Nahdlatul Ulama hari ini berdiri di persimpangan. Di satu sisi, NU adalah organisasi Islam terbesar di dunia dengan 40 juta lebih warga. Di sisi lain, NU menghadapi tantangan yang belum pernah sekompleks ini: disinformasi, krisis ekonomi umat, politik identitas, dan lompatan teknologi yang mengubah cara berpikir generasi muda.
Di tengah persimpangan itu, NU butuh kepemimpinan yang tidak hanya menjaga tradisi, tapi juga mampu membaca zaman. Dari Serambi Mekkah, kami di PW ISNU Aceh melihat satu nama yang memenuhi syarat itu: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA
Nasaruddin Umar: Ulama yang Mengerti Zaman
NU lahir dari pesantren. Kekuatannya ada pada sanad keilmuan dan akhlak. Karena itu pemimpin NU ke depan tidak boleh tercerabut dari akar itu.
Prof. Nasaruddin adalah produk pesantren yang kemudian matang di kampus. Ia hafidz, mufassir, dan guru besar. Karya-karyanya tentang tafsir kebangsaan dan fiqih lintas mazhab menunjukkan cara berpikir yang utuh: tidak terjebak pada tekstualisme, tapi juga tidak liberal.
Bagi kami di Aceh, ini penting. Aceh sedang membangun sistem hukum syariat dalam bingkai NKRI. Kami butuh ulama yang bisa menjelaskan bahwa syariat bukan ancaman, melainkan rahmat. Cara berpikir Prof. Nasaruddin tentang Islam wasathiyah persis yang kami butuhkan untuk merawat narasi itu.
NU tidak bisa hanya di masjid dan musala. Warga NU adalah guru, petani, pedagang, ASN, dan pengusaha. Mereka butuh kebijakan.
Pengalaman Prof. Nasaruddin sebagai Wakil Menteri Agama dan Imam Besar Masjid Istiqlal adalah bukti. Di Kemenag, ia mendorong moderasi beragama menjadi kebijakan negara. Di Istiqlal, ia mengubah mimbar menjadi ruang dialog antaragama dan kebangsaan.
Ini gaya kepemimpinan yang dibutuhkan NU: masuk ke ruang negara tanpa kehilangan independensi. Mengabdi pada umat tanpa menjadi alat politik. Di era polarisasi, kita butuh figur yang bisa dipercaya semua pihak.
Duta Peradaban Islam Indonesia
Dunia sedang mencari contoh Islam yang damai. Dan dunia melihat ke Indonesia. Wajah itu sering muncul dari mimbar Istiqlal.
Pidato Prof. Nasaruddin di forum PBB, di Vatikan, dan di Al-Azhar memperkenalkan Islam Nusantara: Islam yang ramah, inklusif, dan berkemajuan. Ini diplomasi keagamaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Bagi Aceh, ini kehormatan. Karena Aceh ingin dikenal sebagai laboratorium syariat yang rahmatan lil ‘alamin. Jika NU dipimpin oleh orang yang dipercaya dunia, maka dayah-dayah di Aceh juga akan ikut terangkat. Santri Aceh bisa lebih mudah studi ke luar negeri. Produk UMKM pesantren bisa masuk pasar global.
Tiga PR Besar untuk NU
Sebagai organisasi sarjana, ISNU punya catatan kritis. Dukungan kami bukan dukungan tanpa syarat. Ada tiga pekerjaan rumah besar.
Pertama, ekonomi umat. Data BPS 2025 menunjukkan lebih dari 38% warga NU masih rentan secara ekonomi. NU harus punya strategi ekonomi yang serius: koperasi, pesantrenpreneur, dan digitalisasi UMKM. Pengalaman Prof. Nasaruddin Umar membangun Baitul Mal Istiqlal bisa menjadi model nasional.
Baca juga: Prodi Kesejahteraan Sosial UIN Ar-Raniry Raih Akreditasi Unggul
Kedua, teknologi dan generasi muda. Anak muda NU hidup di TikTok dan YouTube. Kalau NU tidak ada di sana, ruang itu akan diisi narasi lain. Kita butuh “santri digital” dan “kiai content creator”. Prof. Nasaruddin adalah salah satu ulama yang paling fasih berbicara di ruang publik modern tanpa kehilangan wibawa.
Ketiga, merawat ukhuwah. NU besar karena musyawarah. Kepemimpinan ke depan harus kolektif, mendengar, dan merangkul. Dari rekam jejaknya, Prof. Nasaruddin dikenal sebagai pendengar. Itu modal penting untuk merawat keberagaman di dalam NU sendiri.
Mengapa dari Aceh?
Mungkin ada yang bertanya, apa urgensinya suara dari Aceh?
Jawabannya: karena Aceh dan NU punya sejarah panjang. Dayah di Aceh adalah rumah Aswaja. Nilai NU bersenyawa dengan adat dan syariat di Aceh. Ketika NU kuat di pusat, kebijakan nasional akan lebih adil untuk daerah. Ketika Aceh kuat, NU punya contoh nyata bagaimana Islam dan kebangsaan bisa jalan bersama.
Dukungan kami adalah investasi dua arah. Kami mendukung Prof. Nasaruddin menguatkan NU secara nasional. Dan kami berharap NU di bawah kepemimpinannya juga menguatkan Aceh: melalui beasiswa dayah, pusat riset, dan penguatan ekonomi pesantren.
Pemilihan pemimpin di NU bukan soal suka-tidak suka. Ini soal masa depan 40 juta warga dan masa depan Islam Indonesia.
Hari ini PW ISNU Aceh menyatakan sikap: kami mendukung penuh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA untuk mengambil peran strategis dalam kepemimpinan NU.
Kami memilih beliau bukan karena kedekatan. Kami memilih karena kalkulasi. Karena kami melihat paduan antara ilmu, pengalaman, dan komitmen kebangsaan ada pada dirinya.
Semoga Allah memilihkan yang terbaik untuk NU. Dan semoga dari Aceh, kami bisa terus menjadi bagian dari ikhtiar besar itu: menjaga NU, menjaga Indonesia, dan menjaga peradaban.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.
