Friday, 6 November 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Masjid Tua Peninggalan Abon Dolah di Jeunib, Tetap Sejuk Meski Tanpa Kipas

Masih Berdiri Kokoh, Ini Sejarah Masjid Tua Peninggalan Abon Dolah di Jeunib
Masjid tua Peninggalan almarhum Tgk Abdullah Bin Tgk Muhammad Saleh (Abon Dolah). Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Bireuen— Masjid tua di Gampong Janggot Seungko, Mukim Bate Cut Lem, Kecamatan Jeunieb, Kabupaten Bireuen, menyimpan sejarah panjang peninggalan ulama kharismatik Aceh, almarhum Tgk. Abdullah bin Tgk. Muhammad Saleh atau lebih dikenal dengan sapaan Abon Dolah.

Masjid yang berada di lingkungan Dayah Darul Atiq Putra tersebut menjadi salah satu peninggalan Abon Dolah yang hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat untuk melaksanakan ibadah.

Bangunan bersejarah itu juga menyimpan cerita yang menarik, termasuk pengalaman seorang perempuan asal Madat, Kabupaten Aceh Timur, yang mengaku pernah bertemu sosok Abon Dolah di Banda Aceh bertahun-tahun setelah ulama besar tersebut meninggal dunia.

Tgk. Muhammad Qasim bin Tgk. Abdullah atau yang akrab disapa Abah Qasem, putra Abon Dolah sekaligus pimpinan Dayah Darul Atiq Putra saat ini, menjelaskan masjid tua tersebut merupakan bangunan kedua yang didirikan di lingkungan dayah.

Sebelumnya, kakeknya, Tgk. Muhammad Saleh, telah membangun masjid sederhana pertama di samping lokasi masjid tua tersebut ketika awal pembangunan dayah.

“Kedua masjid tersebut masih berdiri kokoh, pembangunannya identik dengan dayah. Masjid tuha telah selesai direnovasi dengan dana sumbangan para hamba Allah, dan masjid pertama saat ini sedang direnovasi juga,” jelas Abah Qasem, Senin (2/11/2026).

Menurutnya, renovasi masjid dilakukan dengan mengutamakan sumbangan jamaah dan para hamba Allah. Bukan berarti pihak dayah menolak bantuan dari sumber lain, tetapi keluarga ingin mempertahankan amanah yang telah ditinggalkan Abon Dolah.

“Kami hanya meneruskan amanah Abon, supaya tidak mengecewakan beliau, maka sumber biaya pembangunan semuanya dari hamba Allah,” ujarnya.

Masjid tua tersebut hingga kini tetap dikunjungi jamaah untuk melaksanakan salat lima waktu, baik sebelum maupun setelah renovasi.

Sebelum diperbaiki, kondisi lantai masjid terlihat kotor dan sejumlah bagian dinding telah rapuh dimakan usia. Namun, menurut Abah Qasem, ada suasana khas yang dirasakan pengunjung ketika berada di dalam bangunan. Ruangan masjid terasa sejuk meskipun pada siang hari tanpa bantuan kipas angin.

Di balik keberadaan masjid tua itu, Abah Qasem juga menceritakan pengalaman seorang perempuan asal Madat, Aceh Timur, yang datang ke Dayah Darul Atiq Putra beberapa bulan setelah mengalami peristiwa tidak biasa di Banda Aceh pada 2018.

Baca juga: Kisah Abon Dolah, Ulama Jeunib yang Warisi Qadhi Nanggroe dari Sang Ayah

Saat itu, perempuan tersebut berangkat ke Banda Aceh untuk mengikuti ujian calon pegawai negeri sipil (CPNS). Ketika berada di ibu kota provinsi, seorang laki-laki bersurban putih menghampirinya dan meminta uang sebesar Rp2.000.

Perempuan itu berusaha mencari uang tersebut di seluruh kantongnya, tetapi tidak menemukannya. Laki-laki tersebut kemudian tidak lagi memaksanya memberikan uang. Namun, ia menitipkan pesan agar perempuan itu datang menemuinya di masjid tua Jeunib.

Bahkan, laki-laki bersurban putih tersebut menyarankan agar pesan itu ditulis di telepon genggam supaya tidak terlupakan.

“Anda belum memiliki anak, datangi saya di masjid tuha. Setiap sore ada saya dari Senin hingga Kamis, jika hari Jumat dari pagi hingga sore hari ada saya, dan salat sunat dua rakaat,” tutur Abah Qasem mengulang ucapan perempuan tersebut.

Beberapa bulan kemudian, tepat pada peringatan 50 hari meninggalnya Ummi Zubaidah binti M. Daud, ibunda Abah Qasem sekaligus istri Abon Dolah, perempuan itu datang bersama suaminya ke lingkungan dayah.

Sesuai kebiasaan, setiap tamu terlebih dahulu melapor kepada petugas piket untuk menyampaikan maksud kedatangan dan orang yang ingin ditemui. Setelah itu, mereka diarahkan menemui Abah Qasem yang saat itu sedang membaca Al-Qur’an di makam Ummi Zubaidah.

Abah Qasem meminta keduanya bersabar karena masih menyelesaikan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an.

“Apakah bisa saya bantu? Mohon bersabar, ya. Saya menyelesaikan dulu membaca ayat-ayat Al-Qur’an, tidak banyak lagi,” kata Abah Qasem saat menyambut kedatangan mereka.

Setelah selesai membaca Al-Qur’an, pertemuan dilanjutkan. Namun, ketika Abah Qasem menyapa perempuan tersebut, ia tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Tangisannya bahkan kembali pecah ketika mereka diajak masuk ke ruangan.

Setelah suasana lebih tenang, perempuan itu menceritakan pengalaman yang dialaminya di Banda Aceh. Ia mengaku sosok laki-laki bersurban putih yang ditemuinya memiliki wajah persis seperti foto yang kemudian diperlihatkan Abah Qasem.

“Foto itu almarhum Abon Dolah. Beliau meninggal pada 2004 saat konflik, sekitar delapan belas tahun lalu. Saya juga menunjukkan masjid yang dimaksud, lokasinya ada di depan dayah. Setelah salat sunat dua rakaat, mereka pamitan pulang,” tutur Abah Qasem.

Sekitar setahun setelah pertemuan tersebut, pasangan itu kembali datang ke dayah dengan membawa seorang anak berusia satu tahun. Mereka datang dari tempat yang jauh dengan maksud menziarahi makam Abon Dolah. Pasangan tersebut sebelumnya mengira makam ulama itu berada di lingkungan dayah.

Abah Qasem kemudian menjelaskan makam ayahnya berada di Peunceuk, sekitar 12 kilometer dari dayah. Untuk menuju lokasi tersebut diperlukan kendaraan khusus karena tidak dapat dijangkau menggunakan kendaraan biasa.

Dalam kesempatan itu, Abah Qasem juga menanyakan apakah perempuan tersebut telah lulus seleksi CPNS. Namun, sang perempuan menjawab saat itu dirinya tidak lagi memikirkan pekerjaan sebagai PNS dan lebih memilih fokus membesarkan anaknya. Ia mengaku telah mengalami tiga kali keguguran sebelum akhirnya memiliki anak.

Mengakhiri ceritanya, Abah Qasem menyampaikan pandangannya mengenai pengalaman tersebut dengan merujuk pada penjelasan dalam kitab-kitab yang dipelajarinya.

Menurutnya, dalam sejumlah penjelasan keagamaan, kehadiran orang yang telah meninggal dunia secara kasat mata dikaitkan dengan karamah para aulia. Dalam istilah yang disebutnya terdapat dalam pembahasan tentang aulia, dikenal pula sebutan Rijalul Ghaib.

Abah Qasem menyampaikan kemungkinan bahwa Abon Dolah telah mencapai tingkatan tersebut karena menjalankan amanah orangtuanya dengan ikhlas serta mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.

Ia juga menyebutkan cerita mengenai perjumpaan dengan ulama terdahulu yang telah meninggal dunia bukan hanya dikaitkan dengan Abon Dolah. Menurutnya, terdapat pula kisah-kisah tentang sejumlah ulama pendahulu yang dipercaya pernah dijumpai oleh orang-orang tertentu setelah mereka wafat.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *