Wednesday, 21 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Masjid Tuha Ulee Kareng, Jejak 2 Abad Islam di Tengah Permukiman Banda Aceh

Masjid Tuha Ulee Kareng. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.
Masjid Tuha Ulee Kareng. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Di tengah permukiman padat Gampong Ie Masen, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, berdiri sebuah bangunan kayu sederhana yang usianya diperkirakan lebih dari dua abad. Masjid Tuha Ulee Kareng, demikian warga menyebutnya, tidak memiliki kubah besar maupun menara menjulang.

Namun di balik kesederhanaan itu tersimpan catatan penting tentang bagaimana Islam tumbuh dan berkembang di Aceh. Pemerintah telah menetapkannya sebagai situs cagar budaya, dan kini ia mulai dilirik sebagai salah satu tujuan wisata sejarah dan religi di Banda Aceh.

Masjid ini terletak tepat di depan MIN Ulee Kareng sehingga mudah dijangkau dari pusat kota. Menurut sejumlah catatan sejarah, bangunan ini berdiri setelah kedatangan Habib Abdurrahman bin Habib Husein Al-Mahdali, ulama asal Hadramaut, Yaman, yang dikenal masyarakat sebagai Habib Kuala Bak U.

Ia tiba di Aceh pada 1826 bersama saudaranya, Habib Abu Bakar Bilfaqih atau Teungku Dianjong, dengan misi dakwah. Meski tidak ada referensi tahun pasti pembangunannya, keterangan ahli waris menyebut masjid ini telah berusia lebih dari 200 tahun.

Pengurus sekaligus imam masjid, Teungku Saifuddin, menuturkan kedatangan Habib Kuala Bak U tidak terlepas dari peran Teuku Meurah Lamgapang yang ingin memperkuat syiar Islam di Ulee Kareng.

Untuk itu, Teuku Meurah Lamgapang mewakafkan tanahnya agar dibangun tempat ibadah sekaligus pusat pendidikan Islam. Zainal Abidin, keturunan kelima dari Said Abdurrahman Al-Mahali, menyampaikan bahwa masjid ini dibangun bersamaan dengan Masjid Tgk Di Anjong di kawasan Peulanggahan.

Baca juga: Menikmati Syahdunya Masjid Raya Baiturrahman

Dari sisi arsitektur, masjid ini menampilkan konstruksi kayu tradisional khas Aceh. Denahnya berbentuk persegi berukuran 14 x 14 meter dengan empat tiang utama yang diperkuat dua belas tiang penampil.

Seluruh sambungan menggunakan sistem pasak tanpa paku, teknik yang disebut terbukti kokoh bahkan ketika Aceh diguncang gempa dan tsunami pada 2004. Atapnya berbentuk tumpang dua, berbeda dengan Masjid Tuha Indrapuri atau Tgk Di Anjong yang bertingkat tiga. Bentuk ini menyesuaikan proporsi bangunan yang relatif kecil sekaligus membuat beban atap lebih ringan.

Masjid Tuha Ulee Kareng. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.
Masjid Tuha Ulee Kareng. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Pengunjung yang masuk ke dalam akan mendapati bangunan tanpa jendela, dengan dinding semi permanen yang bagian atasnya dipasangi bilah-bilah kayu kecil untuk sirkulasi udara. Tiang-tiang kayu berbentuk bulat persegi delapan dan galangan di atasnya dipenuhi ukiran flora serta kaligrafi.

Pada tiang ditemukan pahatan doa iktikaf dan qunut, juga ornamen dua kalimat syahadat. Motif arabesque berupa suluran bunga yang saling bertautan menunjukkan kemahiran para pengukir Aceh masa lampau.

Menurut Prof Al-Yasa’ Abu Bakar, kaligrafi tersebut berisi doa qunut dan dalam tradisi Aceh dikenal sebagai bungong kalimah. Tiang dan galangan ini disebut masih asli, sementara atap rumbia telah diganti seng. Warga setempat bahkan menolak renovasi besar-besaran demi menjaga keaslian bangunan.

Di sekitar area masjid terdapat makam para ulama dan tokoh pada masanya, termasuk makam Teuku Meurah Lamgapang dan Habib Kuala Bak U selaku pendiri. Masjid ini kini tidak lagi digunakan untuk shalat Jumat karena Masjid Jami’ Baitussalihin Ulee Kareng yang lebih besar berdiri sekitar 100 meter darinya.

Meski begitu, fungsinya tetap hidup sebagai TPA Faturrahman, tempat pengajian anak-anak dan ibu-ibu, serta tempat singgah bagi warga yang ingin merasakan nuansa sejarah keislaman.

Di balik nilai sejarahnya, kondisi fisik bangunan perlu mendapat perhatian. Sebagian kayu mulai lapuk dimakan rayap, sejumlah ornamen rusak, dan beberapa bagian galangan yang melintang di atas tiang mulai rapuh termakan usia. Perawatan disebut masih minim.

Bagi wisatawan maupun warga Banda Aceh yang ingin mengenal sisi lain sejarah Islam di Serambi Mekkah, Masjid Tuha Ulee Kareng menawarkan pengalaman yang tenang dan bersahaja.

Pengunjung diharapkan tetap menjaga adab di lingkungan masjid dan area makam, serta tidak merusak bangunan yang menjadi warisan bersama tersebut. Dari bangunan kecil berusia dua abad ini, generasi hari ini bisa belajar bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam wujud megah, tetapi dalam kesinambungan budaya yang layak dirawat dan tidak dilupakan.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *