Home News Nasional BMKG: Siklon Tropis Senyar Pecahkan Rekor Curah Hujan Tertinggi Sejak 1991

BMKG: Siklon Tropis Senyar Pecahkan Rekor Curah Hujan Tertinggi Sejak 1991

BMKG: Siklon Tropis Senyar Pecahkan Rekor Curah Hujan Tertinggi Sejak 1991
BMKG mencatat siklon tropis senyar menyebabkan curah hujan tertinggi sejak 1991. Foto: Dok. BMKG.

Komparatif.ID, Jakarta— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) fenomena Siklon Tropis Senyar yang melanda wilayah Sumatra pada penghujung 2025 memicu curah hujan yang melampaui batas normal dan mencatatkan rekor tertinggi sejak 1991.

Siklon Tropis Senyar menyebabkan banjir dahsyat yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.

“Siklon Senyar telah menghasilkan rekor curah hujan dasarian III November tertinggi sejak tahun 1991. Di Kecamatan Koto Tangah, Sumatra Barat, curah hujan selama periode bencana mencapai sekitar tiga kali lipat dari hujan normal di bulan November. Di Singkil Utara, Aceh, curah hujan mencapai dua kali lipat dari kondisi normalnya,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dikutip Jumat (13/2/2026).

Ardhasena menjelaskan fenomena alam seperti Siklon Tropis Senyar merupakan bagian dari tren pemanasan global yang konsisten. BMKG mencatat sejumlah indikator yang menunjukkan perubahan iklim terus berlangsung.

Data BMKG menunjukkan pada 2024 tercatat sebagai tahun terpanas di Indonesia dengan suhu rata-rata mencapai 27,5 derajat Celsius. Sementara itu, tahun 2025 menempati urutan keenam sebagai tahun terpanas dengan suhu rata-rata 27,04 derajat Celsius dan anomali suhu sebesar +0,38 derajat Celsius di atas rata-rata periode normal 1991–2020.

Baca juga: Badai Siklon Tropis Senyar Landa Aceh dan Sumatera

Ardhasena menyebutkan kondisi iklim Indonesia ke depan cukup mengkhawatirkan apabila tidak dilakukan langkah mitigasi secara kolektif. Berdasarkan hasil analisis BMKG, seluruh wilayah Indonesia diproyeksikan mengalami kenaikan suhu hingga 1,6 derajat Celsius pada periode 2021–2050.

Selain peningkatan suhu, perubahan iklim juga diperkirakan memengaruhi pola curah hujan. Wilayah utara Indonesia diproyeksikan menjadi lebih basah hingga delapan persen, sedangkan wilayah selatan berpotensi menjadi lebih kering hingga sembilan persen. Perubahan ini berdampak pada frekuensi kejadian hujan ekstrem.

Sebagai contoh, hujan dengan intensitas 250 milimeter yang sebelumnya memiliki periode ulang 100 tahun diprediksi dapat terjadi kurang dari 20 tahun sekali pada masa mendatang. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di berbagai daerah.

Dampak lain yang turut menjadi perhatian adalah mencairnya tutupan es di Puncak Jaya, Papua, yang telah berkurang sekitar 98 persen sejak 1988 dan diperkirakan akan habis sepenuhnya pada akhir 2025 atau awal 2027.

Selain itu, kenaikan permukaan laut di Indonesia tercatat mencapai 4,36 milimeter per tahun, yang berisiko meningkatkan ancaman banjir rob dan abrasi di wilayah pesisir.

Previous articleBupati Pidie: Fondasi Sekolah Sehat Dimulai dari Sanitasi
Next articleBacaan Niat Salat Tarawih Lengkap: Imam, Makmum, dan Sendiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here