
Komparatif.ID, Banda Aceh— Kepala Posko Wilayah Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Aceh, Safrizal ZA, meminta seluruh pemangku kepentingan membangun komunikasi yang mampu menjamin kepastian informasi bagi masyarakat terdampak di kawasan Enang-Enang, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.
Menurutnya, keterbukaan informasi menjadi bagian penting dalam mendukung proses pemulihan pascabencana.
Hal tersebut disampaikan Safrizal sebagai tanggapan atas aksi gotong royong warga yang secara mandiri membuka kembali akses jalan dan jembatan di Tajuk Enang-Enang.
Safrizal mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang dinilainya sebagai modal sosial yang sangat berharga. Namun, ia mengingatkan setiap pekerjaan yang berkaitan dengan akses infrastruktur harus dibarengi dengan informasi teknis yang jelas demi menjamin keselamatan masyarakat.
“Semangat gotong royong warga adalah modal sosial yang sangat berharga. Namun informasi teknis perlu disampaikan demi keselamatan. Warga tidak boleh bekerja sendiri dalam kekosongan informasi,” kata Safrizal, Rabu (24/6/2026).
Ia mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU dan mendorong Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh agar segera menyampaikan informasi resmi mengenai rencana pembangunan permanen Jembatan Enang-Enang yang telah diprogramkan pada 2027.
Menurut Safrizal, informasi yang disampaikan kepada masyarakat perlu mencakup tahapan kajian teknis, perkembangan yang dapat dipantau, hingga solusi jangka menengah yang sedang dipersiapkan pemerintah. Dengan demikian, masyarakat memperoleh kepastian mengenai proses penanganan yang sedang berjalan.
Baca juga: Cabut Pernyataan Penutupan Jalan Enang-Enang, Plt Kepala BPJN Aceh Minta Maaf
Ia menilai penyampaian informasi tidak cukup dilakukan melalui media semata, tetapi juga harus disampaikan secara langsung kepada tokoh masyarakat dan warga terdampak.
Dalam hal ini, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah diminta mengambil peran lebih aktif sebagai penghubung komunikasi karena memiliki kedekatan dengan masyarakat setempat.
“Selama ini warga mencari informasi dari mulut ke mulut karena tidak ada saluran resmi. Ini yang harus kita perbaiki bersama. Tidak ada pemulihan yang berhasil tanpa kepercayaan dan komunikasi yang baik,” tegasnya.
Sebagai tindak lanjut, Posko Wilayah Satgas PRR Aceh berencana memfasilitasi pertemuan koordinasi lintas sektor yang melibatkan BPJN Aceh, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, serta perwakilan masyarakat Kecamatan Pintu Rime Gayo.
Pertemuan tersebut ditargetkan berlangsung dalam waktu dekat dengan hasil yang akan disampaikan secara terbuka kepada publik.
Selain itu, Safrizal juga mendorong BPJN Aceh untuk mempertimbangkan pemanfaatan secara terbatas terhadap akses yang telah dibuka masyarakat.
Menurutnya, apabila kondisi teknis dinyatakan memungkinkan, jalur tersebut dapat dimanfaatkan secara terukur untuk mendukung mobilitas ekonomi warga sekitar dan kendaraan ringan sambil menunggu pembangunan infrastruktur permanen.
“Jangan sampai semangat warga tidak mendapat respons proporsional. Kalau jalurnya aman, manfaatkan. Kalau ada area yang belum bisa dioptimalkan pemerintah, libatkan masyarakat setempat dalam pengelolaannya. Itu lebih produktif daripada membiarkannya terbengkalai,” ujarnya.
Posko Satgas PRR Aceh menegaskan penanganan kawasan Enang-Enang membutuhkan pendekatan yang terpadu. Upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik infrastruktur, tetapi juga memastikan masyarakat terdampak memperoleh informasi yang akurat dan berkelanjutan pada setiap tahapan proses rehabilitasi dan rekonstruksi.












