Abu Jahal merupakan tokoh utama di dalam kalangan Quraisy. Dia dikenal sebagai orang kaya yang sangat cerdas. Dia mengakui kebenaran Rasulullah. Tapi karena egonya, ia memilih mati dalam kejahilan.
Amr bin Hisyam alias Abu Hakam (Abu Al-Hakam) merupakan tokoh besar di kalangan suku Quraisy di Mekkah. Dia seorang bangsawan terpandang karena kekayaan dan kecerdasannya. Gelar Abu Hakam dilekatkan kepadanya karena sebelum Islam datang, ia dikenal sebagai sosok yang bijak di kalangan kaum Quraisy yang masih hidup dalam keadaan jahiliyah.
Ia lahir sekitar tahun 570 M/573 M. Ia hampir sebaya dengan Nabi Muhammad. Abu Jahal juga satu suku dengan Muhammad. Hanya klan yang membedakan keduanya. Bila Baginda Nabi Muhammad berasal dari Bani Hasyim, Abu Jahal berasal dari klan Bani Makhzum.
Kedua klan tersebut memiliki kedudukan istimewa di kalangan penduduk Mekkah. Dalam konteks kekuasaan di Mekkah kala itu, Bani Makhzum merupakan terkaya, aristokrat terkaya, paling berpengaruh, dan memegang otoritas militer serta urusan logistik perang di Makkah.
Bani Hasyim dikenal karena kemuliaan nasab, moral, dan otoritas keagamaan (penjaga Ka’bah)
Inilah pangkal utama yang menjebak Abu Jahal menolak kebenaran Islam. Dia terjangkiti narsisisme kolektif (collective narcissism). Ia menolak ajaran Rasulullah bukan karena Islam tidak benar. Tapi ia tidak mau kalah saing dengan Bani Hasyim.
Faktor lainnya, Bani Hasyim dikenal sebagai klan pemimpin yang memimpin dengan cara-cara humanis. Sebagai pelayan dan penjaga tradisi suci Ka’bah, mereka terikat dengan ajaran yang diwariskan oleh leluhur mereka Qushay bin Kilab.
Di sisi lain, Bani Makhzum dikenal sebagai klan pemimpin yang memimpin dengan modal kekuatan fisik dan kekuatan harta. Mereka merupakan kelompok pedagang sukses yang mendanai militer dan peperangan.
Baca: Maulid Nabi, Sejarah dan Hukumnya
Ketika dakwah Islam dilakukan oleh Nabi Muhammad, Amr bin Hisyam merupakan salah satu tokoh Mekkah yang berdiri di garis depan memberikan perlawanan. Dalam sudut pandang politik, ia melihat Islam bukan sekadar agama, tapi juga perihal sosial, politik dan ekonomi. Dia tidak mau Nabi Muhammad dari Bani Hasyim menjadi pemimpin tertinggi di sana, karena ditakutkan olehnya pengaruh Bani Makhzum akan luntur. Ia pun menentang habis-habisan.
Di sisi lain, dari kalangan Bani Hasyim sendiri, Islam juga ditolak secara luar biasa oleh Abdul Uzza bin Abdul Muthalib alias Abu Lahab. Dia merupakan paman Nabi Muhammad. Pria yang namanya diabadikan dalam surat Al-Lahab tersebut, merupakan abang kandung Abdullah, ayahnya Nabi Muhammad.
Bahkan di waktu kecil Muhammad, Abu Lahab sangat menyayanginya.
Abdul Uzza bin Abdul Muthalib berhenti mencintai Muhammad dan memilih menjadi musuhnya, ketika Islam mulai didakwahkan. Pria yang dikenal berani dan kaya raya tersebut, memilih membenci keponakan dan Islam, karena beberapa hal.
Antara lain, fanatisme buta pada agama nenek moyang, menolak disamaratakan dengan kaum umat Islam lainnya –strata sosial hilang–, takut bisnis ziarah berhala yang ia kelola mati karena perubahan kepercayaan, takut kehilangan jabatan –karena status kesetaraan–, terperdayai pengaruh istrinya, Ummu Jamil binti Harb, dari Bani Umayyah, yang merupakan klan yang bersaing ketat dengan Bani Hasyim. Ummu Jamil setiap hari memperovokasi Abu Lahab supaya membenci keponakannya sendiri, Nabi Muhammad.
Dalam Riwayat disebutkan, Abu Jahal dan Abu Lahab akhirnya bersekutu melawan Islam dan Nabi Muhammad. Mereka bertemu karena kepentingan yang sama untuk menjaga pengaruh politik, ekonomi, sosial, dan keangkuhan. Meskipun mereka memiliki masalah eko klan, tapi demi mengalahkan Nabi, mereka bersedia bersatu.
Kejahilan Abu Jahal Dalam Riwayat
Sebagai sosok besar yang membenci Rasulullah, Abu Jahal merupakan villain yang teramat kejam, sinis, dan brutal.
Abu Jahal melarang Nabi Muhammad salat di dekat Kabah. Perilaku buruk sang tokoh Mekkah itu bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 9-10. Ia mencaci maki Rasulullah di depan umum, bahkan di depan Baginda Nabi. Salah satu peristiwa caci maki secara langsung itu terjadi saat Nabi duduk sendirian di dekat pintu Safa di Masjidilharam.
Melihat pengaruh Islam semakin hari bertambah besar di kalangan penduduk Mekkah, ia dan kompolotannya menyelenggarakan aksi penghasutan dan penyiksaan terhadap penduduk yang memeluk Islam. Mereka menyasar keluarga-keluarga dari kalangan lemah seperti keluarga Yasir dan Bilal bin Rabah.
Bahkan, dengan tangan sendiri, Abu Jahal membunuh Sumayyah binti Khayyat, yang teguh mempertahankan Islam dan menolak caci maki terhadap Rasulullah. Sang Jahil, dengan tangannya sendiri menombak Sumayyah. Atas pembunuhan itu, Sumayyah menjadi muslimah pertama yang syahid dalam sejarah Islam.
Suami Sumayyah, Yasir bin Amir, juga menjadi muslim pertama yang syahid dalam sejarah Islam. Dia kembali keharibaan Ilahi Rabbi akibat disiksa oleh Abu Jahal dan kelompoknya. Yasir diikat di padang pasir dan kemudian dibakar.
Berbagai penyiksaan lain terhadap sabahat Nabi terus dilakukan oleh Sang Jahil, akan tetapi banyak di antaranya berhasil selamat dan meneruskan dakwah Islam.
Pemboikotan terhadap Bani Hasyim juga dilakukan secara luas. Membuat Bani Hasyim tersiksa lahir dan batin.
Tapi semuanya sia-sia. Semakin pengikut Baginda Nabi disiksa, bertambah pula penduduk Mekkah yang masuk Islam.
Akhir Riwayat Abu Jahal di Perang Badar
Dengan kekuatan 1.000 lebih tentara musyrikin, Abu Jahal datang ke medan Perang Badar dengan gagah berani. Sedangkan Baginda Nabi Muhammad datang dengan jumlah pasukan yang sangat sedikit, hanya 313 orang. Dua di antara pasukan Rasulullah adalah remaja bernama Mu’adz bin Amr bin al-Jamuh dan Mu’awwidz bin Afra. Mereka dua bersaudara dari kalangan Bani Anshar.
Sebelum perang, Abu Jahal mengadakan pesta besar-besaran. Dalam sebuah Riwayat dia menyampaikan “Demi Allah, kita tidak akan pulang sebelum menuju Badar! Di sana kita akan tinggal selama tiga hari, kita akan menyembelih unta-unta, mengadakan pesta makan, minum khamar (miras), dan para wanita akan menyanyi untuk kita. Biarkan bangsa Arab mendengar perjalanan kita ini, sehingga mereka akan selalu takut kepada kita selamanya!”
Dan, perang Badar pun terjadi pada 17 Ramadan, tahun kedua Hijriyah. Perang itu hanya berlangsung beberapa jam saja di tengah padang pasir. Rasulullah memimpin perang itu dengan gagah perkasa. Abu Jahal juga turun ke medan laga dengan penuh percaya diri. Dia meyakini perang itu akan dimenangkan oleh pihaknya.
Di tengah kecamuk perang, dua pria muda dari kaum Ansar mengapit tokoh senior Abdurahman bin Auf. Mereka berdiri di barisan depan dalam pertempuran itu. Sembari berbisik, mereka selalu bertanya yang mana Abu Jahal. Keduanya belum mengenal Sang Jahil karena usia masih muda dan bukan dari Mekkah.
Begitu dekat dengan Sang Jahil, Abdurahman bin Auf berbisik bahwa di depan mereka, seorang pria senior yang dikawal ketat oleh pasukan Quraisy, adalah Amr bin Hisyam. Darah kedua remaja itu mendidih. Mereka pun menerjang ke depan tanpa ragu sedikitpun akan terluka. Bagi mereka kehormatan Rasulullah dan Islam di atas segala-galanya.
Dalam Riwayat disebutkan Muadz bin Amr berlari dengan cepat, menyelinap di antara pengawal, lalu menebas kaki Abu Jahal dan kaki kuda. Tebasan kuat ini membuat Abu Jahal langsung jatuh tersungkur dari tunggangannya ke tanah.
Begitu Abu Jahal jatuh dan tidak bisa bergerak bebas, Mu’awwidz bin Afra langsung menyusul dan menghujani tubuh Abu Jahal dengan tebasan pedangnya hingga pemimpin Quraisy itu terluka parah, sekarat, dan tidak berdaya, dan kemudian mati dalam usia 50-54 tahun.
Tangan Muadz bin Amr tertebas pedang Ikrimah, putra Abu Jahal, yang kelak masuk Islam setelah Fathu Mekkah. Sedangkan Mu’awwidz bin Afra syahid dalam pertempuran itu.
Sesaat setelah menghabisi Sang Musyrikin, kedua remaja itu sempat berlari menuju Rasulullah, melaporkan bahwa mereka telah mengakhiri Riwayat pria musuh Islam itu. Baginda melihat pedang keduanya yang masih berlumuran darah. Baginda Nabi membenarkan bahwa keduanya telah menghabisi Jahal hanya dengan melihat darah di bilah pedang.
Perang Badar dimenangkan oleh kaum Muslimin. Jenazah Abu Jahal dan pengikutnya dibuang ke dalam sumur kering Al-Qaliib di lembah Badar.
Amr bin Hisyam mengakhiri keangkuhannya di tangan dua remaja yang minim pengalaman, minim kekayaan, minim pengaruh. Dia takluk dan tersungkur karena tebasan pedang dua remaja yang hanya memiliki keberanian membela panji Islam.
Sumber: Disadur dari berbagai sumber terverifikasi.
Catatan redaksi: Tulisan ini bermaksud sebagai media pengayaan sejarah Islam dengan tujuan edukasi sejarah.
