikirim secara bertahap. Dialah yang membuka jalan darurat pertama kali dari Bireuen menuju Aceh Tengah.

Perjalanan pada Rabu siang berjalan lancar. Double Cabin berwarna abu-abu tersebut melaju tanpa kendala. Meski tenaganya jauh berkurang, tapi masih cukup aman untuk melintasi medan berat.

Sebuah mobil pikap melintas di jalan sempit yang berada di tebing bekas longsor, dengan kondisi tanah labil dan rawan runtuh. Foto: Komparatif.ID/Muhajir Juli.
Sebuah mobil pikap melintas di jalan sempit yang berada di tebing bekas longsor, dengan kondisi tanah labil dan rawan runtuh. Foto: Komparatif.ID/Muhajir Juli.

Di lintas Bireuen–Takengon, jejak kehancuran jalan mulai terlihat sejak kilometer 12. Kemudian di kilometer 16, selanjutnya di beberapa titik lain berupa longsoran hingga ke Cot Panglima.

Baca juga: Bireuen Butuh Banyak Dukungan, 16 Ribu Rumah Harus Dibangun untuk Korban Banjir

Bila mata disapu ke sekeliling, perbukitan sepanjang mata memandang, terlihat bekas longsoran yang masih baru. Di bekas-bekas tapak hutan yang kini berubah menjadi perkebunan—umumnya sawit—alam terlihat tak mampu lagi menimang beban.

Ketika memasuki Bener Meriah, secara estafet mulai terlihat bekas-bekas banjir bandang dan tanah longsor di sepanjang jalan. Ruas jalan Bireuen–Takengon putus di sejumlah titik.
Jembatan ambruk, gunung longsor, kebun warga hilang, perkampungan hancur.

Objek Wisata Wihni Kulus terimbun lautan batu. Si Ali-Ali rusak. Enang-Enang hancur, Tenge Besi, Umah Besi, Jamur Ujung, juga porak-poranda.

Ketika saya mendampingi perjalanan Muslim dan Tango, kondisi jalan sudah jauh berubah. Sudah tersedia jalan dan jembatan darurat, meski lintasannya masih memacu adrenalin.

Seperti di Tenge Besi, jalan darurat dibangun pas di tepi tebing gembur yang siap longsor kapan saja. ditambah oleh intensitas hujan yang masih cukup tinggi di Tanoh Gayo, perjalanan sangat tidak aman.

Pada Rabu malam, BPBD Bener Meriah membuat pengumuman khusus di media sosial. Mereka meminta tidak ada yang melintas di jalur Bireuen–Takengon dan KKA–Bener Meriah, karena kondisi hujan lebat.

Setelah berkali-kali harus berlama-lama di atas badan jalan karena macet, kami pun tiba di tujuan di Simpang Tiga Redelong, Bener Meriah. Setelah menyerahkan peralatan kerja seperti kereta sorong, sekop, dan pangki,kami bergegas menuju Aceh Tengah, yang hanya berjarak belasan kilometer lagi.

Oh iya, sedikit cerita. Di kilometer 58, kami menjemput Riko, seorang relawan kemanusiaan yang sudah terlibat merintis jalan dan mengirim logistik ke titik terpencil di Bener Meriah.

Muslim, Umar Hadi alias Tango, dan Riko. Foto: Komparatif.ID/Muhajir Juli.

Riko merupakan saksi mata betapa lambannya pemerintah bekerja menanggulangi bencana. Pelaksana yang diutus negara—yang datang kemudian, setelah rakyat berjuang secara gotong royong—kaku dalam melaksanakan tugas.

Ketika kami tiba di Takengon, ibukota Aceh Tengah, gelap telah menyelimuti alam. kami menyeruput kopi, dan mengudap durian. Suasana Takengon masih lengang. Banyak toko yang belum memiliki banyak barang untuk dijual.

Dua jam di Kota, kami pulang. Melintasi jalan di tengah malam dan guyuran hujan lebat. Sinyal terkadang hilang, terkadang muncul. Listrik belum sepenuhnya menyala.

Tu Lem dan Tango selalu waspada menatap jalan. Sembari menyeruput kretek filter, mata mereka awas melihat situasi jalan, di tengah kegelapan malam yang diguyur hujan.

Keduanya berharap kondisi secepatnya pulih. Meski mereka juga tidak yakin dengan harapannya. Hingga satu bulan bencana berlalu, pemerintah masih sibuk dengan bag-bagi tenda untuk pengungsi.

Previous articlePersonel TNI Tangani Banjir Sumatra Terima Uang Lelah Rp165 Ribu/Hari
Next articleTahun Baru di Tengah Bencana Aceh : Refleksi, Ketahanan, dan Harapan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here