Home Khazanah Masjid Abu Beureueh, Monumen yang Berdiri Tanpa Proposal

Masjid Abu Beureueh, Monumen yang Berdiri Tanpa Proposal

Masjid Abu Beureueh, Monumen yang Berdiri Tanpa Proposal
Masjid A'la Lil Mujahidin (Masjid Abu Beureueh) di Kota Beureunuen, Pidie, Aceh. Foto: Komparatif.ID/Muhajir Juli.

Masjid Abu Beureueh atau nama aslinya Masjid A’la Lil Mujahidin berdiri gagah di tepi lintas nasional, Kota Beureunuen, Pidie, Aceh. Masjid ini dibangun bermodalkan sumbangan beras dan telur dari masyarakat. Kini menjadi saksi sejarah kekuatan rakyat di tengah kemelut perang setelah kemerdekaan Republik Indonesia.

Sabtu sore, 4 Juli 2026, sekitar pukul 17.15 WIB, Toyota Kijang LGX berkelir hitam yang saya sopir berhenti di halaman Masjid A’la Lil Mujahidin. Jamaah Salat Asar bagi penduduk mukmin telah berlalu, di area wudhu tidak ada orang yang sedang tueng ie seumayang (wudhu).

Mendung yang bergelayut sempurna menjadikan udara terasa agak dingin, sesuatu yang kontras dengan biasanya. Sebagai daerah pesisir di Selat Malaka, Beureunuen, selalu diliput cuaca panas.

Saya sudah berkali-kali singgah di Masjid Abu Beureueh. Bukan karena kepentingan ziarah, bersebab ada pusara sang ulama Ketua Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) di belakang Masjid. Tapi murni kepentingan melaksanakan salat fardhu ketika dalam perjalanan.

Beureunuen merupakan kota dagang. Di Kabupaten Pidie, pusat ekonomi selain di Sigli ya di Beureunuen. Di sini juga menjadi pusat grosir emping melinjo yang dalam bahasa Aceh disebut keurupuk mulieng. Perihal alasan mengapa Beureunuen yang dipilih menjadi pusat grosir, nanti saya tuliskan pada kesempatan lain.

Kembali ke perihal Masjid Abu Beureueh yang ikonik di sana. Setelah salat saya mengajukan pandangan ke atap limas yang dibuat dari kayu sirap. Di sana, Anda tidak akan menemukan kemewahan arsitektur modern ala Timur Tengah, tetapi Anda akan mencium bau keringat, keikhlasan, dan harga diri orang Aceh masa lalu.

Baca juga: Masjid Jogokariyan, Membebaskan Jamaah dari Masalah

Masjid ini adalah antitesis dari cara kita membangun rumah ibadah hari ini. Zaman sekarang, jangankan membangun masjid, memperbaiki pagar meunasah saja panitianya sibuk mengetik proposal, mencari relasi pejabat, lalu menunggu dana hibah turun.

Tapi cobalah lempar ingatan ke tahun 1950. Teungku Muhammad Daud Beureueh—tokoh karismatik yang kata-katanya didengar melampaui batas wilayah—menginisiasi pembangunan masjid ini. Modalnya apa? Bukan APBA, bukan pula sumbangan dari saudagar kaya. Modalnya adalah perlawanan kultural bernama gotong royong pangan.

Abu Beureueh meminta mak-mak di kampung yang mau menanak nasi untuk menyisihkan segenggam beras dari porsi harian mereka. Dikumpulkan dalam bambu atau kaleng. Tiap akhir pekan, beras dari saku rakyat kecil itu dibawa ke meunasah, dijual, lalu uangnya dibelikan semen. Bahkan, warga yang betul-betul miskin dan tidak punya simpanan beras, ikut membawa telur-telur ayam dari pekarangan rumah mereka sebagai sumbangan.

Dari sanalah fondasi awal masjid ini berdiri. Rumah ibadah ini dibangun dari keikhlasan isi dapur rakyat jelata.

Perjalanannya tentu tidak lurus-lurus saja. Dinamika politik Aceh yang kerap panas membakar membuat dinding masjid setinggi dada manusia sempat membisu selama sepuluh tahun. Ketika konflik DI/TII meletus pada 1953, Abu Beureueh naik ke gunung memimpin gerilya. Pembangunan mandek total. Besi-besi tua berkarat ditiup angin, menjadi saksi bisu bagaimana urusan vertikal antara daerah dan pusat bisa menghentikan mimpi sebuah peradaban.

Baru setelah ikrar damai tercapai di awal tahun 1960-an, urat nadi gotong royong itu berdenyut kembali. Warga kembali memanggul kayu, mengangkut batu pasir tanpa upah, sampai akhirnya selesai sepenuhnya pada 1973.

Secara kultural, arsitektur masjid ini adalah bentuk keteguhan identitas. Desainnya menolak seragam dengan pakem kubah bundar modern. Atap sirapnya dingin dan tenang, dikelilingi relief ukiran pucuk rebung khas Aceh. Sebuah simbol yang bermakna bahwa hidup harus selalu berguna bagi orang lain dan kokoh seperti bambu muda.

Di belakang tembok saf salat utama, terbaring jasad Abu Beureueh beserta istrinya. Ia tidur di bawah naungan kompleks masjid yang ia bangun bersama keringat rakyatnya.

Masjid Beureunuen ini mengajarkan satu hal fundamental kepada kita yang hidup di era serba proposal: peradaban Islam di Aceh itu pernah berjaya bukan karena isi dompetnya yang tebal, melainkan karena isi dada manusianya yang penuh dengan ketulusan dan harga diri.

Previous articleSingkirkan Paraguay 1-0, Prancis Amankan Tiket Perempat Final
Next articleBeasiswa Diploma Pertambangan Aceh 2026 Dibuka, Ini Syarat dan Jadwal Seleksinya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here