Home Ekonomi Tren Ngutang Digital Meroket, Pembiayaan Paylater Tembus Rp12,18 Triliun

Tren Ngutang Digital Meroket, Pembiayaan Paylater Tembus Rp12,18 Triliun

Tren Ngutang Digital Kian Kuat, Pembiayaan Paylater Tembus Rp12,18 Triliun
Ilustrasi. Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Jakarta— Tren penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater terus menunjukkan peningkatan signifikan pada awal 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan BNPL melalui perusahaan pembiayaan (multifinance) tumbuh 71,13 persen secara tahunan menjadi Rp12,18 triliun per Februari 2026.

“Porsi produk kredit buy now pay later (BNPL) perbankan tercatat sebesar 0,32 persen. Per Januari 2026, baki debet kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam SLIK, tumbuh 20,15 persen yoy menjadi Rp27,1 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 31,23 juta,” terang Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, Selasa (3/3/2026).

Pertumbuhan tidak hanya terjadi di sektor multifinance. Di perbankan konvensional, kredit BNPL juga meningkat 20,15 persen secara tahunan dengan total penyaluran mencapai Rp27,1 triliun per Januari 2026.

Berdasarkan data Sistem Layanan Informasi Keuangan, jumlah rekening BNPL tercatat mencapai 31,23 juta. Angka ini relatif stabil dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 31,21 juta, namun tetap menunjukkan tingginya penetrasi layanan kredit instan di Indonesia.

Ismail Riyadi menyampaikan secara umum kinerja intermediasi perbankan masih tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga. Pada Januari 2026, kredit perbankan tumbuh 9,96 persen secara tahunan menjadi Rp8.557 triliun. Capaian tersebut meningkat dibandingkan Desember 2025 yang tumbuh 9,63 persen.

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 22,38 persen. Kredit Konsumsi tumbuh 6,58 persen, sedangkan Kredit Modal Kerja meningkat 4,13 persen.

Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi tumbuh 16,07 persen. Ditinjau dari kepemilikan bank, kredit bank BUMN tumbuh 13,43 persen secara tahunan.

Baca juga: Friderica Widyasari Dewi Jadi Ketua Dewan Komisioner OJK

Sementara itu, porsi produk kredit BNPL di sektor perbankan tercatat sebesar 0,32 persen dari total kredit. Meski porsinya relatif kecil, laju pertumbuhannya tetap menjadi perhatian. OJK menilai perkembangan ini memiliki dua sisi.

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga perbankan tumbuh 13,48 persen secara tahunan menjadi Rp10.076 triliun pada Januari 2026. Giro tumbuh 19,75 persen, deposito meningkat 12,61 persen, dan tabungan bertambah 8,27 persen secara tahunan.

OJK meminta penyelenggara BNPL memperkuat penilaian kredit atau credit scoring guna menjaga kualitas pembiayaan. Pengawasan terhadap rasio pembiayaan bermasalah juga terus dilakukan agar pertumbuhan sektor ini tetap berada dalam koridor yang sehat dan tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Previous articlePP Muhammadiyah Kecam Serangan AS ke Iran, Minta PBB Jatuhkan Sanksi Tegas
Next articlePemerintah Salurkan Bantuan Perbaikan Rumah untuk Korban Bencana di Pidie

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here