Komparatif.ID, Bireuen— Mahasiswi nonmuslim Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Michelle Tirza BR Ginting, merasakan langsung sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan agama selama melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler XXIX di Gampong Meunasah Krueng, Kecamatan Peudada, Bireuen.
Michelle merupakan putri bungsu dari tiga bersaudara. Ia berasal dari Gampong Perhiasan, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.
Sebelum berangkat ke lokasi KKN, Michelle mengaku sempat merasa khawatir. Berbagai informasi yang beredar membuatnya waswas terhadap kemungkinan penerimaan masyarakat setempat terhadap dirinya sebagai seorang nonmuslim.
Namun, kekhawatiran tersebut berubah setelah ia tiba dan menjalani aktivitas KKN di Gampong Meunasah Krueng. Menurutnya, kondisi di lapangan jauh berbeda dari bayangan yang sebelumnya muncul akibat informasi yang beredar.
Michelle menilai kabar di media sosial yang menyebut kelompok mayoritas Muslim tidak menerima warga nonmuslim tidak sesuai dengan pengalaman yang ia rasakan selama berada di Peudada.
Sebab, meskipun beragama Kristen, Michelle mengaku tetap diterima oleh warga Muslim di gampong tersebut dan sekitarnya. Ia mengatakan masyarakat tetap melayani dan menghormatinya seperti tamu lainnya.
Baca juga: Mulai Langka, Harga Semen di Bireuen Naik Hingga 10 Persen
Michelle juga diperbolehkan mengikuti pengajian di meunasah. Ia tidak diwajibkan mengenakan hijab, baik ketika mengikuti kegiatan maupun saat mengambil dokumentasi dan mendengarkan ceramah.
“Selama belasan hari saya melaksanakan KKN di Gampong Meunasah Krueng, tidak ada seorang pun melarang aktivitas saya. Baik saat bepergian maupun berpakaian,” ujar Michelle, Senin (21/7/2026).
Ia mengatakan, anak-anak di sekitar lokasi KKN sempat bertanya mengapa dirinya tidak mengenakan hijab, sementara teman-teman mereka mengenakan hijab. Michelle kemudian menjelaskan bahwa dirinya beragama Kristen.
Menurutnya, anak-anak tersebut dapat menerima penjelasan itu. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pengalamannya selama menjalani KKN di tengah masyarakat Peudada.
Michelle menilai perbedaan agama tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling menghormati dan menerima satu sama lain.













