Komparatif.ID, Banda Aceh— Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Aceh mempercepat upaya pemulihan pascabencana melalui program padat karya tunai atau Cash for Work di Kabupaten Pidie Jaya dan Aceh Tamiang pada akhir Maret 2026.
Kepala Posko Wilayah Satgas PRR Aceh, Dr. Safrizal ZA, menyampaikan kegiatan pemulihan tidak mengalami jeda meski berada dalam suasana pascalebaran.
Ia mengatakan percepatan tetap menjadi prioritas agar kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat dapat segera pulih. Program Cash for Work tersebut diwujudkan dalam bentuk kegiatan pembersihan lingkungan yang melibatkan ratusan warga dan unsur terkait.
Di Kabupaten Pidie Jaya, kegiatan tahap pertama melibatkan sebanyak 375 orang yang terdiri dari personel Satuan Polisi Pamong Praja, Perlindungan Masyarakat, Relawan Pemadam Kebakaran, serta masyarakat setempat.
Kegiatan ini dipusatkan di Gampong Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, dan Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, yang dijadwalkan berlangsung mulai 28 Maret hingga 4 April 2026.
Sementara itu, di Kabupaten Aceh Tamiang, program serupa telah dimulai lebih awal pada 27 Maret 2026 dengan melibatkan sekitar 400 warga. Kegiatan pembersihan lingkungan di daerah tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 2 April 2026.
Seluruh peserta berperan dalam membersihkan lingkungan yang terdampak sebagai bagian dari proses pemulihan fisik kawasan.
Baca juga: Penanganan Bencana di Bireuen Dilaksanakan Sesuai Prosedur
Menurut Safrizal, program ini tidak hanya berfokus pada percepatan pemulihan lingkungan, tetapi juga diarahkan untuk membantu masyarakat dalam menggerakkan kembali aktivitas ekonomi setelah terdampak bencana.
Melalui skema padat karya tunai, masyarakat yang terlibat memperoleh kompensasi langsung atas pekerjaan yang dilakukan.
Setiap pekerja dalam program ini mendapatkan uang saku sebesar Rp120.000 dan uang makan sebesar Rp45.000 per hari. Pembayaran dilakukan secara tunai dan langsung kepada masing-masing individu sebagai bentuk komitmen terhadap transparansi dan efektivitas penyaluran bantuan.
Safrizal menegaskan prinsip utama dalam pelaksanaan program ini adalah menjaga semangat gotong royong sekaligus memastikan hak ekonomi masyarakat terpenuhi dengan baik.
“Prinsip kita adalah transparansi dan efektivitas. Dana ini disalurkan langsung secara tunai kepada masing-masing pekerja di lapangan. Kita ingin semangat gotong-royong ini tetap terjaga, namun hak ekonomi masyarakat tetap menjadi prioritas utama untuk segera dicairkan,” pungkasnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk memastikan seluruh wilayah terdampak di Aceh kembali pulih dengan standar yang lebih baik (build back better).













