Kinerja Bank Aceh Syariah (BAS) Melempem, Kualitas Kredit Turun

Bank Aceh. KUR (BAS)
Bank Aceh.

Komparatif.ID, Banda Aceh–Bank pelat merah milik Pemerintah Provinsi Aceh, Bank Aceh Syariah (BAS), membukukan kenaikan beban kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) yang signifikan sepanjang tahun 2023.

Mengutip data kinerja keuangan BAS yang disitat Komparatif.ID, Minggu (7/4/2024) sepanjanga tahun 2023 perusahaan mencatatkan beban  kerugian impairment senilai Rp62,43 miliar, dari sebelumnya nihil sepanjang tahun 2022. Sementara itu jika dibandingkan dengan besaran impairment tahun 2021 silam senilai Rp39,38 milar, catatan rugi akibat penurunan nilai aset keuangan naik nyaris 60%.

Kondisi impairment atau penurunan nilai ini sendiri terjadi saat nilai aset yang tercatat, kurang dari nilai yang tercantum di neraca awal. Aset yang mengalami penurunan nilai akan berdampak pada penurunan laba perushaan.

Baca: Pj Bupati Aceh Besar Dukung Pencopotan Dirut Bank Aceh Muhammad Syah

Beban impairment juga bergerak menyesuaikan dengan kualitas kredit yang disalurkan. Apabila beban impairment terus naik, kualitas kredit yang disalurkan kemungkinan memiliki risiko kualitas rendah. Oleh karena itu bank harus menyisihkan pencadangan lebih tinggi.

Akhir tahun lalu, dalam laporan kinerja keungan 2023, BAS mencatatkan kenaikan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) aset keuangan menjadi Rp 208,90 miliar, atau naik 22% dari tahun sebelumnya. Alhasil, rasio CKPN aset keuangan terhadap aset produktif perusahaan naik 20 basis poin (bps) sepanjang tahun lalu menjadi 0,74%.

Baca: Fadhil Ilyas Ditunjuk Sebagai Plh Dirut Bank Aceh

Hal tersebut pada akhirnya ikut mengerek turun kekuatan permodalan BAS, yang mana rasio kewajiban penyediaan modal minumum (KPMM) bank turun 80 bps menjadi 22,72%.

Secara bersamaan BAS juga mencatatkan penurunan kredit secara signifikan. Piutang perusahaan tercatat melambat 10% menjadi Rp11,45 triliun dari semula mencapai Rp 12,78 triliun pada akhir tahun 2022. Penurunan kredit ini nyaris seluruhnya dipengaruhi oleh perlambatan di segmen piutang murabahah.

Penurunan jumlah kredit ternyata juga diikuti oleh kualitas kredit yang semakin buruk, tercatat kredit macet (non performing financing/NPF) net perusahaan membengkak 5 kali lipat tahun lalu atau naik 20 bps dari semula hanya 0,04% di 2022 menjadi 0,24% di akhir 2023.

Kinerja top line perbankan juga ikut terganggu dengan net imbalan (NI) perusahaan turun 12 bps menjadi 6,77%. Meski demikian penurunan NI atau margin bunga bersih (NIM) di bank konvensional merupakan tren yang saat ini lumrah terjadi.

Sepanjang tahun lalu, BAS mencatatkan pendapatan dari penyaluran dana senilai Rp2,24 triliun, naik 1,91% dari catatan tahun 2022. Perusahaan mencatatkan penurunan signifikan atas pendapatan dari piutang atau kredit yang diberikan, namun membukukan kenaikan signifikan dari bagi hasil pembiayaan.

Mesksi pendapatan naik tipis, impairment yang membengkak menyebabkan laba operasional perusahaan tergerus menjadi Rp556,32 miliar di 2023 dari semula Rp 564,04 miliar di akhir 2022. Laba bersih BAS juga ikut turun 1,38% menjadi Rp430,20 miliar sepanjang tahun lalu.

Tim riset Komparatif.ID.

Catatan redaksi: Artikel ini dilarang disalin ulang disadur dalam bentuk apa pun, hingga 12 Mei 2024.

Artikel SebelumnyaAweuk Seunujoh
Artikel SelanjutnyaPendapatan Naik, Kok Laba Bank Aceh Syariah Malah Jeblok 16%?
Redaksi
Komparatif.ID adalah situs berita yang menyajikan konten berkualitas sebagai inspirasi bagi kaum milenial Indonesia

3 COMMENTS

  1. Jika Bank ini tdk merubah sistem bunga kredit terhadap pinjaman PNS lebih baik punah dari pada PNS yg punah karena pinjaman dgn bunga yg sangat mencekik PNS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here