
Komparatif.ID, Bireuen— Sudah lebih dari empat bulan warga Gampong Kuala Ceurape, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, belum dapat menikmati suplai air bersih dari PDAM Krueng Peusangan. Kondisi ini terjadi sejak bencana banjir dan longsor yang melanda pada 26 November 2025 lalu.
Sejak saat itu, masyarakat Kuala Ceurape terpaksa menggunakan air yang berbau amoniak untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari mandi, memasak hingga mencuci pakaian. Perubahan kualitas air juga terjadi pada sejumlah sumber air warga, termasuk empat unit sumur bor yang dilaporkan berubah warna.
Seorang warga, Furqan, menyebutkan saat ini telah tersedia satu unit mesin penyulingan air bersih yang ditempatkan di meunasah gampong. Air hasil penyulingan tersebut dapat dikonsumsi, namun belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga secara menyeluruh karena keterbatasan distribusi.
Ia menambahkan, sebagian warga juga berupaya mencari solusi secara mandiri dengan membuat sumur bor skala rumah tangga. Selain itu, ada pula upaya penyaringan air secara manual menggunakan jerigen, batu kerikil, dan jerami aren. Namun, menurutnya, metode tersebut masih jauh dari sempurna.
“Alternatif secara manual masih jauh dari sempurna, solusinya air PDAM,” ujar Furqan, Sabtu (28/03/2026).
Baca juga: Sempat Macet 4 Hari, Suplai PDAM Krueng Peusangan di Peudada Kembali Normal
Keuchik Gampong Kuala Ceurape, Nasrul, membenarkan hingga kini belum ada perbaikan jaringan air bersih dari pihak PDAM Krueng Peusangan di desanya. Ia mengatakan pihak gampong telah menyampaikan kondisi tersebut kepada Camat Jangka.
Sementara itu, sebelum Hari Raya Idulfitri, Palang Merah Indonesia (PMI) Bireuen bersama petugas pemadam kebakaran sempat aktif menyalurkan bantuan air bersih kepada warga. Namun, bantuan tersebut dilaporkan belum berlanjut kembali setelah lebaran.
Camat Jangka, Mulyadi SP., MSM., menjelaskan pihaknya telah menyampaikan keluhan warga secara langsung kepada pengawas PDAM Krueng Peusangan.
Berdasarkan penjelasan yang diterima, jaringan pipa dari Kecamatan Kuta Blang menuju Gampong Kuala Ceurape mengalami kerusakan akibat banjir yang terjadi bersamaan dengan robohnya jembatan Rancong pada November lalu.
Untuk penanganan ke depan, jalur distribusi air direncanakan akan dialihkan dari wilayah Peusangan. Saat ini, instansi terkait sedang dalam proses pembebasan lahan, dengan rencana pekerjaan dimulai pada April 2026.
Mulyadi juga menyebutkan sebelumnya pihak kecamatan telah memfasilitasi penyediaan mesin penyulingan air bersih di meunasah gampong melalui bantuan dr. Purnama Setia Budi, serta pembangunan satu unit sumur bor di lokasi yang sama.
Ia mengakui ketersediaan air saat ini belum sepenuhnya mencukupi seperti sebelum bencana terjadi, namun warga sudah dapat memanfaatkan sumber air yang ada sesuai kebutuhan.
“Usaha saya hanya memfasilitasi aspirasi warga di seluruh wilayah kerja. Saat ini sudah memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, sementara pelaksanaan teknis menjadi ranah dinas terkait,” ujar Mulyadi saat dihubungi melalui telepon.












