Home Gaya Hidup Kuliner Rujak Wo Baksot Cot Buket, 56 Tahun Setia Menjaga Rasa

Rujak Wo Baksot Cot Buket, 56 Tahun Setia Menjaga Rasa

Rujak Wo Baksot Cot Buket, 56 Tahun Setia Menjaga Rasa
Muhammad alias Nyak Mat, pemilik generasi ketiga Rujak Wo Baksot di Desa Cot Buket, Kecamatan Peusangan, Bireuen. Foto: Komparatif.ID.

Rujak Wo Baksot di Desa Cot Buket, merupakan salah satu warung rujak legendaris di Bireuen. Mereka mampu bertahan selama puluhan tahun, karena satu komitmen; setia menjaga rasa.

Kamis siang, 14 Juni 2026. Matahari bersinar dengan sangat garang. Meski sinar ultraviolet dipancarkan dari jarak 149,7 juta kilometer, cuaca terasa sangat menyengat. Penyebabnya karena kombinasi gerak semu matahari, atmosfer kering, minimnya pembentukan awan, peralihan musim, dan perubahan iklim.

Satu unit Toyota Kijang LGX berkelir hitam berhenti di depan warung Rujak Wo Baksot, yang berada di seberang jalan, depan Polres Bireuen.

Muhammad alias Nyak Mat, generasi ketiga yang mengelola warung rujak itu, menyambut dengan senyum manis. “Silakan duduk. Mau rujak apa? Tek tek atau cincang?”.

Tidak lama kemudian, tiga piring kecil rujak dihidangkan. Tiga orang pengunjung langsung mengudapnya.

Isnawati (50) salah seorang pengunjung yang sedang menikmati rujak, tersenyum setelah memasukkan satu sendok rujak ke mulutnya.

“Betul katamu, rujak di sini memang enak. Rasa bumbunya lengkap,” kata Isnawati kepada Khairalina (38) teman sebangku yang sebelum tiba di sana, membahas sepintas beberapa warung rujak di Bireuen.

Harga satu porsi rujak Rp12 ribu. Harga minuman bervariasi.

Tahun 1970, pemilik pertama merintis warung rujak di Cot Buket. Dulu di situ masih sepi. Rumah penduduk jarang-jarang. Polres belum ada, dan Bireuen masih bagian dari Aceh Utara.

Ketika warung rujak itu dibuka, Freeport Sabang sedang maju. Banyak orang berangkat ke sana, mencoba peruntungan, berharap mendapatkan pekerjaan dari aktivitas pelabuhan internasional di kawasan Pelabuhan Bebas Sabang.

Baca juga: Lambai Oen Peugaga, Kuliner Ramadan Aceh yang Kian Sulit Ditemukan

Perlahan warung mungil itu dibicarakan dari mulut ke mulut. Rasa rujaknya membuat penikmat rujak jatuh cinta. Meski demikian, warung itu tak kunjung diberi nama. Cukup sebut saja rujak Cot Buket, orang sudah pasti paham.

Sang pemilik pertama memiliki beberapa anak. Mereka semuanya merantau. Meski hari-hari sibuk berjualan, tapi bila malam hatinya nelangsa. Bila rindu kepada anak-anaknya, ia hanya bisa membayangkan wajah-wajah mereka.

Hingga pada suatu hari, seorang warga mengatakan, “berikan nama warung ini Rujak Wo Baksot. Insyallah, anak-anak mu akan kembali. “

Sang pemilik hanya tersenyum. Pun demikian, ia patuh saja, memberi nama warung itu sesuai yang disarankan. Qadarullah, satu persatu anaknya kembali, ada yang mmbantu di warung rujak, ada yang memilih usaha lain.

Tahun 1985 status sabang sebagai freeport dicabut oleh Pemerintah Pusat. Kawasan yang dulunya ramai, Tiba-tiba menjadi sepi. Para perantau pulang kampung. Kapal-kapal tak lagi masuk ke pelabuhan. Tinggallah warga tempatan yang hidup sembari bercerita tentang kenangan.

Di Cot Buket, warung rujak tersebut terus bertahan. Mereka sempat pindah lokasi. Tapi hanya berjarak lima meter dari letak warung pertama kali. Warung Rujak Wo Baksot bertahan melalui pergulatan zaman. Menyaksikan konflik panjang, gempabumi dan tsunami 2004, damai Aceh, hingga bencana hidrometeorologi Sumatra.

Zaman boleh berubah, kekuasaan boleh berganti, satu yang tetap sama, rasa rujak Wo Baksot tetap tak berubah. Secara turun temurun mereka setiap menjaga rasa.

“Saya generasi kelima. Usaha ini awalnya dimulai oleh paman saya. Saya mengelola warung ini sejak 1992. Saat itu harga rujak Rp400 per porsi. Ketika awal dibuka harga rujaknya Rp70,” kata Muhammad alias Nyak Mat, yang melanjutkan usaha warung itu dari sepupunya.

Bukan hanya orang Aceh yang menjadikannya pelanggan setia rujak tersebut. Orang-orang Tionghoa juga menggemari rujak yang diracik oleh Nyak Mat.

“Mereka yang duduk di sebelah sana, hampir tiap hari makan rujak di sini, “ kata Nyak Mat sembari menunjuk beberapa orang Tionghoa yang sedang menikmati rujak.

“Kadang mereka membawa tamu dari Jakarta.”

Bumbu rujak (alat lincah-Aceh) yang diracik oleh Nyak Mat telah melanglangbuana ke Kanada. Dibawa ke sana oleh seorang pelanggan setianya dari kalangan etnis Tionghoa. Sejak dipesan, dibawa ke Kanada hingga habis dilahap, jarak waktunya tiga bulan.

“Saat itu dia memesan bumbu rujak kepada saya. Rupanya untuk dibawa ke Kanada. Dia ke sana menjenguk anaknya. Dia yang bilang bila bumbu rujak saya bisa bertahan sampai tiga bulan. Tentu disimpan dengan baik,” kata pria ramah itu.

Setiap minggu dia juga rutin mengirim pesanan bumbu rujak kepada salah satu warung di Banda Aceh. Puluhan kilogram jumlahnya. Satu kilogram dijual Rp60.000.

Bagaimana dengan omzet hariannya? Nyak Mat tersenyum, kemudian menyebut angka bervariasi.

Sebagai pedagang rujak, hari-hari yang dihabiskan di warung tersebut. Bila Lebaran tiba, dia tetap jualan. Dia baru berlebihan pada malamnya. Demikian rutinitas setiap tahun.

Di sela-sela berjualan rujak, ia juga mengageni kambing. “Cari-cari tambahan saja. Pendapatannya juga bagus, “ Imbuh Nyak Mat.

Previous articleEmpat Laga, Empat Hasil Imbang: Tim-Tim Besar Tersendat di Piala Dunia 2026
Next articleGempa M 6,7 Guncang Sulawesi Tengah, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here