BREAKING
Daerah

Buka Raker, Safrizal ZA Ungkap Tantangan USK sebagai PTN BH

Buka Raker, Safrizal ZA Ungkap Tantangan USK sebagai PTN BH
Dirjen Bina Adwil Kemendagri dan juga Ketua MWA Universitas Syiah Kuala (USK), Dr. Safrizal ZA. Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Takengon— Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Syiah Kuala (USK) Dr. Safrizal ZA membuka rapat kerja (raker) USK di Ballroom Gayo Petro Hotel, Kota Takengon, Aceh Tengah, Jumat malam (2/10/2026).

Dalam amanatnya, Safrizal menyampaikan anggota MWA memiliki tanggung jawab untuk mengawal kepemimpinan Rektor USK Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A.

Safrizal mengatakan tema raker, yakni “Penguatan good university governance, hilirisasi dan inovasi riset berkelanjutan serta peningkatan IKU menuju USK bereputasi global”, merupakan tema yang besar. Karena itu, setiap fakultas harus diberikan tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan sesuai dengan tema tersebut.

Menurutnya, setiap tanggung jawab harus dapat diukur dengan skor tertentu. Apabila target tidak tercapai, dekan harus dievaluasi. Sebaliknya, capaian yang baik harus diberikan apresiasi.

Safrizal juga menyinggung keterbatasan anggaran USK yang mencapai sekitar Rp900 miliar. Dengan anggaran tersebut, kata dia, USK memiliki tanggung jawab besar sehingga efisiensi wajib diterapkan dan inovasi harus terus dilahirkan.

Ia menjelaskan dunia terus mengalami perubahan seiring evolusi peradaban dan revolusi industri. Sumber keunggulan pun berubah dari satu era ke era berikutnya. Pada era Industri 1.0, sumber keunggulan berasal dari sumber daya alam. Memasuki Industri 2.0, mesin dan sumber daya alam menjadi modal.

Sementara pada era Industri 4.0, sumber keunggulan berkembang dengan hadirnya artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), big data, cloud, robotic, dan biotechnology. Saat ini, dunia sedang berada dalam masa transisi menuju dan memasuki era Industri 5.0.

Safrizal menyebut terdapat tiga pilar utama Industri 5.0, yakni human centric, sustainability, dan resilience. Menurutnya, perkembangan tersebut membuat tantangan yang dihadapi semakin besar.

Sebagai kampus dengan status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH), Safrizal menyebut USK memiliki lima tantangan yang harus dijawab.

Baca juga: FH USK Hadirkan 2 Hakim Agung MA, Bahas KUHP Baru

Pertama, USK harus mampu menciptakan nilai tambah. Ia mencontohkan kehadiran USK harus dapat memberikan nilai tambah terhadap komoditas pertanian yang dihasilkan Aceh Tengah yang dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di Aceh.

Kedua, tantangan penguasaan teknologi. USK, kata Safrizal, harus mampu menjadi kreator teknologi. Untuk mewujudkannya, USK perlu memperbanyak lini bisnis kampus. Para dekan juga didorong menciptakan penghasilan yang nantinya dapat dijadikan modal untuk melakukan berbagai inovasi.

Ketiga, USK harus mampu melahirkan lebih banyak riset untuk membantu menciptakan peluang-peluang baru.

Keempat, USK perlu mendorong talenta-talenta yang dimiliki agar menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai besar bagi dunia ilmu pengetahuan maupun kebutuhan industri.

Kelima, dalam menghadapi kompetisi global, USK harus mampu mengubah sumber daya menjadi keunggulan. Selanjutnya, keunggulan tersebut harus dapat diubah menjadi inovasi.

“USK sering kita sebut besar. Kita harus bertanggung jawab atas nama besar itu. Aceh kaya tapi tak memiliki industri yang memadai untuk mengolah sumber daya Aceh mendapatkan nilai tambah. USK harus mampu mendorong lahirnya industri yang menciptakan nilai tambah. Ini tugas Rektor. Beliau harus mampu berkomunikasi dengan stakeholder di luar kampus, supaya sumber daya bisa diubah menjadi keunggulan,” kata Safrizal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *