Saturday, 17 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Masjid Haji Keuchik Leumiek, Destinasi Religi Baru Banda Aceh

Masjid Haji Keuchik Leumiek, Destinasi Religi Baru
Masjid Haji Keuchik Leumiek. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Sebuah masjid di bantaran Sungai Krueng Aceh perlahan mencuri perhatian warga maupun pelancong. Masjid Haji Keuchik Leumiek, yang berdiri di Desa Lamseupeung, Kecamatan Lueng Bata, kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religi baru di Tanah Rencong.

Masjid Haji Keuchik Leumiek berada sekitar 20 menit berkendara dari pusat kota Banda Aceh. Meski tidak jauh dari keramaian, kawasan sekitarnya tetap asri. Pepohonan tinggi menaungi area masjid sehingga suasananya terasa sejuk dan tenang.

Setiap hari, terutama saat waktu salat tiba, masjid ini ramai dikunjungi warga. Sebagian datang untuk beribadah, sebagian lain sekadar menikmati ketenangan, membaca Al-Qur’an, atau mengabadikan momen dengan latar arsitektur masjid.

Di balik berdirinya Masjid Haji Keuchik Leumiek ada sosok Haji Harun, pengusaha sekaligus wartawan ternama di Aceh yang menjadi donatur utama pembangunan. Pembangunan dimulai pada pertengahan 2016 dan masjid diresmikan pada awal 2019, atau memakan waktu sekitar tiga tahun.

Masjid berdiri di atas lahan seluas 2.500 meter persegi di dalam Kompleks Balai Pengajian Haji Keuchik Leumiek, yang luas totalnya 3.500 meter persegi. Nama Keuchik Leumiek sendiri dipilih sebagai bentuk penghormatan Harun kepada ayahandanya. Masjid ini merupakan hibah perseorangan.

Dari sisi arsitektur, Masjid Haji Keuchik Leumiek berukuran 34 x 22 meter ini mengusung gaya Timur Tengah. Di beberapa bagian, rancangannya menyerupai Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi.

Bangunan ini memiliki satu kubah besar berwarna emas dan empat kubah berukuran lebih kecil, dengan satu menara menjulang di sampingnya. Kubah emas itu terlihat mencolok dari kejauhan, memantulkan cahaya matahari dan berpadu dengan ukiran kaligrafi yang halus. Di bagian dalam, kaligrafi berukuran besar menghiasi dinding depan, sementara lampu gantung di bawah kubah menambah kesan megah.

Letaknya di tepi Krueng Aceh menjadi nilai tambah tersendiri. Sungai ini sejak lama menjadi sumber kehidupan masyarakat Banda Aceh. Pada sore hari, saat matahari condong ke barat, bayangan masjid terpantul di permukaan air dan menghadirkan pemandangan yang menenangkan. Momen seperti ini kerap diburu pengunjung yang ingin berfoto atau sekadar duduk menikmati senja.

Baca juga: Menikmati Syahdunya Masjid Raya Baiturrahman

Di bagian depan masjid, berdiri rumah panggung khas Aceh yang dihiasi kaligrafi dan ukiran. Rumah ini difungsikan sebagai ruang belajar mengaji bagi anak-anak sekaligus wadah kreativitas remaja masjid. Keberadaannya menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal agama sekaligus budaya Aceh.

Masjid Haji Keuchik Leumiek, Destinasi Religi Baru
Masjid Haji Keuchik Leumiek. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Bagi pengunjung, fasilitas yang tersedia tergolong lengkap. Ada toilet bersih, tempat wudu yang luas, perpustakaan, serta gedung kegiatan yang kerap dipakai untuk santunan anak yatim, pengajian, hingga buka puasa bersama.

Masjid Haji Keuchik Leumiek juga menyediakan rumah singgah yang bisa dimanfaatkan wisatawan yang kemalaman atau musafir yang butuh beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Kebersihan lingkungan yang terjaga membuat pengunjung betah berlama-lama.

Aktivitas keagamaan di Masjid Haji Keuchik Leumiek pun berjalan rutin. Pengelola menggelar pengajian bulanan untuk kaum pria, majelis taklim untuk ibu-ibu, serta kelas mengaji bagi anak-anak mulai usia balita hingga 10 tahun.

Program-program tersebut berjalan tertib meski masjid dikelola dari hibah perseorangan, yang menunjukkan komitmen pengelola menjaga manfaatnya bagi umat.

Dengan perpaduan arsitektur, lokasi di tepi sungai, fasilitas yang memadai, dan kegiatan keagamaan yang hidup, Masjid Haji Keuchik Leumiek kini tidak sekadar menjadi tempat salat.

Masjid Haji Keuchik Leumiek kini berkembang menjadi destinasi wisata religi yang menyatukan unsur spiritual, estetika, dan budaya.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *