
Komparatif.ID, Bireuen— Dua keluarga miskin di Gampong Cot Geurundong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, akhirnya bisa menempati rumah layak huni setelah bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan.
Pemerintah Gampong Cot Geurundong menyerahkan dua unit rumah bantuan kepada Nurdin Hasan dan Abdurrahman pada Jumat (10/4/2026).
Keuchik Gampong Cot Geurundong, Khairul Razi, menjelaskan pembangunan dua rumah tersebut menelan anggaran Rp140 juta yang bersumber dari Dana Desa tahun 2025.
Masing-masing unit rumah dianggarkan sebesar Rp70 juta, dengan pelaksanaan mengacu pada Peraturan Bupati Bireuen Nomor 11 Tahun 2025 tentang pedoman penyusunan APBG.
Menurut Khairul Razi, kedua penerima bantuan memang berasal dari keluarga yang membutuhkan perhatian. Kondisi ekonomi mereka dinilai sangat terbatas, sehingga sulit untuk memperbaiki apalagi membangun rumah baru secara mandiri.
“Jika kita lihat secara ekonomi, jangankan membangun rumah baru, untuk makan sehari-hari saja susah, sehingga sudah sepatutnya pihak gampong membantu mereka,” ujar Khairul Razi usai serah terima.
Baca juga: Ini Alasan Tenaga Kesehatan Minta Kepala Puskesmas Peudada Dicopot
Ia menjelaskan, keputusan pembangunan rumah itu merupakan hasil kesepakatan bersama yang melibatkan perangkat gampong, lembaga Tuha Peut, Tuha Lapan, unsur pemuda, serta masyarakat.
“Hasil musyawarah kami bersama perangkat gampong sepakat membangun rumah untuk dua keluarga tersebut,” katanya.
Bantuan rumah layak huni tersebut disambut haru oleh keluarga penerima. Juliana, anak sulung Nurdin Hasan, menyampaikan rasa terima kasih kepada Keuchik Cot Geurundong dan seluruh unsur gampong yang telah membantu keluarganya mendapatkan rumah yang lebih aman untuk ditempati.
Ia menceritakan, rumah panggung yang selama ini mereka tempati sudah dalam kondisi rapuh dan tidak lagi layak huni. Bagian lantai papan, terutama di dapur, bahkan sudah patah dan membahayakan keselamatan.
Menurut Juliana, kondisi ekonomi keluarganya selama ini memang jauh dari cukup. Kebutuhan sehari-hari pun sering dijalani dalam keterbatasan.
“Secara keuangan, kami masih jauh dari kata cukup, lauk pauk sehari-hari adalah nasi putih dan ikan asin, jarang mengkonsumsi ikan segar, namun hal tersebut sudah terbiasa,” ungkap Juliana.












