
Komparatif.ID, Lhokseumawe— Pemerintah Aceh akan membeli kapal feri roro rute Krukuh-Penang. Pembelian kapal tersebut akan dilakukan setelah pengesahan APBA tahun 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf, Minggu (2/11/2025) saat memberikan sambutan pada acara pengukuhan dan pelantikan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Malikussaleh, di Kota Lhokseumawe.
Dalam pidato tersebut mengatakan kapal feri roro tersebut akan digunakan untuk mengangkut barang-barang di Aceh, untuk dijual ke negeri seberang [Malaysia]. Langkah tersebut bukan bertujuan untuk meninggalkan Medan [Sumatera Utara], tapi akibat dari hubungan yang selama ini terjalin.
“Bukan maksud kita membelakangi Medan, tapi mereka mau sendiri. Lihatlah nanti beberapa hari lagi, insyaallah,” sebut Gubernur Aceh, disambut tepuk tangan hadirin.
Ia menyebut ketergantungan ekonomi Aceh terhadap jalur perdagangan melalui Medan harus segera dikurangi. Ia menilai Aceh perlu memiliki jalur dagang sendiri agar perputaran ekonomi daerah lebih mandiri dan efisien.
Baca juga: Terbitkan Ingub, Pemerintah Aceh Mulai Benahi HGU Bermasalah
Selain membahas rencana pelayaran Krukuh–Penang, Mualem juga menyinggung kebijakan lain yang akan dijalankan pemerintahannya. Ia memastikan penerbangan haji dan umrah akan dipusatkan dari Aceh tanpa harus melalui daerah lain.
“Penerbangan haji dan umrah dipusatkan dari Aceh,” ujarnya.
Di kesempatan yang sama, Mualem menyoroti persoalan infrastruktur pelabuhan perikanan di Aceh yang masih terbatas. Menurutnya, kapal nelayan hanya bisa bersandar saat air pasang. Untuk itu, ia menyebut Pemerintah Aceh berencana mengeruk dan memperdalam kawasan muara atau kuala di seluruh agar kapal dapat masuk kapan saja.
“Masalah di Aceh kapal nelayan baru bisa masuk kalau air pasang. Program kita akan mengeruk dan memperdalam kuala agar kapal bisa masuk kapan saja,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mualem juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia Aceh. Ia berharap masyarakat dapat berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing dalam membangun daerah.
“Membangun Aceh adalah kerja kolektif. Untuk apa ramai-ramai kalau kita tercerai berai,” tutupnya.












