BREAKING
Khazanah

Suami Terlalu Sempurna, Seorang Istri di India Ajukan Perceraian

suami terlalu sempurna
Seorang istri di India yang dilanda kufur al-asyir menggugat suami ke Pengadilan Syariah. Ia menggugat cerai karena suaminya terlalu baik. Para ulama menyebutkan peristiwa itu merupakan fenomena kufur al-asyir. Foto: Ilsutrasi Nano Banana 2.

Seorang istri di India mengajukan perceraian ke pengadilan karena sang suami terlalu sempurna. Baginya kehidupan rumah tangga menjadi hambar karena tak ada pertengkaran.

Komparatif.ID, Sambhal— Ricardo Kaka menjadi suami terlalu sempurna bagi Caroline Celico. Legenda sepak bola Brazil tersebut harus berpisah dari istrinya karena dia terlalu baik. Tidak pernah selingkuh, tidak kasar, tidak mabuk-mabukan, tidak party, dan menjauhi dunia malam.

Menurut istrinya, selama 10 tahun pernikahan mereka, peraih  Ballon d’Or 2007 tersebut tidak mampu menghadirkan kehangatan. Caroline merasa tidak bergairah dengan cara hidup dan sikap Kaka yang terlampau lurus dan baik.

Pada 2015, akhirnya Kaka harus melepaskan istrinya. Ia tidak melakukan kesalahan. Tapi itulah kesalahan.

Caroline bukanlah satu-satunya istri yang bertingkah unik di dunia. Setidaknya di India, ada seorang istri yang berperilaku sama seperti Caroline. Identitasnya dirahasiakan, tapi kasusnya diberitakan.

Baca: Leon Gillespie Menyamar Sebagai Malaikat Maut

Pada akhir Agustus 2020, publik India dibuat heboh. Bukan oleh bencana alam. Bukan oleh kejahatan kemanusiaan. Bukan pula oleh konflik panjang India dan Pakistan. Tapi oleh sesuatu yang tidak masuk akal. Seorang istri menggugat cerai suami, karena suami terlalu sempurna.

Sebut saja namanya Rani, dan suami Ajay. Mereka tinggal di Distrik Sambhal, Negara Bagian Uttar Pradesh. Rani yang baru menikah 18 bulan dengan suaminya, mengajukan perceraian ke Pengadilan Syariah Distrik Sambhal.

Sang suami digugat cerai bukan karena melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), bukan karena selingkuh, bukan karena mabuk-mabukan. Bukan juga karena malas, atau berperilaku menyimpang.

Perceraian itu diajukan karena sang suami terlalu sempurna. Selama 18 bulan berumah tangga, Ajay—kita sebut saja demikian—tidak pernah kasar kepada sang istri. Selalu bersikap lembut, romantis, dan mereka tidak pernah bertengkar.

Koran lokal Indo-Asian News Service melaporkan, hakim di Pengadilan Syariah geleng-geleng kepala mendapatkan gugatan tersebut. Mereka tak habis pikir mengapa Rani mengajukan perceraian, padahal suamianya tak melakukan kesalahan.

Kesalahan sang suami adalah, “Dia tidak pernah marah. Tidak pernah membentak. Tidak pernah mengecewakan saya. Ia rajin memasak dan selalu membantu saya menyelesaikan pekerjaan di rumah,” ujar Rani di depan majelis hakim Syariah. Demikian dilansir media nasional India Today.

Kesalahan selanjutnya dari sang suami terlalu sempurna itu, ia langsung memberikan maaf bila istrinya melakukan kesalahan.

Menurut Rani, suami yang demikian tidak membuatnya bahagia. Hidupnya justru kosong, sesak, dan merasa kehidupan rumah tangganya tak bahagia. Hidup dalam lingkungan tanpa konflik, membuat Rani tidak nyaman.

Menurut Rani, tidak boleh suami terlalu sempurna. Sebuah hubungan pernikahan yang sehat harus berisi pertengkaran, perdebatan. Hidup tanpa konflik, bukanlah pernikahan.

Alasan gila tersebut membuat para hakim geleng-geleng kepala. Apalagi finansial juga bukan persoalan, konon lagi perselingkuhan.Tak perlu kajian mendalam bagi hakim Syariah untuk memutuskan bahwa gugatan tersebut ditolak.

Merasa aspirasinya tak mendapatkan saluran, Rani pun mencari solusi ke Dewan Adat di Sambhal. Kali ini sang suami mulai merasakan kesedihan mendalam. Ajay benar-benar seperti dilecehkan harga dirinya. Ia pun mulai membela diri di depan Dewan Adat.

Kepada Dewan Adat ia mengaku bingung mengapa gugatan cerai diajukan, padahal dirinya berperilaku baik, mencukupkan semua kebutuhan istrinya, membantu istrinya di rumah. Ia menjadi suami yang peduli dan lemah lembut, semata-mata hanya demi membahagiakan sang belahan jiwa.

“Secara hukum agama dan hukum nasional, serta hukum adat, aku tidak melakukan kesalahan apa pun dalam berumah tangga,” katanya di depan Dewan Adat.

Meski telah dilecehkan karena berbuat baik, ia tetap mencintai Rani. Dia pun meminta bantuan Dewan Adat supaya menyelematkan istrinya dari godaan hawa nafsu yang dipengaruhi oleh bisikan setan.

Para tetua adat yang berhimpun dalam Panchayat (Dewan Adat/tokoh-tokoh masyarakat) bersepakat bahwa gugatan Rani tidak memiliki landasan apa pun. Sang perempuan hanya memperturutkan hawa nafsunya. Para tetua adat menyampaikan tidak mampu memberikan keputusan bersebab gugatan tidak masuk akal.

Seperti keputusan Pengadilan Syariah, Dewan Adat juga meminta Rani dan Sjay pulang ke rumah dan menyelesaikan dinamika hubungan kedua di dalam rumah.

Suami Terlalu Sempurna dan Kufur al-Asyir

Peristiwa yang terjadi di Sambhal tersebut menjadi perhatian para ulama di sana. Para cendekiawan muslim kemudian menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh sang istri merupaka bentuk kufur al-asyir (mengingkari kebaikan suami). Itulah yang menyebabkan mengapa banyak wanita di yaumil qiyamah masuk neraka.

Para ulama mengutip hadist Rasulullah yang mengingatkan salah satu penyebab mengapa banyak wanita masuk neraka, diakibatkan oleh sifat kufur al-asyir, yaitu tindakan pengingkaran terhadap kebaikan suami.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *