Di ruang forum Komunitas Belajar (Kombel) guru di SMAN 3 Bireuen, Rabu, 9 September 2026, saya berdiri memberikan motivasi kepada sekitar 50 peserta pelatihan Pembelajaran Mendalam Koding dan Kecerdasan Artifisial (PM-KKA).
Suasana kelas hening sejenak ketika saya mengajukan satu pertanyaan sederhana: “Apakah setiap yang mengajar dapat dikatakan guru?”
Saya kemudian menyampaikan dua kutipan yang menurut saya relevan dengan pertanyaan tersebut. Kutipan pertama dari pustakawan Amerika Serikat, John Cotton Dana, “Who dares to teach must never cease to learn.”
Kutipan kedua dari aktivis era 60-an, Soe Hok Gie, “guru yang tidak tahan kritik, boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau.”
Makna dari dua kutipan di atas adalah mengajar bukanlah tugas statis yang hanya menyalurkan informasi lama dari buku teks. Ketika seseorang mengambil peran untuk membentuk pikiran orang lain (menjadi guru), ia memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan ilmu yang valid, mutakhir, dan relevan.
Tugas guru tidak hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuannya saja, akan tetapi lebih dari itu bagaimana dapat mengembangkan karakter terbaik siswa dan memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna serta memastikan seluruh siswa dapat menerapkan ilmunya di keseharian
Pertanyaannya, apakah setiap yang mengajar dikatakan guru? Banyak orang bisa mengajar, tapi tak banyak orang bisa menjadi guru.
Dalam mengembangkan karakter pastinya seorang guru juga harus menjadi teladan karakter yang terbaik juga untuk siswa
Berdasarkan UU Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, menyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Ini berarti seorang guru harus mampu memahami peserta didiknya, memiliki kecakapan akademik dibidangnya, haruslah seorang sosialis yang mampu menjalin hubungan baik dengan civitas akademika dan masyarakat secara umum, dan memiliki akhlak yang baik sehingga menjadi teladan bagi semua orang.
Selanjutnya, mengutip perkataan Ali bin Abi Tholib, yaitu “didiklah dan persiapkanlah anak-anakmu untuk suatu jaman yang bukan jamanmu, sebab mereka akan hidup pada suatu zaman yang bukan jamanmu”, mempertegas bahwa jadilah guru dan jangan jadi guru pun jadilah.
Guru itu bukan karena menjadi guru sebagai pilihan tapi sebagai kewajiban. Jadi guru berarti juga guru yang mampu membawa siswa generasi milenial antusias terhadap pembelajaran, dan mampu beradaptasi dengan jaman.
Karena menjadi guru bukanlah sekadar menduduki kursi, memenuhi jam kerja, atau menjalankan kewajiban semata. Menjadi guru adalah sebuah pilihan — pilihan untuk hadir seutuhnya, untuk memberi, dan untuk terus tumbuh bersama mereka yang diajar.
Dan satu hal lagi yang tak boleh dilupakan —yang sering kali lebih kuat dari semua teori di buku: contoh nyata. Para peserta didik di sekolah jauh lebih cepat meniru perilaku guru daripada mencatat apa yang guru ajarkan.
Cara kita duduk, cara kita berbicara, cara kita bersabar, cara kita menghargai orang lain —itu semua adalah kitab yang mereka baca setiap hari. Jika kita mengajarkan kebaikan tetapi diri kita tidak melakukannya, maka kata-kata itu akan kosong dan hilang tertiup angin.
Baca juga: Plt Sekda Aceh: Pendidikan Hari Ini Menentukan Masa Depan
Maka, jadilah guru yang kehadirannya dinantikan, bukan yang ditunggu kepergiannya. Jadilah guru yang ketika melangkah masuk ke kelas, suasana berubah menjadi hangat, dan setiap siswa merasa betah. Bukan karena kita memanjakan mereka, melainkan karena mereka merasakan ketulusan, perhatian, dan rasa hormat yang kita berikan kepada mereka. Ketika mereka merasa dihargai, mereka akan dengan senang hati menyerahkan hati dan pikiran mereka untuk belajar.
Jangan menjadi guru karena terpaksa. Jangan mengajar hanya karena itu kewajiban yang harus diselesaikan. Karena jika begitu, kita hanya menjadi pengantar teori, bukan pembentuk jiwa.
Pilihlah untuk menjadi guru yang sebenar-benarnya —yang hidupnya menjadi pelajaran, dan kehadirannya menjadi berkah. Atau, janganlah sama sekali. Karena dunia pendidikan tidak butuh jumlah guru yang banyak, melainkan guru yang hadir seutuhnya, yang belajar terus, dan yang membuat setiap anak merasa: di sini, di depan guru ini, saya tumbuh dan saya dihargai.
