
Komparatif.ID, Takengon— Sore itu langit cukup gelap, gerimis mulai membasahi tanah. Selepas agenda utama mengantarkan bantuan titipan para dermawan, saya bersama istri berjalan ke dusun Ayangan, Desa Jongok, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, mengunjungi para korban bencana banjir–longsor yang menimpa Aceh 26 November lalu, Rabu (31/12/2025).
Tampak puing-puing material dan isi rumah berhamburan dalam balutan tanah. Rumah sebagian besar lenyap ditelan tanah, sebagian lain tertinggal alas Dan dinding.

Saya menghampiri seorang ibu muda yang sedang membakar sampah di lokasi tersebut, sambil ngobrol singkat.
“Dibelakang ini rumah saya yang tertimbun oleh dinding rumah tetangga. Semuanya hilang tanpa bekas pas datang longsor.” Disini ada 17 rumah yang hancur lebur diterjang longsor. Kata Wilda (41) dengan raut wajah biasa seperti tak terjadi apa-apa.

Baca juga: Angkut 2 Ton Bantuan, Syah Reza Tembus Kala Lengkio Aceh Tengah

Ia menceritakan bahwa jam 7 pagi perangkat desa menginstruksikan kepada kami untuk meninggalkan rumah, dan menuju lokasi yang aman dari longsor. Jam 10 longsor mulai menerjang rumah-rumah warga.

Pada jam itu ada seorang anak muda tetangganya kembali ke rumahnya ingin mengambil sesuatu, saat ia berada dalam rumah, terjadilah longsor, dan jasadnya masih tertimbun oleh tanah ditempat itu.
“Sepertinya pemerintah mau mencari jasadnya yang terkubur, karena sampai hari ini belum ditemukan.”
Desa Ayangan, masuk dalam daftar desa di kawasan Aceh Tengah yang terkena dampak paling parah oleh bencana banjir–longsor Aceh.












