Reuters Institute for the Study of Journalism di University of Oxford baru saja merilis laporan yang menganalisis satu dekade data tentang kebiasaan konsumsi berita anak muda generasi 18 hingga 24 tahun dari berbagai negara di dunia.
Hasilnya tidak mengejutkan bagi siapa pun yang pernah benar-benar ngobrol dengan anak muda, tapi tampaknya masih mengejutkan bagi sebagian besar pelaku industri media: anak muda ingin berita yang lebih menyenangkan.
Bukan sekadar ringan. Bukan sekadar pendek. Tapi menyenangkan. Menghibur. Kadang membuat tertawa.
Laporan itu membandingkan dua kelompok usia: 18–24 tahun dan 55 tahun ke atas. Kedua kelompok sama-sama menempatkan berita lokal dan internasional sebagai prioritas utama.
Ini penting, karena ini membuktikan bahwa anak muda bukan generasi yang tidak peduli dunia. Mereka peduli. Sangat peduli, bahkan.
Bedanya ada di satu hal kecil yang ternyata sangat besar maknanya.
Kelompok muda menempatkan “berita yang menyenangkan” — satire, humor, konten yang membuat tertawa — di posisi kelima dalam daftar preferensi mereka.
Kelompok yang lebih tua? Posisi kesepuluh. Selisih lima peringkat mungkin terdengar sepele di atas kertas. Tapi dalam bahasa editorial, itu jurang yang dalam.
Ada penjelasan struktural di balik ini, bukan sekadar selera generasional yang berubah-ubah.
Anak muda tumbuh di ekosistem platform yang sudah lama merobohkan tembok antara informasi dan hiburan. TikTok mengajari mereka bahwa satu video bisa sekaligus mengajarkan sejarah perang dan membuat mereka tersenyum.
Instagram Reels membuktikan bahwa data statistik bisa disampaikan dengan musik latar yang tepat. YouTube menunjukkan bahwa seseorang bisa duduk di bawah meja —harfiah, di bawah meja— dan menjadi salah satu jurnalis paling dipercaya di internet.
Baca juga: Dirut Bank Aceh: Sinergi Media Kunci Jaga Kepercayaan Publik
V Spehar melakukan itu. “Under the Desk News” dimulai sebagai eksperimen kecil di TikTok saat pandemi. Enam tahun kemudian, ia menjadi fenomena. Bukan karena ia mengorbankan akurasi demi hiburan, tapi karena ia membuktikan bahwa keduanya tidak perlu dikorbankan satu sama lain.
Platform membentuk ekspektasi. Dan ekspektasi membentuk standar. Ketika anak muda sudah terbiasa mendapat keduanya sekaligus, meminta mereka kembali memilih satu, baik informasi maupun kesenangan, terasa seperti kemunduran yang tidak masuk akal.
Tapi ada dimensi lain yang lebih dalam, dan ini yang seharusnya membuat industri media berhenti sejenak.
Konsumen berita muda, menurut laporan yang sama, menilai bahwa media cukup berhasil menjaga mereka tetap terinformasi. Nilai itu lumayan. Tapi media gagal dalam satu hal lain: membuat mereka merasa “lebih baik tentang dunia”.
Ini bukan permintaan untuk menutup mata dari realitas. Ini permintaan yang jauh lebih serius — bahwa jurnalisme seharusnya tidak hanya memotret dunia yang rusak, tapi juga memberi pembacanya cukup harapan untuk tetap mau hidup di dalamnya.
Beberapa redaksi sudah mulai mendengar. BBC, Daily Maverick, dan Excelsior membuat seksi khusus untuk mengumpulkan berita-berita positif. The Guardian dan Delfino.cr meluncurkan newsletter yang sengaja dirancang untuk memberi semangat.
The Globe and Mail bahkan melakukan restrukturisasi editorial yang lebih serius, yaitu membuat rubrik baru seperti “gaya hidup sehat” dan “kebahagiaan” sebagai bagian permanen dari dapur redaksi mereka, bukan sekadar sisipan musiman.
Langkah kecil. Tapi arahnya benar.
Yang juga tidak boleh diabaikan: cara anak muda mengonsumsi berita terus bergerak, dan bergerak cepat. Pada 2015, mereka adalah generasi yang paling aktif mengakses berita online.
Pada 2025, mereka adalah generasi yang paling sosial-media-first. Maksudnya, berita datang kepada mereka melalui feed, bukan dicari secara aktif di situs berita.
Dari teks, mereka bergerak ke audio dan video. Dari media institusional, mereka berpindah ke konten berbasis figur. Ada seseorang yang berbicara langsung ke kamera, terasa dekat, terasa nyata, terasa seperti teman yang kebetulan sangat paham geopolitik.
Dari skeptisisme awal terhadap teknologi, mereka kini berada di garis terdepan dalam mengeksplorasi AI, termasuk terbuka terhadap penggunaan AI oleh jurnalis, selama hasilnya tetap jujur dan relevan.
Peta konsumsi berita anak muda bukan sesuatu yang bisa dipetakan sekali lalu dibingkai di dinding. Ia terus bergerak. Industri yang tidak ikut bergerak akan ditinggal. Bukan dengan dramatis, tapi dengan senyap.
Jadi di mana posisi media sekarang?
Anak muda bukan generasi yang tidak serius. Mereka tidak sedang melarikan diri dari kenyataan. Mereka hanya menolak satu konvensi lama yang sudah terlalu lama tidak dipertanyakan: bahwa berita yang baik harus terasa seperti beban.
Mereka ingin tahu. Mereka ingin paham. Mereka ingin terlibat dengan dunia, tapi tidak dengan cara yang membuat mereka merasa dunia ini tidak layak diperjuangkan setiap pagi.
Ironisnya, itu bukan permintaan yang aneh. Itu permintaan yang sangat manusiawi. Dan kalau industri media butuh satu dekade riset dari Oxford untuk menyadarinya, mungkin memang ada sesuatu yang sudah lama perlu dievaluasi, jauh sebelum algoritmanya.













