BREAKING
Khazanah

Penduduk Kota Ailah Dikutuk Jadi Kera

Kota Ailah
Ilustrasi Kota Ailah di masa Nabi Daud setelah sebagian penduduknya dikutuk jadi kera. Ilustrasi dibuat oleh Nano Banana Lite 2.

Kota Ailah di masa Nabi Daud, merupakan negeri yang makmur. Penduduk kotanya telah mampu menguasai teknologi metalurgi (peleburan logam). Letaknya di pesisir pantai Laut Merah –di Yordania sekarang—menjadikan Kota Ailah sebagai negeri yang makmur dan rakyatnya sejahtera.

Penduduk Kota Ailah pada masa itu –abad ke-10 SM—merupakan kaum Bani Israil (keturunan Nabi Yaqub). Mereka merupakan bangsa Yahudi yang masih terikat dengan syariat Kitab Taurat yang dibawakan oleh Nabi Musa.

Sebagai sebuah negeri yang berada di pesisir tidak jauh dari Teluk Aqaba, Kota Ailah merupakan negeri yang telah melakukan perdagangan internasional di masanya. Meskipun didominasi oleh Bani Israil, penduduk kota itu tetap saja multi ras.  Mereka hidup berdampingan dengan para pedagang, pelaut, dan perantau asing dari wilayah lintas perbatasan seperti Mesir, Syam (Palestina), dan jazirah Arab.

Baca: Abu Jahal, Tokoh Quraisy yang Tewas Dalam Kebodohan

Di masa Nabi Daud AS, penduduk Kota Ailah terikat perjanjian dengan Allah. Berdasarkan syariat ketika itu, Sabtu merupakan hari beribadah. Semua orang tanpa kecuali dilarang melakukan aktivitas duniawi, termasuk menangkap ikan. Hukumnya final. Siapapun yang melakukannya, akan menanggung dosa.

Penduduk Kota Ailah patuh pada syariat itu. Setiap Sabtu mereka tidak melakukan aktivitas duniawi. Mereka beribadah secara kusyuk. Tapi Allah memberikan ujian kepada mereka. Ketika hari Sabtu tiba, ikan-ikan di laut terlihat lebih banyak. Ikan-ikan itu seperti merayakan satu hari setiap pekan bebas dari aktivitas perburuan.

Ikan-ikan berenang-renang sembari melompat-lompat dengan tenang ke permukaan. Di hari-hari lain, mulai Minggu hingga Jumat, ikan-ikan yang jumlahnya sangat banyak itu justru menghilang serta sangat sulit ditangkap.

Melihat bahwa ikan hanya banyak pada hari Sabtu, sebagian dari mereka mulai merancang sebuah ide. Mereka tidak melaut. Hanya saja mereka memasang jaring-jaring di laut pada hari Jumat, dan mengangkatnya pada hari Minggu. Dengan demikian, menurut mereka, tidak ada larangan yang dilanggar.

Mereka tidak mau disebut melanggar hukum. Karena pada Sabtu, aktivitas melaut tetap ditiadakan. Tapi semua tahu bila mereka sedang mengakali aturan. Mereka sedang melakukan tipu muslihat (helah) demi mengkali larangan Allah.

Maka, pada setiap Jumat, mereka memasang jaring, dan membuat kolam jebakan. Ikan-ikan yang datang pada hari Sabtu tidak tahu-menahu bila telah ada jaring yang dipasang. Ikan-ikan itu terkejut ketika sudah terperangkap. Pada hari Minggu jaring-jaring itu diangkat dan didaratkan. Hasil panen melimpah.

Melihat keberhasilan tipu muslihat itu, perilaku buruk itu berulang dan berlangsung cukup lama (mudadan thawilah). Mula-mula dilakukan secara diam-diam oleh beberapa orang. Melihat tidak terjadi apa-apa, maka praktek mengakali aturan dilakukan oleh orang dalam jumlah lebih banyak. Hingga akhirnya menjadi perilaku umum.

Orang-orang salih mencoba memberikan peringatan. Mengimbau mereka supaya berhenti melakukan pelanggaran itu. Tapi teguran para alim kala itu diabaikan. Teguran Nabi Daud dianggap angin lalu.

Setiap kali diingatkan, mereka selalu berkilah, “ kami tidak menangkap ikan pada hari Sabtu.”

Sebagian orang lainnya yang tidak melakukan pelanggaran, memilih diam. Mereka mengingatkan orang salih supaya berhenti memberikan peringatan kepada kelompok yang membangkang.

Demi keamanan, akhirnya orang-orang salih membangun tembok. Memisahkan komunitas mereka dengan komunitas kaum pembangkang.

Nabi Daud pun sudah pada titik ujung kegeramannya. Peringatannya diabaikan berkali-kali.Sang Rasul pun memanjatkan doa kepada Allah, supaya Khaliq memberikan hukuman kepada kaum yang melampaui batas itu.

Penduduk Kota Ailah yang Membangkang Dihukum Langsung

Pada suatu pagi di hari Sabtu, tidak ada hiruk pikuk di balik tembok pemisah. Orang-orang Salih merasa penasaran. Mengapa tidak ada suara apa pun di balik tembok? Biasanya tidak demikian.

Mereka pun penasaran. Beberapa di antaranya memanjat tembok untuk melihat apa yang sedang terjadi di seberang? Dan! Ternyata yang terlihat di balik tembok adalah kumpulan kera dan babi dalam jumlah sangat banyak. Ternyata kaum pembangkang itu telah dikutuk jadi kera dan babi.

Kera-kera dan babi-babi itu menangis tersedu-sedu. Berharap Allah memaafkan mereka. Mereka yang membangkang, berharap mendapatkan ampunan. Tapi nasi telah menjadi bubur. Tak ada kata maaf bagi pengkhianatan.

Tiga hari kemudian, kera-kera, babi-babi, mati seluruhnya. Yang tersisa hanya orang-orang beriman.Tidak ada keterangan tegas tentang nasib orang-orang yang diam. Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir dan Allamah Thabathabai, cenderung pada pendapat bahwa kelompok yang diam ini ikut binasa atau terkena azab bersama para pelaku.

Akan tetapi ulama seperti Sayyid Quthb (penulis Fi Zhilalil Qur’an) dan beberapa ahli tafsir klasik, berpendapat bahwa kelompok yang diam ini selamat dari kutukan menjadi kera.

Peristiwa Ashab al-Sabt (Kaum Hari Sabtu) di kota kuno Ailah diabadikan di beberapa tempat di dalam Al-Qur’an. Namun, kisah ini diceritakan secara paling detail dan panjang lebar dalam Surah Al-A’raf ayat 163-166.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *