Sering ditemukan keluarga miskin tapi memiliki banyak anak. Hasil temuan BKKBN, penumpukan anak paling padat berada di kantong-kantong kemiskinan di perdesaan serta kawasan kumuh perkotaan (urban poverty).
Kamu sering menemukan keluarga miskin memiliki banyak anak? Itu bukan kebetulan. Ada empat penyebab yang membuat keluarga miskin memiliki banyak anak.
Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis BPS, rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,62 anggota rumah tangga.
Sebagai perbandingan ilmiah, rata-rata anggota rumah tangga tidak miskin di Indonesia jauh lebih kecil, yaitu berada di kisaran 3,73 orang (hanya memiliki 1 hingga 2 anak saja per KK).
Lalu, apa penyebab keluarga miskin memiliki anak lebih banyak?
Pertama, dalam teori ekonomi keluarga seperti yang disampaikan oleh Gary Becker, masyarakat berpenghasilan kecil, seringkali melihat anak sebagai aset ekonomi/investasi masa depan. Pada keluarga miskin di sektor agraris/ informal, anak dianggap sebagai aset produktif. Anak-anak dianggap bisa membantu bekerja atau mengurus rumah tangga sejak kecil.
Anak juga dipandang sebagai jaminan hari tua. Setidaknya ada yang merawat ayah dan ibu ketika mereka tua nanti. Dalam konteks ini anak dianggap sebagai aset sosial, sebagai jaring pengaman sosial.
Kedua, terbatasnya akses edukasi dan layanan KB. Dalam keluarga miskin, ternyata banyak anak yang lahir tanpa perencanaan. Anak-anak itu lahir akibat dari aktivitas hubungan badan antara ayah dan ibunya. Sekadar itu. Alamiah saja. Hubungan badan yang dilakukan bukan bertujuan untuk mendapatkan anak lagi. Tapi sebagai bentuk ekpresi cinta dan kebutuhan biologis semata. Tapi ujung-ujungnya tetap berujung pada kehamilan.
Baca: Tips Cara Cepat Hamil
Kamu tentu sering melihat dalam keluarga miskin, jumlah anak banyak dan rentang usia mereka rata-rata berbeda satu tahun. Ya, itu umumnya karena hasil produksi “alamiah” tanpa rencana. Hanya karena ayah dan ibunya bercinta, maka mereka ada.
Pengetahuan family planning umumnya tidak dimiliki oleh keluarga dari garis ekonomi bawah. Karena tingkat pendidikan yang umumnya rendah, sehingga mereka tidak memiliki pengetahuan tentang perencanaan keluarga.
Akses mereka terhadap alat kontrasepsi juga minim. Selain karena alasan teritorial, juga rasa malu. Alat kontrasepsi umumnya masih dianggap tabu di kalangan masyarakat miskin.
Ketiga, faktor sosial, budaya, dan mindset. Faktor ketiga ini juga cukup menghadirkan persoalan. Ada kepercayaan banyak anak banyak rezeki. Sejak lama kata-kata itu telah menjadi sekadar mitos. Di kalangan masyarakat ekonomi lemah, semakin banyak anak, semakin besar kepastian tidak akan sanggup dinafkahi secara layak. Akhirnya mereka hidup dalam mode bertahan. Di sinilah banyak terdapat kasus mal-nutrisi ibu dan anak yang menyebabkan stunting. Kemudian berdampak juga pada distribusi pendidikan yang tidak merata. Etos belajar tidak ada.
Lelaku ini berulang. Anak perempuan yang dianggap sudah mampu berhubungan seks, dianjurkan menikah muda. Meskipun banyak alasan religius yang membalutnya, tapi alasan utama, supaya orangtua lekas berkurang beban yang harus ditanggung.
Dalam keluarga seperti ini, anak-anak usia pendidikan, umumnya sudah dilepas untuk mencari nafkah sendiri. Akibatnya apa? Pendidikan mereka terganggu, memutuskan keluar dari sekolah, dan bertumbuh menjadi pekerja serabutan di pasar bebas di akar rumput.
Otonomi perempuan juga rendah. Di keluarga miskin, banyak sekali ditemukan perempuan (istri) dan anak perempuan, tidak mendapatkan penghormatan yang layak. Suara mereka kerap diabaikan. Aspirasi mereka seringkali tidak dianggap penting. Perempuan sebatas sebagai komoditas, “pembantu umum”, dan kaum yang tidak boleh menolak apa pun. Bila menolak dianggap pembangkang dan durhaka.
Keempat, kurangnya pilihan alternatif hiburan.Ya ini fakta yang menyesakkan dada. Keluarga miskin tidak mampu menjangkau hiburan yang sepantasnya. Mereka tidak mampu liburan, menonton film di akhir pekan, kongkow bersama teman-teman dan keluarga di tempat nongkrong bagus.
Satu-satunya hiburan bagi mereka yaitu hubungan biologis antara suami istri. Hubungan badan merupakan rekreasi bilogis yang paling mudah dijangkau. Bayangkan, simalam sineuk-simalam sineuk, tahu-tahu sudah banyak aneuk.
Bayangkan, Anda menjadi warga negara, dengan status sebagai kelompok miskin. Anda memiliki banyak anak. Sedangkan negara memandang Anda hanya sebatas angka statistik. Orang miskin hanya diberi satu formula: bansos. Itupun setalah dipotong sana-sini. Meskipun nama bansos bejibun banyaknya, tapi faktanya tidak dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin.
Akhirnya Anda menjadi minoritas dua lapis. Udah miskin, dijadikan objek pula.
Catatan redaksi: Artikel ini merupakan kampanye edukasi ekonomi dan pendidikan keluarga.
