Komparatif.ID, Banda Aceh— Ketua Program Studi S3 Studi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Syamsul Rijal, mengingatkan pentingnya memaknai Ramadan sebagai ruang transformasi diri, bukan sekadar siklus ibadah tahunan yang berulang tanpa makna.
Pesan tersebut ia sampaikan dalam ceramah tarawih hadapan jamaah yang memadati Masjid Fathu Qarib, Banda Aceh, Rabu, 25 Februari 2026.
Dalam tausiyahnya, Prof. Syamsul mengajak umat Islam untuk merefleksikan seberapa jauh Ramadan memberikan dampak terhadap perubahan karakter dan kualitas diri. Ia mengilustrasikan dengan contoh sederhana tentang rentang usia seseorang yang telah lama menjalankan ibadah puasa.
“Jika seseorang mulai berpuasa sejak usia 10 tahun dan hari ini berusia 70, berarti ia telah 60 kali berjumpa Ramadan. Pertanyaannya, apa yang berubah?” ujarnya.
Menurut dia, keberuntungan Ramadan tidak otomatis hadir hanya karena seseorang menunaikan kewajiban puasa. Ia mengutip peringatan Nabi Muhammad tentang adanya orang yang berpuasa namun tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan dahaga.
Hal itu, kata dia, menjadi pengingat bahwa esensi Ramadan tidak berhenti pada menahan diri dari makan dan minum, tetapi menyentuh dimensi batin yang lebih dalam.
Prof. Syamsul menjelaskan inti dari Ramadan adalah pembersihan hati dan perbaikan akhlak. Ia menekankan pentingnya mengosongkan hati dari riya, kesombongan, serta dorongan ingin dipuji dalam menjalankan ibadah. Menurutnya, ibadah yang dilakukan tanpa keikhlasan berpotensi kehilangan makna spiritualnya.
Baca juga: Prof. Syamsul Rijal: SDM Unggul Berakar pada Integritas
“Ibadah harus menghadirkan keikhlasan dan berdampak pada perilaku sosial,” katanya.
Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian orang yang merasa paling benar dan seolah memegang “kunci surga”. Sikap tersebut, menurutnya, tidak sejalan dengan ajaran agama yang menekankan empati, kerendahan hati, dan doa bagi sesama.
Ia mengingatkan agama tidak mengajarkan penghakiman terhadap orang lain, melainkan mendorong umat untuk memperbaiki diri dan menjaga hubungan sosial dengan baik.
Prof. Syamsul mengutip Surah Taha sebagai rujukan tentang etika komunikasi. Ia menjelaskan bahkan kepada Fir’aun sekalipun, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan lemah lembut.
Pesan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa dakwah harus disampaikan dengan cara yang santun dan penuh kebijaksanaan, bukan dengan sikap keras atau merendahkan.
Selain itu, ia juga menyinggung doa Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan sebagai contoh refleksi diri dan pengakuan atas keterbatasan manusia. Doa tersebut, menurutnya, menjadi pelajaran bahwa dalam situasi sulit, yang dibutuhkan bukan sekadar keluhan, melainkan kesadaran atas kesalahan dan kepasrahan kepada Allah.













