Home News Internasional Stasiun Ini Batal Tutup Demi Antar 1 Siswi ke Sekolah

Stasiun Ini Batal Tutup Demi Antar 1 Siswi ke Sekolah

Stasiun Ini Batal Tutup Demi Antar/Jemput 1 Siswi ke Sekolah
Stasiun Kami-Shirataki di Pulau Hokkaido, Jepang, yang sempat tetap beroperasi demi melayani satu siswi SMA sebelum akhirnya ditutup permanen pada Maret 2016. Foto: キャシー青空.

Komparatif.ID, Tokyo— Stasiun Kami-Shirataki di Hokkaido, Jepang, tetap beroperasi hanya untuk melayani satu siswi SMA bernama Kana Harada yang berangkat dan pulang sekolah. Japan Railway Company atau JR menunda penutupan stasiun tersebut hingga sang siswi lulus sekolah pada Maret 2016.

Lokasinya yang jauh dari pusat keramaian serta berakhirnya operasional kereta kargo membuat operator Japan Railway Company atau JR sempat mengambil keputusan untuk menghentikan layanan di tempat tersebut.

Rencana penutupan sebenarnya telah disusun sekitar tiga tahun sebelumnya. Namun keputusan itu berubah setelah pihak operator mengetahui bahwa masih ada satu penumpang setia yang setiap hari memanfaatkan stasiun tersebut untuk pergi dan pulang sekolah.

Mengetahui hal tersebut, Japan Railway memilih menunda penutupan Stasiun Kami-Shirataki. Operator memutuskan tetap membuka pemberhentian itu hingga siswi tersebut menyelesaikan pendidikannya.

Jadwal kereta bahkan disesuaikan secara khusus dengan jam sekolahnya. Setiap hari hanya ada dua kereta yang berhenti, satu pada pagi hari untuk mengantarkannya ke sekolah dan satu lagi pada sore hari untuk menjemputnya pulang.

Baca juga: Pertumbuhan Islam di Jepang Semakin Meningkat

Stasiun yang berada di wilayah Hokkaido itu pun beroperasi dengan pola yang unik. Kereta datang dan pergi mengikuti kebutuhan satu penumpang saja. Keputusan tersebut berlaku hingga siswi itu lulus pada 26 Maret 2016. Setelah hari kelulusannya, stasiun akhirnya benar-benar ditutup sesuai rencana awal.

Langkah Japan Railway mendapat perhatian luas dari masyarakat Jepang dan warganet di berbagai negara. Banyak yang memuji keputusan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan dan pelayanan publik.

Di media sosial, sejumlah komentar menyebut tindakan itu sebagai contoh tata kelola yang mengutamakan kepentingan warga, bahkan ketika jumlahnya hanya satu orang.

Kini Kami-Shirataki mungkin tidak lagi beroperasi, tetapi kisahnya tetap dikenang sebagai cerita sederhana tentang dedikasi dan komitmen terhadap pelayanan.

Previous articleMudik Gratis Pemerintah Aceh Dibuka Hari Ini, Ini Rute dan Cara Daftarnya
Next article4.347 KK di Bireuen Terima Rp86,1 Miliar Bantuan Stimulan Perbaikan Rumah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here