Komparatif.ID, Banda Aceh– Menjelang sore, arus kendaraan mulai bergerak ke kawasan pantai Gampong Jawa, Kecamatan Kutaradja, Banda Aceh. Warga datang silih berganti, ada yang membawa keluarga, berkumpul bersama sahabat, hingga menikmati suasana pantai seorang diri.
Tujuan mereka sama, yaitu menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat dengan latar Samudera Hindia.
Meski belum sepopuler sejumlah destinasi pantai lain di Aceh, Pantai Gampong Jawa punya daya tarik yang membuatnya ramai dikunjungi, terutama pada sore hari dan masa liburan.
Lokasinya tidak jauh dari Masjid Raya Baiturrahman, sekitar 4,6 kilometer atau kurang lebih 10 menit perjalanan dengan sepeda motor maupun mobil. Kawasan ini juga bisa dicapai dalam waktu sekitar 30 menit dari pusat kota.
Dari tepi pantai, pengunjung dapat melihat laut lepas dengan deretan batu pemecah ombak yang membentang di sepanjang garis pantai. Dari beberapa titik, Pulau Weh di Sabang dan gugusan Pulau Aceh tampak di kejauhan.
Batu-batu pemecah ombak itu menjadi tempat favorit warga untuk memancing sekaligus mengabadikan momen dengan latar langit senja yang berwarna keemasan. Bagi penghobi pancing, kawasan ini dikenal punya banyak titik yang kerap didatangi ikan ketika air laut mulai pasang.
Namun, panorama alam bukan satu-satunya alasan orang datang ke sini. Setiap sore, para nelayan berkumpul di bibir pantai untuk melakukan tarek pukat, metode penangkapan ikan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kata tarek berarti tarik, sedangkan pukat adalah alat sejenis jaring. Pukat biasanya dipasang sejak pagi di perairan sekitar pantai, lalu ditarik bersama-sama ke daratan menjelang sore.
Prosesnya berlangsung kompak. Seorang nelayan senior memimpin jalannya penarikan, sementara nelayan lainnya bergantian menarik tali pukat dengan irama teratur. Berpadu dengan suara deburan ombak, suasana itu membuat banyak pengunjung menghentikan aktivitas sejenak untuk menontonnya hingga selesai.
Baca juga: Gedung De Javasche Bank, Bangunan Kolonial yang Masih Berfungsi di Jantung Banda Aceh
Setelah pukat sampai ke darat, perhatian pengunjung biasanya beralih ke hasil tangkapan yang masih segar. Masyarakat sering memanfaatkan momen ini untuk membeli ikan langsung dari nelayan dengan harga yang relatif terjangkau.
Sepanjang jalan menuju lokasi, warung-warung sederhana menjual kopi, aneka gorengan, dan makanan ringan. Banyak pengunjung memilih menunggu matahari tenggelam sambil menyeruput secangkir kopi Aceh.
Momen senja itulah yang kerap ditunggu. Sebagian orang bahkan datang lebih awal demi mendapatkan tempat terbaik. Perpaduan sunset dan tarek pukat menjadi daya tarik utama pantai ini, terlihat dari banyaknya wisatawan dan fotografer lokal yang datang hampir setiap hari.
Para fotografer biasanya mengincar saat nelayan bersiap menggulung jaring dan mendorong perahu ke darat, ketika matahari mulai turun dan menjadi latar yang indah. Pengunjung lain pun tak ketinggalan mengabadikannya lewat kamera ponsel.
Di balik suasana santainya, Gampong Jawa menyimpan sejarah panjang. Kawasan yang berbatasan dengan Gampong Pande ini pada masa lalu merupakan salah satu wilayah penting dalam aktivitas perdagangan Kesultanan Aceh.
Sejumlah situs dan artefak sejarah ditemukan di sini, di antaranya Makam Syahbandar Mu’tabar Khan, yang pernah menjadi penguasa pelabuhan utama Bandar Aceh Darussalam. Terdapat pula makam para raja dan ulama yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Lamuri.
Nilai sejarah tersebut menjadikan Gampong Jawa sebagai salah satu titik nol Kota Banda Aceh. Berbeda dengan Monumen Kilometer Nol di Sabang, tugu di Gampong Jawa ini dibangun sebagai penanda bahwa cikal bakal Kota Banda Aceh bermula dari lokasi tersebut. Tugu ini pun menjadi salah satu spot foto bagi pengunjung.
Wisata pantai memang menawarkan nuansa berbeda dibandingkan destinasi lain. Embusan angin, suara ombak, dan langit sore yang berubah warna menjadi cara sederhana untuk melepas penat dari rutinitas.
Bagi warga maupun pendatang yang ingin merasakan suasana itu sambil mengenal sisi budaya dan sejarah Banda Aceh, Pantai Gampong Jawa bisa menjadi pilihan, terutama bila datang menjelang sore agar sempat menyaksikan tarek pukat sebelum matahari terbenam.




