Wednesday, 14 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Khazanah

Teungku Peukan, Pejuang dari Pantai Selatan Aceh

Teungku Peukan, Pejuang dari Pantai Selatan Aceh
Makam Teungku Peukan di kompleks sebelah barat Masjid Jami' Baitul Adhim Blangpidie, Desa Pasar Blangpidie, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, jadi tempat ziarah upacara kenegaraan. Foto: HO for Komparatif.ID.

Teungku Peukan adalah seorang pejuang dan ulama yang secara terbuka mengusir dan melawan pihak Belanda di wilayah pantai selatan Aceh, khususnya di daerah Manggeng hingga Blangpidie.

***

Perang antara Aceh dan Belanda pertama kali terjadi karena adanya Traktat Sumatera yang menyatakan bahwa Inggris memberikan kebebasan kepada Belanda untuk bertindak tanpa batas terhadap masyarakat Aceh.

Belanda mendapatkan persetujuan dari Inggris, lalu mengirimkan ultimatum kepada Aceh agar tunduk kepada Belanda dan mengakui kekuasaan Belanda di Aceh. Namun, rakyat Aceh menolak usaha Belanda tersebut.

Alasan Aceh menolak kedaulatan Belanda adalah karena Belanda berniat memonopoli perdagangan dan terlibat dalam urusan pemerintahan Aceh. Pada tanggal 5 April 1873, Belanda telah siap berada di perairan Aceh dengan membawa 6 buah kapal uap, 2 buah kapal angkatan laut, 5 buah kapal barkas, 8 buah kapal peronda, 1 buah kapal komando, 6 buah kapal pengangkut, 5 buah kapal layar, serta masih banyak kapal-kapal lainnya.

Pada tanggal 8 April, pasukan Belanda akhirnya mendarat di Aceh melalui Pantai Kuta Pante Ceureumen, yang terletak di sebelah timur Ulee Lheue.

Penyerangan tersebut dipimpin oleh Mayor Jenderal J.H.R. Kohler serta dibantu oleh wakilnya, Kolonel E.C. Van Daalen. Total keseluruhan pasukan yang dibawa berjumlah 3.000 orang, dengan jumlah perwira sebanyak 168 orang. Lalu, ditambahkan lagi 1.000 orang pekerja paksa serta 50 orang mandornya (Kartodirdjo, 1975).

Namun, dalam penyerangan tersebut, J.H.R. Kohler tewas terkena tembakan di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada tanggal 19 April 1873. Perang besar yang menyebabkan kematian Mayor Jenderal J.H.R. Kohler meluas ke wilayah Aceh Selatan, yaitu daerah Tapaktuan, Trumon, Singkil, dan Blangpidie.

Pada tahun 1899, pemerintah Hindia Belanda melakukan pendaratan di wilayah Aceh Selatan dan mengibarkan bendera di Kota Tapaktuan.

Pertempuran pertama yang terjadi di Aceh Selatan dimulai sejak dikeluarkannya pernyataan perang oleh komisaris pemerintah Hindia Belanda F.N. Niewenhuzen terhadap Kerajaan Aceh dan wilayah Aceh lainnya.

Peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh Teungku Peukan terhadap pihak Belanda terjadi di pusat Kota Blangpidie pada tanggal 11 September 1926, seperti yang dicatat dalam Majalah Suara Rakyat Abdya tahun 2007. Serangan tersebut merupakan peristiwa terbesar yang terjadi dalam satu hari. Bahkan, Teungku Peukan telah menyusun strategi perang dengan mengikutkan sebanyak 227 prajurit.

Bukti lain yang mendukung kejadian di tangsi Belanda adalah adanya makam Teungku Peukan yang berada di kompleks Masjid Jamik, tepatnya di bagian barat masjid Kota Blangpidie, serta asrama militer TNI yang dahulu pernah digunakan sebagai tempat tinggal bagi serdadu dan marsose pasukan Belanda.

Pada tanggal 10 November, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya tetap memperingati hari tersebut dengan menaburkan bunga dan berdoa bersama di pusara tersebut.

Dalam tulisan Hasbullah, disebutkan peristiwa 11 September 1926 yang merupakan perlawanan Teungku Peukan di Aceh Barat Daya. Hasbullah menuliskan sejarah awal masuknya pihak Belanda ke wilayah pantai barat selatan Aceh serta menyinggung peristiwa penyerangan yang dilakukan Teungku Peukan terhadap pihak Belanda yang berada di pusat Kota Blangpidie.

Muhammad Yakub dalam tulisannya “Sejarah Singkat Perjuangan Teungku Peukan” menjelaskan mengenai strategi yang digunakan oleh Teungku Peukan dalam melawan Belanda. Kala itu ia didukung oleh salah seorang putranya, Tengku Muhammad Kasim, yang juga dikenal dengan gelar Tengku Tahala.

Tradisi Khanduri Uteun di Aceh Barat Daya
Assauti Wahid, S.Hum., M.A. Wakil Ketua Forum Alumni Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Foto: Dok. Penulis.

Penyerangan itu terjadi menjelang fajar, tepatnya pada malam Jumat tanggal 11 September 1926, seperti dicatat oleh Yakub pada tahun 1995. Pasukan Teungku Peukan tiba dan beristirahat sebentar di balai (bale) Teungku Lhoong Geulumpang Payong, Kota Blangpidie, sebelum melanjutkan serangan terhadap Belanda.

Baca juga: Menelusuri Kandang Meuh, Jejak Kesultanan Aceh di Pusat Kota Banda Aceh

Siapa Teungku Peukan

Teungku Peukan adalah seorang pejuang yang secara terbuka mengusir dan melawan pihak Belanda di wilayah pantai selatan Aceh, khususnya di daerah Manggeng hingga Blangpidie.

Ia dianggap sebagai seorang pahlawan yang memiliki jasa besar dalam mencapai kemerdekaan Indonesia. Perjuangan tersebut merupakan kelanjutan dari para pejuang sebelumnya, seperti Raja Angkasah di Bakongan, Teuku Cut Ali, Teuku Ben Mahmud Blangpidie, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien di Meulaboh, serta para pejuang lainnya, khususnya di daerah pantai barat selatan Aceh.

Teungku Peukan diketahui lahir di Desa Alue Paku, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Selatan, namun tanggal kelahirannya tidak terlalu jelas. Namun, diperkirakan Teungku Peukan lahir sekitar tahun 1886, berdasarkan waktu ia melakukan serangan terhadap posisi Belanda di Blangpidie pada tahun 1926.

Saat itu, usianya sekitar 40 tahun. Ayahnya dikenal sebagai Teungku Padang Gantiang dan ibunya bernama Siti Zulaikha.

Dari sumber lain yang dijelaskan oleh Syauqas Ramatillah disebutkan keturunan Teungku Peukan berasal dari Lamreung, Aceh Besar. Ayah Teungku Peukan tersebut bernama Tgk. Adam, yang pada saat itu hijrah ke wilayah selatan Aceh dengan tujuan membantu peperangan yang sedang bergejolak dan menetap di daerah Sawang, tepatnya di Desa Alue Paku.

Kemudian, ia memperistri seorang perempuan di sana yang bernama Siti Zulaikha. Dari perkawinan tersebut, lahirlah Teungku Yahya (bergelar Haji Yahya), Teungku Peukan, dan Nyak Teh, adik perempuannya.

Teungku Peukan sejak kecil hingga usia remaja, ia selalu berperilaku bijak dan tahu pandang terhadap lingkungannya, serta memperhatikan dengan baik tindakan yang telah dilakukan oleh Belanda.

Bukti adanya penentangan tersebut ditunjukkan oleh Teungku Peukan beserta pengikut-pengikutnya dengan melakukan serangan terhadap pihak Belanda yang sedang menempati daerah Blangpidie.

Teungku Peukan memperistri seorang dara jelita yang berasal dari Kota Naga, Tapaktuan, yang bernama Intan Darek, yang juga turut membantu perjuangan melawan Belanda sampai keduanya berpisah ketika Teungku Peukan syahid dalam penyerangan ke tangsi Belanda di Blangpidie pada tahun 1926.

Perjuangan Teungku Peukan dalam melawan penjajahan Belanda berupa upaya untuk menanamkan semangat yang kuat dalam masyarakat agar mereka bersemangat dan membenci penjajah.

Strategi yang dilakukan dalam melawan Belanda secara sederhana adalah dengan menanamkan semangat jihad untuk kepentingan agama, memberikan motivasi kepada masyarakat agar tidak bekerja sama dengan Belanda, melakukan kampanye perang di rumah warga, berdakwah secara sembunyi-sembunyi, serta mampu memengaruhi dan membangkitkan semangat masyarakat untuk melawan Belanda.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *