Komparatif.ID, Bireuen— Panas terik matahari tidak menyurutkan semangat masyarakat menyaksikan karnaval dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Bireuen, Selasa (18/8/2026).
Ribuan warga memadati sejumlah ruas jalan yang menjadi rute karnaval. Di tengah cuaca yang cukup panas, payung warna-warni dan topi terlihat mendominasi barisan penonton yang berdiri di sepanjang jalan untuk menyaksikan berbagai atraksi peserta karnaval.
Karnaval tersebut mengambil rute dari SMPN 1 Bireuen di kawasan Cot Gapu menuju Simpang Empat. Dari Simpang Empat, peserta melanjutkan perjalanan melalui ruas Jalan Bireuen-Takengon hingga Simpang Meunasah Gadong, kemudian berakhir di Pendopo Bupati.
Sejumlah warga bahkan datang beberapa jam sebelum kegiatan berlangsung untuk mendapatkan posisi menonton yang dianggap strategis. Payung menjadi salah satu perlengkapan yang dibawa warga untuk melindungi diri dari teriknya matahari selama menunggu dan menyaksikan karnaval.
Ahmad, warga Gampong Geulanggang Baro, Kecamatan Kota Juang, mengaku telah tiba di lokasi sejak pukul 13.00 WIB. Ia memilih datang lebih awal agar bisa mendapatkan tempat di bagian depan dan menyaksikan langsung atraksi peserta karnaval.
“Saya sengaja cepat datang biar dapat tempat depan. Bawa payung karena panasnya luar biasa,” kata Ahmad.
Baca juga: Teungku Kasem, Oratori Ragawi Sang Legenda Meukat Ubat Kini Telah Pergi
Menurut Ahmad, ia tetap memilih bertahan di lokasi meski cuaca panas karena ingin menyaksikan atraksi dari MIN 21 Bireuen, Gampong Pulo Kiton, Kecamatan Kota Juang.
Kondisi serupa juga terlihat dari warga lainnya yang datang bersama keluarga. Rafanda, warga Blang Bladeh, Kecamatan Jeumpa, datang bersama istri dan dua putrinya sejak pukul 12.00 WIB.
Rafanda mengatakan, ia dan keluarganya sengaja datang lebih awal agar dapat menyaksikan karnaval dari lokasi yang dekat dengan jalur peserta.
“Kami target cepat datang biar kebagian lokasi di depan. Panas tapi tetap semangat nonton. Anak-anak juga mau lihat atraksi,” ujarnya sambil mengipas anaknya dengan kipas tangan.
Cuaca panas sempat membuat anak sulung Rafanda mengalami pusing. Melihat kondisi tersebut, istrinya kemudian membawa anak mereka berteduh ke dalam salah satu warung di sekitar lokasi karnaval.
Meski panas, warga tetap terlihat bertahan di sepanjang rute untuk menyaksikan peserta karnaval yang melintas. Payung dan topi digunakan warga sebagai pelindung dari paparan matahari, sementara sebagian lainnya memilih berteduh di warung atau tempat yang tersedia di sekitar jalur karnaval.
