Home Khazanah Mengapa Kesultanan Ternate Gagal Islamkan Seluruh Minahasa?

Mengapa Kesultanan Ternate Gagal Islamkan Seluruh Minahasa?

kesultanan ternate minahasa
Sebuah tradisi kuno Minahasa. Foto: Indonesiakaya.com.

Meski menjadi kekuatan Islam di timur Nusantara, tapi Kesultanan Ternate tak berhasil melakukan islamisasi menyeluruh di Minahasa. Kesultanan Ternate hanya berhasil menyebarkan Islam di pesisir Minahasa.

Kesultanan Ternate atau juga dikenal dengan Kerajaan Gapi adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Kepulauan Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara.

Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-19. Kesultanan tersebut menikmati kegemilangan di paruh abad ke-16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya.

Pada masa jaya kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi bagian utara, timur dan tengah, bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di Pasifik.

Dengan kekuatan dan pengaruh besar di masa jayanya, Kesultanan Ternate menciptakan sebuah anomaly. Ketika Islam berkembang luas di wilayah sekitar Ternate, Gorontalo, dan Bolaang Mongondow sejak abad ke-15, Minahasa justru tidak mengalami islamisasi secara dominan. Mengapa?

Alfath Syaban, seorang Geographer melakukan penelusuran berdasarkan hasil penelitian para ahli sejarah. Berdasarkan sejumlah dokumen, dia pun mengungkapkan fakta mengapa Islam tidak dominan dianut oleh penduduk Minahasa.

Berdasarkan hasil penelitian Rahman, A (2020) berjudul Menemukan Islam di Minahasa dalam Jaringan Rempah Nusantara, yang dimuat dalam Historia Islamica, menyebutkan ketika Islam berkembang pesat di kawasan timur Nusantara sejak abad ke-15, hampir seluruh wilayah sekitar Minahasa mengalami proses islamisasi yang cukup mendalam.

Baca: Palermo dan Jejak Kekuasaan Islam di Sisilia

Kesultanan Ternate berhasil menyebarkan pengaruh  politik dan agama hingga ke Maluku, sebagian Papua, Bolaang Mongondow, Gorontalo, bahkan pesisir Sulawesi Utara. Akan tetapi Minahasa menjadi pengecualian yang menarik.

Mengapa Minahasa menjadi pengecualian? Berbeda dengan Gorontalo dan Bolaang Mongondow yang memiliki kerajaan terpusat sehingga konversi agama penguasa dapat diikuti rakyatnya, masyarakat Minahasa hidup dalam sistem walak atau konfederasi kampung yang relative otonom.

Di dalam masyarakat Minahasa tidak ada satu raja tunggal yang dapat mengubah orientasi keagamaan seluruh wilayah. Struktur sosial seperti ini membuat islamisasi berlangsung lebih lambat dan tidak pernah mencapai dominasi mayoritas.

Masih dalam jurnal yang sama, Rahman,A menuliskan Islam sebenarnya sudah hadir ke Minahasa sejak abad ke-16 melalui jaringan perdagangan rempah-rempah dan pelayaran.

Kesultanan Ternate membangun hubungan dagang, politik, dan kekerabatan dengan wilayah pesisir Minahasa. Pedagang, ulama, serta pejabat Ternate menetap di beberapa pelabuhan dan kampung pesisir, membentuk komunitas Muslim yang menjadi embrio penyebaran Islam.

Pengaruh Ternate terutama dapat dirasakan dan dilihat di daerah pesisir seperti Kema, Belang, Amurang, dan Likupang. Sedangkan di wilayah pedalaman Minahasa  yang terlindungi oleh pegunungan dan jaringan sosial sendiri, Islamisasi tidak menemukan jalannya. Dengan fakta demikian, Islam berkembang di Minahasa dalam bentuk kantong-kantong komunitas Muslim, tanpa mampu mengubah identitas mayoritas masyarakat Minahasa secara keseluruhan.

Kesultanan Ternate Dianggap “Eksternal”

Di sisi politik, hubungan Minahasa dan Kesultanan Ternate juga tidak berjalan dalam suasana harmonis. Demikian ditulis Alting, H (2020) dalam jurnalnya: Minahasa: Islamisasi dan Warisan Peradaban Islam di Sulawesi. Dipublikasikan dalam Thaqafiyyat, Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam.

Dalam jurnal tersebut dituliskan di mata orang Minahasa Ternate dipandang sebagai kekuatan eksternal yang lebih berorientasi pada kepentingan politik dan ekonomi daripada penyebaran agama.

Pasukan Ternate beberapa kali melakukan penarikan upeti, pengambilan tenaga kerja, serta pengawasan ketata terhadap pelayaran dan perdagangan di wilayah pesisir. Kondisi ini menimbulkan resistensi dari sejumlah komunitas Minahasa yang menjaga kemandirian wilayahnya.

Akibat dari kondisi tersebut, Islam tidak diterima sebagai identitas baru yang menarik bagi seluruh masyarakat. Penerimaan terhadap Ternate bersifat pragmatis—terbatas pada hubungan politik dan ekonomi. Bukan penerimaan ideologis keagamaan.

Ketidakmampuan Kesultanan Ternate melakukan islamisasi ke Minahasa dimanfaatkan oleh Belanda. Pada abad ke-17 hingga 19, pengaruh Ternate mulai melemah di Minahasa. Sementara Belanda semakin memperluas kekuasaannya di Sulawesi Utara. Mereka menjalin hubungan erat dengan pemimpin lokal di Minahasa.

Duncan,K (2024) dalam Political Rivalry and Early Dutch Reformed Missions in Seventeenth Century North Sulawesi, diterbikan oleh Cambridge University Press, serta Heuken,A (2004) dalam Church and State in North Sulawesi (1700-2000), KITLV Press, menyebutkan Belanda mampu masuk hingga ke pedalaman Minahasa melalui bantuan misionaris Protestan dari lembaga-lembaga seperti Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG). Agama Kristen diperkenalkan secara sistematis kepada masyarakat Minahasa.

Para misionaris mendirikan sekolah, gereja, asrama murid, dan pusat-pusat pelayanan kesehatan. Para misionaris Kristen memperkenalkan pendidikan modern yang diajarkan dalam bahasa lokal Minahasa. Praktek tersebut mempermudah Kristen diterima oleh masyarakat. Pendekatan itu berdampak sangat besar bagi penyebaran Kristen. Kemudian Minahasa berubah menjadi salah satu wilayah dengan populasi Protestan terbesar di Nusantara hingga saat ini.

Alfath Syaban membuat kesimpulan sederhana tentang Minahasa dan Islam di sana. Bahwa Islam tetap ada dan tumbuh sejak lama di kawasan pesisir Sulawesi Utara. Tapi tidak menjadi mayoritas, disebabkan oleh alasan-alasan yang telah disebutkan di atas.

“Minahasa merupakan contoh harmoni keberagaman. Islam, Kristen, budaya lokal, dan warisan sejarah hidup berdampingan dalam satu ruang yang saling menghargai. Jejak Islam di Minahasa adalah bagian penting dari sejarah panjang Nusantara yang patut dilestarikan dan dipelajari,” kata Alfath Syaban.

Previous articleTahun Ini KemenPU Kerjakan 16 Proyek Pascabencana di Wilayah Tengah Aceh
Next articleKAI Prioritaskan Pengembangan Jalur Kereta Banda Aceh–Besitang Sepanjang 478 Km

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here