Komparatif.ID, Jakarta – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Gunung Anak Krakatau. Hingga Rabu, 8 Juli 2026 pukul 09.54 WIB, gunung yang berada di Selat Sunda ini telah mencatat enam kali letusan dalam waktu kurang dari 10 jam.
PVMBG menyebutkan bahwa letusan pertama terjadi tak lama setelah tengah malam, yaitu pukul 00.11 WIB. Jarak pandang yang buruk membuat letusan ini tidak dapat diamati secara visual, namun seismograf mencatat aktivitas tersebut dengan amplitudo maksimum 24 milimeter selama 40 detik.
Aktivitas vulkanik berlanjut pada pukul 05.50 WIB dengan kolom abu setinggi sekitar 250 meter dari puncak, atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut. Kolom abu tebal berwarna abu-abu kecokelatan hingga hitam ini bergerak ke arah utara dan barat laut. Letusan ini tercatat dengan amplitudo maksimum 26,1 milimeter dan berlangsung selama 44 detik.
Sekitar satu jam kemudian, tepatnya pukul 07.11 WIB, Anak Krakatau kembali meletus. Letusan ini menghasilkan kolom abu berwarna abu-abu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal yang naik setinggi 250 meter di atas puncak sebelum bergerak ke arah barat laut. Aktivitas ini berlangsung selama 31 detik dengan amplitudo maksimum 44,4 milimeter.
Gunung tersebut belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada pukul 08.42 WIB, letusan berikutnya memuntahkan kolom abu hitam pekat setinggi 100 meter dari kawah, atau setara 257 meter di atas permukaan laut. Abu hitam pekat ini bergerak stabil ke arah barat laut, dengan durasi letusan 40 detik dan amplitudo maksimum 35 milimeter.
Tak lama setelahnya, pukul 09.35 WIB, Anak Krakatau kembali mengeluarkan abu vulkanik setinggi 200 meter dari puncak, atau 357 meter di atas permukaan laut. Kolom abu abu-abu tebal ini mengarah ke barat laut, dengan durasi letusan 27 detik dan amplitudo maksimum 49 milimeter.
Letusan paling akhir tercatat pada pukul 09.54 WIB, menghasilkan kolom abu tebal berwarna abu-abu setinggi sekitar 100 meter dari puncak, atau 257 meter di atas permukaan laut, yang bergerak ke arah barat laut.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Anak Krakatau, Deny Mardiono, dalam laporannya kepada PVMBG pada Rabu tersebut menjelaskan bahwa letusan ini tercatat pada seismograf dengan amplitudo maksimum 45 milimeter dan durasi 13 detik. Tempo
Meski terjadi rangkaian letusan sepanjang hari, PVMBG tetap mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga, yaitu level tertinggi kedua dalam sistem empat tingkat peringatan gunung api di Indonesia.
PVMBG mengimbau warga sekitar, wisatawan, dan pendaki untuk menjauhi Gunung Anak Krakatau serta tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Masyarakat juga diminta terus memantau laporan resmi dari PVMBG agar tetap waspada terhadap kemungkinan aktivitas vulkanik lanjutan.[**]













