Dunia intelektual Islam kembali kehilangan salah satu pelita besarnya. Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang filsuf, pemikir peradaban, sekaligus cendekiawan Muslim terkemuka di era kontemporer, wafat pada 8 Maret 2026 dalam usia 94 tahun di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kepergian tokoh besar ini bukan hanya menjadi kabar duka bagi Malaysia dan Asia Tenggara, tetapi juga bagi dunia pemikiran Islam secara global. Banyak kalangan menilai wafatnya al-Attas menandai berakhirnya satu bab penting dalam sejarah intelektual Islam modern.
Selama lebih dari setengah abad, al-Attas dikenal sebagai pemikir yang konsisten membangun kembali fondasi peradaban Islam melalui gagasan tentang ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pandangan dunia Islam (Islamic worldview).
Ia juga dikenal sebagai pendiri International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur, sebuah lembaga pendidikan tinggi yang dirancang untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam dalam kerangka peradaban modern.
Pemikirannya dibaca luas di berbagai universitas dunia dan menjadi rujukan penting dalam kajian filsafat Islam, pendidikan Islam, serta epistemologi keilmuan.
Dalam banyak hal, gagasan al-Attas dipandang sebagai respons intelektual terhadap krisis yang dihadapi umat Islam ketika berhadapan dengan modernitas Barat. Ia menekankan pentingnya mengembalikan ilmu pengetahuan kepada kerangka pandangan dunia Islam yang berakar pada tauhid, adab, dan tradisi keilmuan klasik.
Latar Belakang Keturunan
Syed Muhammad Naquib al-Attas lahir dari keluarga yang memiliki tradisi intelektual dan spiritual yang kuat. Ia berasal dari keturunan Arab Hadrami dengan garis nasab Ba‘Alawi yang bersambung hingga kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui jalur Husayn ibn Ali.
Keluarga Ba‘Alawi sendiri dikenal sebagai salah satu keluarga ulama terkemuka dari Hadramaut, Yaman.
Ayahnya, Syed Ali bin Abdullah al-Attas, dikenal sebagai sosok yang memiliki kedekatan dengan kalangan aristokrat Melayu di Johor. Sementara ibunya, Syarifah Raquan al-Aydarus, berasal dari keluarga bangsawan Sunda di Jawa Barat.
Perpaduan antara tradisi keilmuan Arab dan budaya Melayu tersebut membentuk karakter intelektual al-Attas sejak usia dini. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menghargai ilmu pengetahuan, sastra, dan spiritualitas Islam.
Sejak kecil ia telah diperkenalkan dengan karya-karya klasik, sejarah peradaban Islam, serta tradisi tasawuf yang kuat dalam dunia Islam.
Latar Belakang Pendidikan Syed Muhammad Naquib al-Attas
Perjalanan pendidikan Syed Muhammad Naquib al-Attas menunjukkan perpaduan yang unik antara tradisi keilmuan Islam klasik dan pendidikan modern Barat. Ia lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 5 September 1931 dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menghargai tradisi ilmu, sastra, serta spiritualitas Islam.
Pendidikan awalnya ditempuh di beberapa sekolah di Jawa dan Johor. Sejak usia muda, al-Attas sudah terbiasa membaca literatur klasik Melayu dan Arab. Lingkungan keluarga yang intelektual membuatnya akrab dengan manuskrip lama dan pemikiran para ulama terdahulu. Pengalaman ini menjadi fondasi penting yang membentuk karakter intelektualnya di kemudian hari.
Pada masa mudanya, al-Attas sempat menempuh pendidikan militer di Royal Military Academy Sandhurst di Inggris. Pengalaman tersebut membentuk disiplin, keteguhan karakter, serta memperluas wawasannya tentang dunia internasional. Namun minatnya yang lebih besar pada dunia ilmu pengetahuan membuatnya kemudian meninggalkan jalur militer dan memilih berkarier di dunia akademik.
Ia kemudian melanjutkan studi di University of Malaya di Singapura. Di kampus ini, al-Attas mulai secara serius mendalami sejarah, bahasa, dan sastra Melayu. Ketertarikannya terhadap sejarah intelektual Islam di kawasan Nusantara juga berkembang pesat pada masa ini.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, al-Attas melanjutkan studi pascasarjana di McGill University di Kanada. Di sana ia belajar di bawah bimbingan sejumlah sarjana besar dalam bidang studi Islam. Lingkungan akademik internasional tersebut memperkaya perspektifnya tentang peradaban Islam serta hubungan intelektual antara Timur dan Barat.
Selanjutnya, ia menempuh studi doktoral di School of Oriental and African Studies. Disertasinya yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri menjadi salah satu karya akademik penting dalam kajian tasawuf Melayu.
Hingga kini, karya tersebut masih menjadi rujukan utama dalam penelitian tentang tokoh sufi besar Nusantara, Hamzah Fansuri.
Karya-Karya Penting
Sebagai seorang cendekiawan, Syed Muhammad Naquib al-Attas dikenal sangat produktif dalam menulis. Ia menghasilkan lebih dari tiga puluh karya ilmiah yang membahas berbagai bidang, mulai dari filsafat Islam, sejarah intelektual, tasawuf, pendidikan, hingga peradaban Melayu. Karya-karyanya banyak dijadikan rujukan dalam kajian akademik di berbagai universitas di dunia.
Sejumlah buku penting yang ditulis al-Attas antara lain:
1. Some Aspects of Sufism as Understood and Practised Among the Malays (1963)
2. The Origin of the Malay Sha‘ir (1968)
3. The Mysticism of Hamzah Fansuri (1970)
4. Islam and Secularism (1978)
5. The Concept of Education in Islam (1979)
6. Prolegomena to the Metaphysics of Islam (1995)
7. The Meaning and Experience of Happiness in Islam (1993)
8. Historical Fact and Fiction (2011)
Di antara karya tersebut, Islam and Secularism menjadi salah satu buku yang paling berpengaruh karena memuat kritik mendalam terhadap sekularisme dalam peradaban modern.
Sementara Prolegomena to the Metaphysics of Islam sering dianggap sebagai karya filosofis penting yang menjelaskan kerangka pandangan dunia Islam (Islamic worldview).
Pemikiran dan Kontribusi Al-Attas/h2>
Dalam dunia intelektual Islam kontemporer, Syed Muhammad Naquib al-Attas dikenal sebagai pemikir yang berupaya membangun kembali fondasi peradaban Islam melalui gagasan tentang ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pandangan dunia yang berlandaskan tauhid.
Sejumlah pemikirannya memberi pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran Islam modern, terutama dalam merespons tantangan modernitas.
Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Salah satu gagasan paling terkenal dari al-Attas adalah konsep Islamisasi ilmu pengetahuan. Ia menilai bahwa krisis terbesar yang dihadapi umat Islam modern bukan semata krisis politik atau ekonomi, melainkan krisis dalam bidang ilmu.
Menurutnya, sistem ilmu pengetahuan modern yang berkembang di Barat membawa pandangan dunia sekuler yang memisahkan ilmu dari wahyu dan nilai spiritual.
Karena itu, al-Attas menawarkan konsep Islamisasi ilmu, yakni upaya membebaskan ilmu pengetahuan dari pengaruh sekularisme, lalu menyusunnya kembali berdasarkan nilai dan pandangan dunia Islam.
Konsep Ta’dib dalam Pendidikan
Dalam bidang pendidikan, al-Attas memperkenalkan konsep ta’dib sebagai dasar pendidikan Islam. Ia berpendapat bahwa istilah tarbiyah atau ta‘lim belum sepenuhnya mencerminkan tujuan pendidikan dalam Islam.
Menurut al-Attas, pendidikan yang ideal adalah proses penanaman adab dalam diri manusia. Adab dalam pandangannya berarti kemampuan menempatkan sesuatu secara tepat dalam tatanan wujud dan pengetahuan.
Dengan demikian, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang beradab.
Pandangan Dunia Islam (Islamic Worldview)
Al-Attas juga menekankan pentingnya membangun pandangan dunia Islam yang kokoh. Ia berpandangan bahwa setiap peradaban memiliki worldview yang menjadi dasar bagi perkembangan ilmu, budaya, dan kehidupan sosial.
Dalam Islam, pandangan dunia tersebut berpusat pada tauhid. Karena itu, seluruh sistem ilmu pengetahuan seharusnya berakar pada keyakinan bahwa Allah adalah sumber kebenaran dan pengetahuan.
Baca juga: Mengapa Bekas Jajahan Inggris Lebih Maju Ketimbang Bekas Jajahan Spanyol dan Belanda?
Kritik terhadap Sekularisme
Melalui karya terkenalnya, Islam and Secularism, al-Attas mengemukakan kritik tajam terhadap sekularisme. Ia melihat sekularisme sebagai ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan publik, termasuk dari dunia ilmu pengetahuan.
Akibatnya, manusia modern kehilangan orientasi spiritual dan mengalami krisis makna dalam kehidupan. Menurut al-Attas, jalan keluar dari krisis tersebut adalah dengan mengembalikan ilmu pengetahuan kepada kerangka pandangan dunia Islam yang menempatkan wahyu sebagai sumber utama kebenaran.
Wafatnya Syed Muhammad Naquib al-Attas merupakan kehilangan besar bagi dunia intelektual Islam. Ia tidak hanya dikenal sebagai akademisi, tetapi juga sebagai pemikir peradaban yang sepanjang hidupnya berupaya menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam di tengah tantangan modernitas.
Melalui gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan, konsep ta’dib dalam pendidikan, serta upaya membangun pandangan dunia Islam yang berpusat pada tauhid, al-Attas telah memberikan kontribusi penting bagi kebangkitan intelektual umat Islam di era modern.
Kini sang pelita ilmu telah berpulang, namun cahaya pemikirannya diyakini akan terus menerangi perjalanan intelektual umat Islam melalui karya-karya ilmiah, lembaga pendidikan yang ia rintis, serta generasi sarjana yang terinspirasi oleh pemikirannya.
Bagi umat Islam hari ini, pelajaran penting dari pemikiran al-Attas adalah pentingnya membangun kebangkitan yang menyeluruh. Umat Islam perlu memperkuat iman, memperdalam ilmu pengetahuan, serta membangun kemandirian ekonomi dan mempererat persatuan.
Kebangkitan peradaban tidak hanya bergantung pada kekuatan spiritual, tetapi juga pada penguasaan ilmu, teknologi, serta kemampuan membangun sistem sosial dan ekonomi yang adil dan berkelanjutan.
Di berbagai belahan dunia, umat Islam masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik hingga diskriminasi. Kondisi tersebut terlihat di berbagai wilayah dunia Islam yang masih menghadapi konflik berkepanjangan seperti Palestina, Suriah, Yaman, dan Afghanistan.
Selain itu, persoalan kemanusiaan juga dialami oleh komunitas Muslim Rohingya di Myanmar serta Uyghur di Xinjiang, Tiongkok, sementara wilayah Kashmir juga masih menyimpan ketegangan geopolitik antara India dan Pakistan.
Tantangan tersebut menunjukkan bahwa umat Islam membutuhkan persatuan, kekuatan ilmu pengetahuan, serta kemandirian yang lebih kuat untuk menghadapi dinamika dunia yang semakin kompleks.
Karena itu, generasi masa depan perlu didorong untuk melanjutkan semangat intelektual yang diwariskan al-Attas. Umat Islam perlu memperkuat iman dan spiritualitas, mengembangkan sains dan teknologi, membangun ketahanan ekonomi, pangan, dan energi, serta memanfaatkan sumber daya manusia dan alam secara bijaksana.
Pada saat yang sama, persatuan umat, diplomasi yang bijak, serta kemampuan berpikir kritis harus terus diperkuat agar umat mampu menghadapi perubahan zaman dengan percaya diri dan berani.
Pada akhirnya, kebangkitan umat Islam hanya dapat terwujud apabila ilmu, adab, dan keimanan berjalan beriringan dalam kehidupan umat. Dengan fondasi tersebut, diharapkan akan lahir generasi yang kuat secara spiritual, intelektual, emosional, dan finansial.
Generasi inilah yang kelak akan melanjutkan perjuangan membangun peradaban Islam yang maju, bermartabat, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia di seluruh dunia.
Penulis: Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag. Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh.













