
Komparatif.ID, Lhokseumawe—18 tahun lalu, Teungku Husaini pamit dari rumah pada suatu Jumat pagi. Tapi dia tidak pernah kembali. Keluarga terus mencari. Bila masih hidup, mereka berharap Teungku Husaini kembali.
Video itu lewat di beranda Tiktok Komparatif.ID, Minggu, 28 Juni 2026. Sekitar pukul 16.45. Sebuah video pendek yang diposting ulang akun Tiktok Aneuk Nanggroe. Video tersebut menarik perhatian redaksi karena mengandung cerita cinta.
Beberapa waktu lalu, ayah dari Teungku Husaini menutup mata untuk selama-lamanya di Gampong Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Kecamatan Lhokseumawe. Selama 18 tahun ia menyimpan rindu kepada sang putra yang pergi tak jelas rimbanya.
Baca: Lelaki Aceh, Sie Rueboh, dan Makmeugang
Seorang perempuan yang merupakan kerabat Teungku Husaini bercerita, bahwa sang ustad yang merupakan alumnus Dayah MUDI Mesra Salamanga, Bireuen, pada suatu Jumat pagi, 18 tahun lalu, pamit dari rumah untuk sebuah keperluan.
Keluarga tidak curiga, karena bagi seorang lelaki yang keluar rumah untuk sementara waktu, merupakan hal biasa. Mereka mulai khawatir tatkala sang teungku tak kunjung pulang, meski matahari telah dua kali terbit dan tenggelam.
Dua hari sejak Teungku Husaini tak pulang, nomor telepon genggam miliknya masih dapat dihubungi. Tapi tak ada yang mengangkatnya. Setelah itu mati total. Keluarga dengan setia selalu menghubungi, berharap mendapatkan kabar gembira. Tapi akhirnya asa itu sedikit mengendur, setelah nomor tersebut telah beralih kepemilikan, setelah sekian lama tidak digunakan.
Sejak Teungku Husaini menghilang, ayah dan ibunya sangat kehilangan. Setiap hari sang ibu memendam rindu dan kerisauan. Kemana gerangan sang putra pergi? Mengapa ia tidak kembali? Adakah luka di hatinya?
Demikian juga sang ayah. Meskipun tak selalu menangis, dia memendam rindu yang teramat berat. Lelaki jarang bercerita, demikianlah adanya. Hingga suatu hari kesehatannya drop. Dia jatuh sakit dan kehilangan ingatan. Demikian berat derita batin ia rasakan.
Keluarga membawanya berobat hingga ke Penang, Malaysia. Secara berangsur-angsur ia pulih kembali. Ia pun bercerita dirinya teramat sangat menanggung beban rindu kepada sang putra cahaya mata.
Ia ingin melihat putranya lagi. Tapi harapan tinggallah harapan, Husaini tak kunjung pulang, kabar pun tak didapatkan. Hingga ia menutup mata, sang putra tak pernah kembali.
Teungku Husaini, Pulanglah
Kini, keluarga tetap masih berharap Husaini kembali ke rumah, berkumpul bersama keluarga, merajut masa dengan penuh cinta.
Bilakah Husaini masih hidup, kabarkan kepadanya bahwa keluarga sangat menantikan ia pulang. Bilakah ia telah pergi jua ke alam barzah, kiranya bagi yang tahu, sudi kiranya memberitahu, supaya keluarga tidak lagi menunggu.












