Komparatif.ID, Banda Aceh– Di sudut kompleks Museum Aceh, berdiri sebuah rumah panggung kayu yang sudah lebih dari satu abad menyimpan cerita. Rumoh Aceh, bangunan tertua di kompleks museum tersebut, dibangun dari kayu pilihan tanpa satu pun paku besi. Struktur rumah diikat dengan pasak dan tali rotan, sebuah teknik yang masih bisa disaksikan langsung oleh pengunjung hingga hari ini.
Bangunan yang berlokasi di Jalan Sultan Mahmudsyah Nomor 10, Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, ini memiliki sejarah yang menarik. Awalnya, rumah ini merupakan Paviliun Aceh yang meraih penghargaan terbaik pada Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonstelling) di Semarang tahun 1914.
Setelah pameran usai, paviliun tersebut dibawa pulang ke Aceh dan kemudian dijadikan museum resmi di Banda Aceh. Rumah tipe Rumoh Lhee Rueueng atau tiga ruangan ini ditopang tiang-tiang kayu seumantok yang dikenal kokoh.
Rumoh Aceh sejatinya lebih dari sekadar tempat tinggal. Bagi masyarakat Aceh, rumah adat ini mencerminkan nilai sosial, adat istiadat, dan filosofi hidup yang diwariskan lintas generasi.
Bentuknya yang memanjang dari timur ke barat disebut membentuk garis imajiner menuju Ka’bah, sebagai wujud keyakinan penghuninya. Orientasi itu juga punya fungsi praktis, sebab angin badai di Aceh umumnya bertiup dari barat atau timur, sehingga sisi rumah yang menghadap dua arah tersebut membantu mengantisipasinya.
Dari sisi konstruksi, Rumoh Aceh berbentuk rumah panggung dengan tiang atau tameh yang diletakkan di atas batu besar yang rata. Ruang di bawah rumah dibuat cukup tinggi sehingga orang dewasa dapat melintas dengan leluasa.
Rancangan panggung ini berfungsi melindungi penghuni dari gangguan binatang buas dan banjir. Dindingnya terbuat dari papan keras berukir khas Aceh, sementara lantainya berupa papan yang hanya disematkan tanpa dipaku.
Dengan cara itu, papan mudah dilepas, termasuk saat prosesi memandikan jenazah, karena air dapat langsung mengalir ke tanah. Atapnya memakai daun rumbia yang ringan dan memberi efek sejuk, serta mudah dipotong jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
Baca juga: Gedung Juang Banda Aceh, Saksi Pengibaran Merah Putih Pertama di Aceh
Pembagian ruang di dalamnya pun memiliki makna. Bagian depan, atau serambi depan, menjadi tempat menerima tamu, terutama yang belum dikenal, sekaligus lokasi kenduri dan jamuan keagamaan.
Di bagian tengah terdapat jureë atau rumoh inong, ruang yang dianggap paling sakral dan berfungsi sebagai kamar tidur keluarga. Akses menuju ruang ini melalui rambat, koridor penghubung yang umumnya hanya dilalui keluarga atau kerabat dekat. Adapun bagian belakang dimanfaatkan sebagai ruang keluarga dan area memasak. Atap rumah, menurut tradisi, juga berfungsi menyimpan pusaka keluarga.
Pengunjung juga dapat mengamati sejumlah detail yang sarat filosofi. Pintu rumah dibuat setinggi sekitar 120 hingga 150 sentimeter, sehingga siapa pun yang masuk harus sedikit menunduk. Sikap ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada pemilik rumah tanpa memandang status sosial tamu.
Anak tangganya sengaja berjumlah ganjil, karena dalam adat Aceh angka ganjil dianggap unik dan sulit ditebak. Sementara itu, banyak sedikitnya ukiran pada dinding menandakan status ekonomi pemilik rumah, bukan luas bangunannya. Luas rumah justru dimaknai sebagai ruang berkumpulnya suka dan duka keluarga dalam satu atap.
Tradisi kepemilikan rumah juga mencerminkan kearifan lokal. Berdasarkan kitab adat Meukeuta Alam, rumah dan pekarangan menjadi milik anak perempuan atau ibu, dan tidak boleh dibelokkan dari hukum waris.
Jika keluarga bertambah, rumah dapat diperluas dengan ruang tambahan seperti anjong, atau berkembang menjadi rumah lima ruang, bahkan delapan ruang pada kalangan terpandang. Kitab yang sama juga mengatur pemasangan kain merah putih pada tiang utama, tameh raja dan tameh putroë, saat pembangunan dimulai.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh, Rumoh Aceh di kompleks Museum Aceh dapat menjadi pintu masuk untuk memahami budaya setempat. Lokasinya berada di kawasan pusat kota sehingga mudah dijangkau, dan pengunjung dapat melihat langsung arsitektur, ukiran, serta tata ruang yang selama ini hanya dikenal lewat cerita.
Pemahaman akan makna di balik setiap bagian rumah diharapkan membuat kunjungan tidak sekadar berfoto, tetapi juga mengenal nilai-nilai yang dijaga masyarakat Aceh dari generasi ke generasi.
Rumoh Aceh pada akhirnya menjadi pengingat bahwa warisan budaya tidak selalu berupa benda yang disimpan di balik kaca. Ia hadir sebagai bangunan nyata yang bisa dimasuki, diamati, dan dipelajari, serta terus menjadi simbol identitas masyarakat Aceh hingga kini.




