Home Opini Cara Mengkritik Kritikus tanpa Terdengar Seperti Buzzer

Cara Mengkritik Kritikus tanpa Terdengar Seperti Buzzer

Teruslah Pamer Sampai Hidupmu Nyungsep Malaikat, Iblis, dan Off the Record Media: Dari Anjing Penjaga jadi Badut Sensasi Celaka, Kita Diterjang Tsunami Misinformasi Mampukah Wartawan Adil Sejak dalam Pikiran? Anak Muda Ingin Berita Menyenangkan Cara Mengkritik Kritikus tanpa Terdengar Seperti Buzzer
Wicaksono. Foto: Dok. Penulis.

Seorang kawan pernah bertanya kepada saya dengan nada setengah bercanda, setengah sungguh-sungguh. Ia pensiunan, bekas wartawan, jenis manusia yang sudah terlalu lama hidup di antara berita, propaganda, pidato pejabat, air mata korban, dan omong kosong politik yang dibungkus seolah-olah kebijaksanaan. Wajahnya tenang, tapi pertanyaannya terasa seperti ganjalan yang lama disimpan.

“Bagaimana caranya,” katanya, “supaya kita tetap bisa mengkritik pendapat para aktivis, para pengkritik pemerintah, bahkan orang-orang yang merasa dirinya paling waras di ruang publik, tanpa langsung dicap buzzer atau antek pemerintah?”

Saya paham kegelisahannya. Di zaman ini, ruang publik kita sering tidak lagi bekerja seperti pasar gagasan, melainkan seperti pengadilan jalanan yang sidangnya dibuka tiap menit di media sosial.

Orang tidak selalu menilai apakah argumen kita masuk akal, jujur, atau berbasis data. Mereka lebih dulu sibuk mencari kita ini berdiri di kubu mana.

Sedikit saja kita mengoreksi orang yang sedang kritis kepada pemerintah, kita segera dianggap menjilat kekuasaan. Sedikit saja kita mengingatkan bahwa tidak semua aktivis otomatis benar, kita lekas dipanggil buzzer. Seolah-olah akal sehat sekarang harus lebih dulu menunjukkan kartu anggota sebelum diizinkan bicara.

Padahal masalahnya tidak sesederhana itu. Mengkritik orang yang mengkritik pemerintah bukan berarti membela pemerintah. Kadang itu justru bagian dari menjaga kewarasan publik. Sebab kritik, seperti kekuasaan, juga bisa mabuk. Ia bisa tergelincir menjadi asumsi yang malas, data yang dipelintir, kemarahan yang terlalu percaya diri, atau moralitas yang dipakai seperti pentungan.

Di titik itulah pertanyaan kawan saya tadi menjadi relevan: adakah cara untuk tetap merdeka berpikir, tetap tajam mengoreksi, tapi tidak jatuh ke kesan sebagai penyanyi latar kekuasaan?

Ada. Tapi jalannya sempit, dan manusia di media sosial memang hobi menyederhanakan orang lain jadi stiker dua warna. Sedikit tidak ikut arus, langsung dicap. Jadi, kuncinya bukan mencari cara agar tak pernah dilabeli buzzer. Itu mustahil. Kuncinya adalah membuat orang waras yang membaca melihat bahwa kritik kita punya integritas, bukan pesanan.

Cara paling penting adalah ini: jangan terlihat seperti pembela kekuasaan, tapi juga jangan terlihat seperti pembenci oposisi. Terlihatlah seperti pembela akal sehat. Itu beda sekali.

Orang akan cepat memberi label buzzer ketika mereka melihat pola. Misalnya, kita hanya muncul untuk menyerang aktivis, tapi diam terhadap kesalahan pemerintah. Atau kita sangat galak kepada kritik warga, tapi lunak sekali kepada pejabat. Atau kita rajin membongkar kekeliruan oposisi, tetapi tak pernah menyentuh data yang merugikan penguasa. Di situlah masalahnya. Bukan semata pada isi kritik kita, tetapi pada ketimpangan arah kritik kita.

Jadi, kalau ingin terhindar dari cap itu, bangun reputasi bahwa kamu konsisten pada standar, bukan pada kubu. Kalau aktivis salah data, kritik. Kalau pemerintah manipulatif, kritik juga. Kalau media framing-nya timpang, kritik juga. Orang mungkin tetap kesal, karena manusia memang sering jatuh cinta pada posisi, bukan pada kebenaran. Tapi setidaknya mereka akan kesulitan menuduh kita sebagai alat kekuasaan.

Yang kedua, serang argumen, bukan identitas. Jangan mulai dengan, “Dasar aktivis sok moral,” atau “Kelompok ini memang anti pemerintah.” Begitu kita menyerang identitas, kita langsung terdengar seperti humas politik yang sedang lembur. Fokuslah pada titik lemah argumen: datanya rapuh, logikanya lompat, standarnya ganda, konteksnya dipotong, atau kesimpulannya keburu marah sebelum bukti selesai bicara.

Misalnya, daripada berkata, “Aktivis ini cuma cari panggung,” lebih kuat kalau kita bilang, “Argumen ini menarik, tapi dia mengabaikan data X, memakai contoh tunggal sebagai generalisasi, dan tidak membedakan antara kebijakan yang buruk dengan implementasi yang buruk.”

Kalimat seperti itu jauh lebih sulit dipatahkan. Dan jauh lebih sulit pula dicap sebagai kerjaan buzzer, karena buzzer biasanya malas berpikir sedetail itu.

Yang ketiga, akui dulu bagian yang benar dari lawan bicara. Ini penting sekali. Orang yang langsung menolak total sering tampak seperti sedang menjaga kepentingan. Sebaliknya, orang yang bisa bilang, “Kekhawatiran mereka soal penyalahgunaan kewenangan itu sah, tetapi kesimpulan yang mereka tarik terlalu jauh,” akan terdengar lebih adil. Sikap ini menunjukkan kamu bukan sedang menutup mata, melainkan sedang memilah.

Baca juga: Anak Muda Ingin Berita Menyenangkan

Dalam debat publik, kalimat semacam ini sangat berguna: “Keberatan mereka valid, tetapi analisisnya belum tentu tepat.” “Masalah yang mereka sorot nyata, tetapi solusi yang mereka tawarkan lemah.” “Saya setuju pada kecemasan dasarnya, tapi tidak pada cara mereka membingkai persoalan.”

Kalimat-kalimat seperti itu bikin kita tampak sebagai orang yang berpikir, bukan orang yang bertugas.

Yang keempat, jangan terlalu bernafsu membela pemerintah. Ini jebakan klasik. Begitu seseorang terlalu cepat menjelaskan, memaklumi, atau merasionalisasi semua tindakan negara, publik akan mencium aroma kedekatan politik.

Kadang-kadang cara terbaik agar tidak tampak sebagai pendukung buta adalah dengan berani mengatakan, “Pemerintah memang salah di sini.” Titik. Tidak usah diberi bantalan berlebihan. Tidak semua kesalahan harus diubah menjadi presentasi PowerPoint tentang niat baik.

Justru, kalau kita ingin mengkritik aktivis dengan kredibel, tunjukkan bahwa kita juga punya keberanian moral untuk mengkritik penguasa. Bukan demi keseimbangan palsu, tetapi demi menunjukkan bahwa kita punya kompas.

Yang kelima, gunakan data, tapi jangan bersembunyi di balik data. Banyak orang merasa sudah objektif hanya karena menaruh angka. Padahal angka pun bisa dipilih, dipotong, dan diarahkan. Cherry picking.

Maka, selain membawa data, jelaskan keterbatasannya. Sebutkan konteks. Akui kalau ada area abu-abu. Orang yang jujur pada kompleksitas akan terdengar lebih meyakinkan daripada orang yang terlalu rapi, karena kenyataan publik memang jarang serapi itu.

Yang keenam, hindari gaya bahasa yang terdengar seperti selebaran resmi. Ini penting. Kadang isi argumen kita memang masuk akal, tetapi nadanya bikin orang alergi. Kalau kalimat kita penuh frasa seperti “pemerintah terus berkomitmen,” “langkah strategis ini patut diapresiasi,” atau “narasi negatif harus diluruskan,” selamat, kita sudah terdengar seperti dokumen kantor yang lolos ke lini masa.

Lebih baik bicara seperti manusia: “Kritik ini punya niat baik, tapi kesimpulannya terlalu terburu-buru.” “Pemerintah memang patut diawasi, tapi tuduhan ini belum kuat.” “Tidak semua kebijakan buruk, dan tidak semua kritik otomatis benar.” Sederhana. Jernih. Tidak mengilat seperti pidato.

Yang ketujuh, jangan ikut budaya mengejek. Banyak orang kehilangan wibawa hanya karena tergoda menertawakan aktivis, mahasiswa, atau kelompok sipil yang sedang marah. Begitu kita tampak menikmati penghinaan, kita tidak lagi terlihat sebagai pengkritik, tapi sebagai algojo kecil-kecilan yang menikmati kerumunan. Publik mungkin tidak selalu setuju dengan aktivis, tetapi mereka cenderung menghormati orang yang mengkritik tanpa merendahkan.

Yang kedelapan, bangun rekam jejak sebelum momen panas datang. Reputasi tidak dibangun saat badai, tetapi sebelum badai. Kalau sejak awal kamu dikenal sering membedah isu dengan adil, mengkritik semua pihak, dan tidak sembarang ikut arus, maka ketika kita mengkritik aktivis, orang akan membacanya sebagai bagian dari konsistensi. Tapi kalau selama ini kita hanya aktif saat pemerintah diserang, ya jangan kaget kalau orang menyimpulkan ada motif politik. Publik juga tidak sepenuhnya bodoh. Kadang-kadang saja malas.

Yang kesembilan, bedakan aktivis, opini kritis, dan omong kosong. Ini juga penting. Tidak semua yang kritis ke pemerintah itu aktivis. Tidak semua aktivis asal bicara. Tidak semua kritik layak ditanggapi sebagai ancaman. Kalau kita pukul rata semua suara kritis sebagai berlebihan, kita justru sedang merusak posisi sendiri. Pilih sasaran dengan presisi. Kritik yang lemah argumennya, bukan semata karena ia tidak sejalan dengan argumen kita.

Terakhir, terimalah satu kenyataan yang agak pahit: kadang label buzzer diberikan bukan karena kita salah, tetapi karena kita mengganggu kenyamanan kubu tertentu.

Jadi jangan menjadikan “terhindar dari label” sebagai tujuan utama. Jadikan “tetap terlihat jujur, konsisten, dan independen” sebagai tujuan. Label bisa datang. Tapi kalau tulisan kita rapi, standar moralnya seimbang, dan keberanian kita tidak pilih-pilih, label itu lama-lama akan terasa murahan dibanding isi kepala kita.

Kalau diringkas, rumusnya begini: kritik dengan data, akui kompleksitas, jaga jarak dari semua kubu, dan tunjukkan bahwa yang kita bela adalah standar, bukan penguasa.

Orang boleh tetap melabeli kita buzzer. Internet memang sering lebih suka cap daripada isi. Tapi pembaca yang matang biasanya tahu bedanya antara orang yang sedang berpikir dan orang yang sedang bertugas.

Paham?

Previous articlePolisi Sita Ratusan Bungkus Rokok Ilegal di Uteunkot Lhokseumawe
Next articleSempat Kritis, Bahlil Klaim Pasokan Energi Kembali Terkendali

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here