
Komparatif.ID, Bireuen— Sejumlah pelanggan PDAM Krueng Peusangan di Kecamatan Peudada mengeluhkan macetnya suplai air bersih sejak Minggu, 22 Februari 2026 hingga Rabu, 25 Februari 2026.
Salah seorang pelanggan, Misbahuddin, mengaku kecewa karena air tidak mengalir selama beberapa hari tanpa pemberitahuan yang jelas dari pihak perusahaan daerah tersebut.
“Pada malam Rabu sempat aktif hingga siang hari, namun tanpa pemberitahuan pada sore harinya hingga malam Kamis tidak berfungsi lagi,” ujar Misbahuddin dengan nada kecewa, Rabu (25/02/2026).
Menurutnya, kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Selain suplai yang kerap terhenti, kualitas air yang diterima pelanggan juga sering kali keruh hingga berwarna kuning. Ia menilai kondisi tersebut seolah tidak melalui proses penyaringan yang memadai. Padahal, setiap bulan pelanggan tetap dikenakan biaya pemeliharaan sebesar Rp20 ribu yang rutin dikutip.
Sebagai pengusaha warung kopi di Kecamatan Peudada, Misbahuddin mengaku mengalami kerugian akibat terganggunya pasokan air. Ia harus membayar tagihan air PDAM sekitar Rp300 ribu per bulan. Di sisi lain, untuk memenuhi kebutuhan operasional usahanya, ia terpaksa membeli air galon hingga Rp60 ribu per hari. Jika diakumulasi, total pengeluaran untuk kebutuhan air mencapai sekitar Rp2.100.000 per bulan.
Misbahuddin menyebutkan persoalan ini telah berlangsung sejak 2023 hingga 2025 tanpa adanya pembenahan yang signifikan. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan beberapa tahun sebelumnya ketika air yang disuplai masih bersih dan bahkan dapat diminum langsung setelah dimasak.
Baca juga: Air PDAM Belum Mengalir, Warga Kuala Ceurape Bangun Sumur Bor
Ia juga mengusulkan agar sistem pembayaran dilakukan melalui aplikasi berbasis digital. Menurutnya, pola pembayaran manual sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.
Selain itu, ia meminta agar layanan pengaduan benar-benar responsif dan nomor kontak yang dicantumkan dapat dihubungi pelanggan saat terjadi gangguan.
Dampak tidak tersedianya air bersih juga dirasakan di fasilitas umum. Di Masjid Baitunnur Peudada, sempat diumumkan agar para jamaah mengambil wudhu di rumah masing-masing karena air PDAM tidak tersedia selama beberapa hari terakhir.
Keluhan serupa disampaikan Syahrul Ramadhan, warga Gampong Meunasah Krueng, Kecamatan Peudada. Ia mengaku harus mengangkut air dari sungai untuk mandi, memasak, dan kebutuhan lainnya selama suplai PDAM tidak mengalir.
Terkait kualitas air, ia membenarkan bahwa air sering berwarna kuning saat musim hujan dan alirannya tersendat hingga sekitar satu jam sebelum kembali mengalir.
Para pelanggan berharap suplai air di wilayah Peudada dapat kembali normal sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga tanpa harus mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan, sementara tagihan tetap dibayarkan setiap bulan.
Penjelasan PDAM Krueng Peusangan
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur PDAM Krueng Peusangan, Khairul Mahbub, menjelaskan kondisi Sungai Peudada masih dalam keadaan darurat sehingga proses pemeliharaan harus menggunakan alat berat berupa ekskavator dan dibantu tenaga manusia selama tiga hari berturut-turut.
“Kami berharap para pelanggan bersabar, karena kami sedang mengupayakan pemeliharaan segera selesai,” jelas Khairul Mahbub melalui saluran telepon.
Ia menambahkan, belum normalnya suplai air bersih disebabkan karena proses perbaikan masih dalam tahap percobaan pada malam sebelumnya, dan pada sore hingga malam hari kembali dilanjutkan pekerjaan perbaikan.
Terkait kondisi air yang keruh hingga berwarna kuning, ia menyebutkan hal tersebut terjadi karena air sungai bercampur lumpur setelah hujan turun. Saat air ditarik ke tabung penyimpanan, terdapat tumpukan lumpur yang mengelilingi bagian dalam ujung pipa sehingga terbawa bersama aliran air ke pelanggan.












