Wednesday, 21 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Menyusuri Makam Raja-Raja Gampong Pande, Tempat Peristirahatan Para Sultan Aceh

Menyusuri Makam Raja-Raja Gampong Pande, Tempat Peristirahatan Para Sultan Aceh
Kompleks Makam Raja-Raja Gampong Pande. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Banda Aceh tidak hanya menyimpan sejarah di museum, tetapi juga di sudut-sudut kotanya. Bagi wisatawan yang tertarik pada wisata sejarah, kawasan Gampong Pande di Kecamatan Kuta Raja layak masuk dalam daftar kunjungan.

Desa tua yang dikenal sebagai cikal bakal berdirinya Kerajaan Aceh ini hanya berjarak sekitar sepuluh menit berkendara dari pusat kota, dengan sejumlah situs bersejarah yang letaknya berdekatan.

Salah satu situs utama di kawasan ini adalah Komplek Makam Raja-Raja Gampong Pande. Kompleks tersebut menjadi tempat peristirahatan terakhir sejumlah raja dan tokoh Kesultanan Aceh Darussalam.

Pengunjung dapat melihat nisan-nisan kuno yang berasal dari abad ke-15 hingga ke-16, termasuk makam Raja Alaidin Mukmin Syah yang wafat pada 1576 M dan Sultan Zainal Abidin yang wafat pada 1577 M.

Catatan sejarah menyebutkan, pada tahun 1201 sekitar 500 orang rombongan dari Seljuk datang ke Aceh untuk menyebarkan Islam. Di antara para mubaligh itu terdapat Abdurrauf As Saljuki, yang kemudian menetap di kawasan Kandang Aceh dan dikenal sebagai tuan di Kandang.

Putranya, Abdul Azis, kelak menjadi sultan pertama Aceh dengan gelar Sultan Johan Syah. Kisah ini menempatkan Gampong Pande sebagai bagian penting dari awal perjalanan peradaban Islam di Aceh.

Secara geografis, kompleks makam berada di kawasan strategis dekat Kuala Krueng Aceh. Wilayah ini berbatasan dengan Gampong Jawa, Lampulo, dan Pelabuhan Ulee Lheue. Pada masanya, kawasan tersebut berada di bawah pengawasan langsung kesultanan dan berfungsi sebagai pusat kekuasaan, pusat penyebaran Islam, sekaligus tempat pembuatan meriam.

Baca juga: Makam Sultan Iskandar Muda, Saksi Bisu Kejayaan Aceh di Masa Lalu

Melalui pembacaan inskripsi pada batu nisan, para peneliti berhasil mengidentifikasi sejumlah tokoh yang dimakamkan di sana. Mereka antara lain Seri Raja yang wafat pada 1441 M, yang makamnya ditandai sepasang nisan tipe Lamuri dengan motif anyaman arabes khas.

Ada pula Raja Paduka Munawar, putra Sultan Mansur Syah, serta Sultan Mu’min Syah, putra Malik Muhammad Nur ad-Din. Makam Sultan Sri Alam juga berada di kompleks ini, meski tahun wafatnya tidak tercatat.

Dari sisi seni, nisan-nisan di Gampong Pande memperlihatkan arsitektur yang unik dan nilai estetika tinggi. Berdasarkan tipologi Othman, sebagian nisan tergolong Batu Aceh tipe C dan D.

Gaya pahat, motif, dan kaligrafinya memiliki kemiripan dengan nisan pada makam tokoh bersejarah lain, seperti makam Malik as-Shalih di Samudera Pasai dan Raja Syamsu Syah. Bagi pengunjung yang menyukai sejarah dan seni ukir, detail ini menjadi daya tarik tersendiri.

Meski demikian, kondisi kompleks ini belum sepenuhnya terjaga. Tsunami 2004 menyebabkan kerusakan parah. Sejumlah makam tua rusak, tertutup semak belukar, bahkan terendam air pasang.

Sejumlah pihak, di antaranya Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) dan mahasiswa, telah membersihkan makam, menata kembali nisan yang berjatuhan, serta mendorong pemerintah setempat agar melakukan pemulihan dan pelestarian secara lebih serius.

Potensi temuan arkeologis di kawasan ini juga cukup menarik. Pada 2013, warga Gampong Pande menemukan ratusan keping koin emas kuno peninggalan Kesultanan Aceh.

Koin-koin itu bertuliskan nama Sultan Alaudin Riayat Syah Al-Kahar dan menunjukkan adanya hubungan Kesultanan Aceh dengan Kekaisaran Ottoman Turki. Ekspedisi juga menemukan pecahan guci kuno serta makam-makam yang terendam air.

Warga Merduati, Yasjudan, menilai kedekatan lokasi antarsitus menjadi modal penting bagi pengembangan wisata di kawasan ini. “Peninggalan sejarah di Gampong Pande letaknya berdekatan. Jika akses jalan diperbaiki, penerangan ditambah, dan ada penataan yang lebih baik, maka akan lebih banyak wisatawan yang tertarik untuk berkunjung,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).

Yasjudan, yang sehari-hari berprofesi sebagai pelaku UMKM, juga menyoroti peluang ekonomi bagi warga setempat. Ia berharap peningkatan kunjungan wisatawan dapat mendorong pemberdayaan masyarakat Gampong Pande dalam mengelola destinasi.

“Wisata sejarah di sini bisa dikelola oleh masyarakat. Mereka bisa menjadi pemandu wisata lokal, menjual souvenir khas, atau membuka warung kuliner. Ini akan memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga sekitar dan membantu melestarikan situs ini,” katanya.

Bagi wisatawan yang berencana berkunjung, Gampong Pande dapat menjadi pilihan untuk memahami akar sejarah Kota Banda Aceh dari lokasi aslinya.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *